• Latest
Lelaki Penjual Es di Pinggir Jalan - d3eca075 cb8a 4d8d 9c42 fdc091f7c0bb | Puisi Essay | Potret Online

Lelaki Penjual Es di Pinggir Jalan

Maret 17, 2025
ab563845-de3b-41dc-9e33-c186ab123d81

Kartini: Pelopor Perempuan untuk Indonesia.

April 24, 2026
825dc53a-9479-4a3d-9c57-553e51642f7e

Hari Pertama yang Terakhir

April 24, 2026
87dee712-0548-433f-a26d-23c41a9e9f00

Gencatan Senjata Perang Iran yang Penuh Pelanggaran

April 24, 2026
085066ea-362a-46bd-8029-20b521d85ccd

Nama JK Semakin Berkibar Usai Nyenggol Ijazah Jokowi dan Dilaporkan Kader PSI ke Polisi

April 24, 2026
IMG_0518

Aceh Bisa Merdeka Tanpa GAM

April 24, 2026
Ilustrasi ayah dan anak bermain bersama menunjukkan peran ayah dalam perkembangan anak

Mengapa Ivan Illich Mengajak Kita Berhenti Memuja Sekolah

April 23, 2026
Ilustrasi kerumunan orang menatap ponsel di bawah panggung politik dengan figur pemimpin yang dikendalikan seperti boneka oleh tangan besar di atasnya, menggambarkan manipulasi, popularitas, dan hilangnya akal sehat dalam demokrasi.

Menuju Bangsa Goblok (MBG)

April 23, 2026
IMG_0914

Demokrasi Sebagai Dunia: Pergulatan Makna dalam Ruang Digital

April 23, 2026
Jumat, April 24, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Lelaki Penjual Es di Pinggir Jalan

Gunawan Trihantoro by Gunawan Trihantoro
Maret 17, 2025
in Puisi Essay, Refleksi
Reading Time: 2 mins read
0
Lelaki Penjual Es di Pinggir Jalan - d3eca075 cb8a 4d8d 9c42 fdc091f7c0bb | Puisi Essay | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS

Refleksi Spiritual dan Sosial di Bulan Ramadhan (12)

Oleh Gunawan Trihantoro
Sekretaris Komunitas Puisi Esai Jawa Tengah

Di sudut jalan yang tak terlalu ramai,
seorang lelaki paruh baya berdiri tegak,
mendorong gerobak kecil yang usang dimakan waktu,
di dalamnya, es batu berlapis kain tebal,
menjaga dinginnya tetap bertahan,
menemani sirup merah dan hijau dalam botol kaca.

Baca Juga
  • Koding, Kecerdasan Artifisial, dan Puisi Esai
  • Puisi Esai Kepahlawanan, Bangkitkan Nasionalisme Gen-Z

Di bulan Ramadhan yang penuh berkah,
ia tetap menjalankan ibadah dengan khidmat,
tak melewatkan sahur meski hanya segelas air putih,
dan sepotong roti yang dibelinya kemarin.
Adzan Subuh berkumandang,
ia sujud dengan syukur di tikar kecil dekat gerobaknya.


Anaknya, si kecil berambut ikal,
menghampiri dengan langkah riang.

Baca Juga
  • Munasabah dari Tanah yang Terendam: Iman, Amanah, dan Luka Ekologi Aceh
  • Ibnu Sina: Sang Cahaya dari Bukhara

“Ayah, hari ini jualannya banyak yang beli, kan?”
Suara polos itu menusuk hatinya,
ia ingin berkata iya,
tapi hari ini rezeki terasa begitu sepi.

“InsyaAllah, Nak. Rezeki itu datang dari Allah,”
jawabnya, menepuk kepala anaknya lembut,
senyum tetap ia pasang, meski hatinya gundah.

Baca Juga
  • Puisi Esai April: Perjuangan Perempuan‎ Marwah Perempuan Yang Menolak Dijarah
  • Sujud Terakhir di Sepertiga Malam

Anaknya tertawa kecil,
kemudian berlari ke dalam rumah kontrakan sempit,
tempat ibunya tengah menyiapkan takjil sederhana,
teh manis hangat dan sepotong pisang goreng.


Senja turun perlahan,
orang-orang mulai bersiap berbuka,
dan ia masih berdiri di tepi jalan,
menunggu satu-dua pembeli datang.

Azan Maghrib berkumandang,
dan hanya beberapa rupiah terkumpul di tangannya.
Ia memejamkan mata, menarik napas dalam,
lalu mendorong gerobaknya pulang,
dengan harapan esok akan lebih baik.

Di rumah, si kecil menyambutnya,
dengan gelas air yang telah disiapkan.

“Ayah, ayo berbuka,”
katanya riang, seolah tak peduli berapa banyak uang yang ayahnya bawa.

Ia tersenyum lagi, kali ini lebih dalam.
Bersama anak dan istrinya,
ia menutup mata, berdoa dengan sepenuh hati:

“Ya Allah, kuatkan kami.
Lapangkan rezeki kami.
Jangan biarkan harapan kami pudar di jalan ini.”

Malam itu, ia kembali berjualan setelah Tarawih,
di sudut jalan yang lebih ramai,
di mana orang-orang membeli es untuk melepas dahaga setelah ibadah panjang.
Dan di sana, ia kembali menanam harapan,
di bawah langit Ramadhan yang penuh berkah.


Rumah Kayu Cepu, 12 Maret 2025.

Share234SendTweet146Share
Gunawan Trihantoro

Gunawan Trihantoro

Gunawan Trihantoro adalah seorang penulis kelahiran Purwodadi tahun 1974. Ia merupakan alumni Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) yang mulai aktif menulis sejak masa kuliahnya. Karya-karyanya telah terbit di berbagai media cetak dan online. Gunawan aktif dalam berbagai komunitas kepenulisan, termasuk Satupena, Kreator Era AI, dan Komunitas Puisi Esai Jawa Tengah. Selain itu, ia juga berkontribusi sebagai penulis buku-buku naskah umum keagamaan dan moderasi beragama di Kementerian Agama RI selama periode 2022–2024. Hingga kini, Gunawan telah menghasilkan puluhan buku, baik sebagai penulis tunggal maupun penulis bersama, yang memperkuat reputasinya sebagai salah satu penulis produktif di bidangnya.

Next Post
Lelaki Penjual Es di Pinggir Jalan - CFDCC9DE 10AF 480D 9946 43AEFE60A1F2 | Puisi Essay | Potret Online

🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com