POTRET Online POTRET
  • Home
  • Artikel
  • Potret Budaya ⌄
    • Puisi
    • Cerpen
    • Esai
  • Pendidikan
  • Video
  • Esai
  • Opini
  • Aceh
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Cerpen
  • Perempuan
  • Podcast
  • ✍ Kirim Tulisan
Home Puisi Essay

Lelaki Penjual Es di Pinggir Jalan

Gunawan Trihantoro by Gunawan Trihantoro
Maret 17, 2025
in Puisi Essay, Refleksi
0
Lelaki Penjual Es di Pinggir Jalan - d3eca075 cb8a 4d8d 9c42 fdc091f7c0bb | Puisi Essay | Potret Online

Refleksi Spiritual dan Sosial di Bulan Ramadhan (12)

Oleh Gunawan Trihantoro
Sekretaris Komunitas Puisi Esai Jawa Tengah

Di sudut jalan yang tak terlalu ramai,
seorang lelaki paruh baya berdiri tegak,
mendorong gerobak kecil yang usang dimakan waktu,
di dalamnya, es batu berlapis kain tebal,
menjaga dinginnya tetap bertahan,
menemani sirup merah dan hijau dalam botol kaca.

9c8d4f49-64b2-49bc-ae3b-b0ceba62a8b4
Baca Juga
Puisi Essay
Secarik Surat dari Pencuri
17 Jun 2026

Di bulan Ramadhan yang penuh berkah,
ia tetap menjalankan ibadah dengan khidmat,
tak melewatkan sahur meski hanya segelas air putih,
dan sepotong roti yang dibelinya kemarin.
Adzan Subuh berkumandang,
ia sujud dengan syukur di tikar kecil dekat gerobaknya.


Anaknya, si kecil berambut ikal,
menghampiri dengan langkah riang.

Baca Juga
Puisi Essay
Perbatasan yang Merintih
27 Jul 2025

“Ayah, hari ini jualannya banyak yang beli, kan?”
Suara polos itu menusuk hatinya,
ia ingin berkata iya,
tapi hari ini rezeki terasa begitu sepi.

“InsyaAllah, Nak. Rezeki itu datang dari Allah,”
jawabnya, menepuk kepala anaknya lembut,
senyum tetap ia pasang, meski hatinya gundah.

Lelaki Penjual Es di Pinggir Jalan - 94e8d667 4801 4d8a 83e0 289ce48469cf | Puisi Essay | Potret Online
Baca Juga
Puisi Essay
Selembar Mukena di Ujung Malam
08 Mar 2025

Anaknya tertawa kecil,
kemudian berlari ke dalam rumah kontrakan sempit,
tempat ibunya tengah menyiapkan takjil sederhana,
teh manis hangat dan sepotong pisang goreng.


Senja turun perlahan,
orang-orang mulai bersiap berbuka,
dan ia masih berdiri di tepi jalan,
menunggu satu-dua pembeli datang.

Azan Maghrib berkumandang,
dan hanya beberapa rupiah terkumpul di tangannya.
Ia memejamkan mata, menarik napas dalam,
lalu mendorong gerobaknya pulang,
dengan harapan esok akan lebih baik.

Di rumah, si kecil menyambutnya,
dengan gelas air yang telah disiapkan.

“Ayah, ayo berbuka,”
katanya riang, seolah tak peduli berapa banyak uang yang ayahnya bawa.

Ia tersenyum lagi, kali ini lebih dalam.
Bersama anak dan istrinya,
ia menutup mata, berdoa dengan sepenuh hati:

“Ya Allah, kuatkan kami.
Lapangkan rezeki kami.
Jangan biarkan harapan kami pudar di jalan ini.”

Malam itu, ia kembali berjualan setelah Tarawih,
di sudut jalan yang lebih ramai,
di mana orang-orang membeli es untuk melepas dahaga setelah ibadah panjang.
Dan di sana, ia kembali menanam harapan,
di bawah langit Ramadhan yang penuh berkah.


Rumah Kayu Cepu, 12 Maret 2025.

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
Next Post
Lelaki Penjual Es di Pinggir Jalan - CFDCC9DE 10AF 480D 9946 43AEFE60A1F2 | Puisi Essay | Potret Online

🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

POTRET Online POTRETOnline
Kontributor Tentang Kami Redaksi 1000 Sepeda

© 2026 POTRET Online. Seluruh hak cipta dilindungi.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah