• Latest
Kalijambe: Elegi Rem yang Menangis - 2025 05 09 13 50 20 | Musibah | Potret Online

Kalijambe: Elegi Rem yang Menangis

Mei 9, 2025
9fdb3c1c-1879-4f8c-9aa8-02113678bceb

Warisan Musik Aceh dari Gampong Padang Manggeng

April 21, 2026
Ilustrasi siluet pasangan dengan hati retak melambangkan cemburu, konflik emosional, dan hubungan yang rapuh

Cemburu Membunuh Perempuan

April 21, 2026
Kalijambe: Elegi Rem yang Menangis - 1001348646_11zon | Musibah | Potret Online

Kisah Perempuan – Lubna dari Córdoba

April 21, 2026
Kalijambe: Elegi Rem yang Menangis - 1001353319_11zon | Musibah | Potret Online

Fatimah al-Fihri, Pendiri Universitas Tertua

April 21, 2026
3753a9dd-0c43-46a6-9577-711a7479d4d5

Misogini Genital (Di) Kartini Digital

April 21, 2026
IMG_0878

Perempuan di Titik Klimaks

April 21, 2026
Kalijambe: Elegi Rem yang Menangis - 1001361361_11zon | Musibah | Potret Online

Kisah Perempuan POTRET – Zaynab bint al-Kamal

April 21, 2026
d2a5b58f-c424-41eb-91dc-d0a057017eda

Menguak Kenangan Orkes Mekar Melati Manggeng dan Para Musisi Muda

April 21, 2026
Selasa, April 21, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Kalijambe: Elegi Rem yang Menangis

Gunawan Trihantoro by Gunawan Trihantoro
Mei 9, 2025
in Musibah, Puisi Essay
Reading Time: 4 mins read
0
Kalijambe: Elegi Rem yang Menangis - 2025 05 09 13 50 20 | Musibah | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS

Oleh Gunawan Trihantoro
Ketua Satupena Kabupaten Blora dan Sekretaris Komunitas Puisi Esai Jawa Tengah

Sebanyak 11 orang tewas usai truk menabrak angkot di Purworejo, Jawa Tengah. Para korban tewas merupakan rombongan guru SD asal Mendut, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang, yang hendak takziah. [1}


Mereka berangkat dengan tas berisi doa, bukan kapur.
Tiga mobil mengangkut guru-guru dari SD ITQ As Syafi’iyah, penjaga huruf-huruf Alif hingga Ya.

Baca Juga
  • Pengantar Buku Puisi Esai “ Karena Perempuan, Aku Di-Cancel
  • Nyadran di Tanah Doplang

Di kursi belakang, Siti Nur Rodiyah masih memegang kertas daftar nama murid yang akan diuji esok.
“Kita hanya sebentar,” bisik Aulia Anggi, menyelipkan sebungkus kue untuk keluarga yang berduka.

Angkot itu bergerak pelan, seperti anak didik mereka yang baru belajar mengeja.
Tapi jalanan Purworejo-Magelang adalah guru yang kejam:
di Desa Kalijambe, di tikungan yang membisu, truk bermuatan pasir B 9970 BYZ datang membawa hukum gravitasi.

Baca Juga
  • Bangku Besi Perampas Kehidupan
  • Merayakan Kemerdekaan Daripada yang Mana Daripada Siapa Nyang Merdeka

Remnya menangis, tapi tak ada yang mendengar.
“Kenapa kita berhenti?”
“Itu bukan lampu merah, Bu Guru. Itu langit yang runtuh.”

-000-

Baca Juga
  • Kepiting Dalam Baskom
  • Luka yang Menjadi Cahaya

Di RSUD Tjokronegoro, lima perempuan dan satu lelaki berbaring dengan rapor terakhir:
nilai kesabaran sempurna, keikhlasan tanpa catatan.

Dokter Sastro Supadi membisikkan laporan ke langit-langit kamar mayat:
“Enam jiwa. Lima perempuan. Satu lelaki. Semua dari angkot yang ringsek”.

Di seberang kota, RSUD Tjitrowardoyo menerima lima tubuh lagi.
Seorang perempuan pemilik rumah, yang dindingnya kini jadi saksi bisu, masih menggenggam sapu di ruang gawat darurat.

Sapunya tak bisa membersihkan noda besi yang melekat di dinding.
Di antara mereka ada Melani Septiani Putri, yang pagi tadi masih mengajar doa Asmaul Husna. Kini, 99 nama-Nya terpatri luka di dahinya.

-000-

Pendopo SD ITQ As Syafi’iyah menjadi ruang ujian tanpa kunci jawaban.
Bhineke Giandika, seorang wali murid, memandang jam dinding yang berhenti di pukul 11:00.

“Mobil ketiga pasti terlambat,” gumamnya, tapi telepon genggam hanya mengulang nada sibuk.
Di sudut lain, seorang anak menggambar tiga mobil di buku tulis.

Dua di antaranya ia coret dengan pensil merah.
“Yang ini pulangnya lewat jalan lain, kan Bu?”
Guru-guru yang tersisa memandang papan tulis kosong.

Di sana tertulis kalimat terakhir sebelum berangkat:
“Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan jalannya ke surga.”

Tapi hari ini, jalanan menjawab dengan bahasa berbeda.

-000-

“Aku hanya ingin berhenti,” rintih truk bermuatan pasir itu pada aspal yang meleleh.
“Tapi remku adalah puisi yang terpotong.”

Pengemudinya, yang kini jadi tawanan kursi roda, berbisik pada penyidik:
“Di tanjakan itu, pedalku menjadi sajak yang patah”.

Di TKP, polisi mengukur jejak yang bukan jejak. Tak ada garis hitam pengereman, hanya serpihan kaca yang berkilau seperti bintang jatuh.

“Ini bukan kecelakaan,” kata seorang akademisi di berita televisi, “ini pertemuan antara angin yang lupa pada sayapnya”.

-000-

Mereka dikuburkan dengan tiga baris data:
Siti Nur Rodiyah, Guru kelas 3, ahli membuat anak-anak tertawa saat menghafal
Edi Sunaryo, Sopir angkot yang selalu mengingatkan murid pakai helm
Naely Nur Sa’diyah, Wanita yang rajin menyisihkan gaji untuk perpustakaan
… sampai 11 bait yang terpotong.

Di nisan mereka, keluarga menulis:
“Di sini terbaring seorang guru yang mengajar hingga detik terakhir, bahkan kematian pun harus antri mengambil ilmunya.”

-000-

Kini, di tikungan Kalijambe, warga memasang plang dari kayu bekas truk:
“Hati-hati, di sini, 11 guru mengajar kita tentang arti kepergian.”

Setiap malam, suara rem blong masih terdengar, bukan dari truk, tapi dari langit yang menangis untuk rombongan takziah yang tak sampai tujuan.


Rumah Kayu Cepu, 9 Mei 2025

CATATAN:
[1] Puisi esai ini ditulis dari kejadian 11 Korban Tewas di Purworejo Rombongan Guru SD yang Hendak Takziah sebagaimana yang diberitakan di https://news.detik.com/berita/d-7903870/11-korban-tewas-di-purworejo-rombongan-guru-sd-yang-hendak-takziah

• Kecelakaan melibatkan truk B 9970 BYZ dengan rem blong menabrak angkot berisi guru SD ITQ As Syafi’iyah.
• 11 korban tewas termasuk 6 orang di RSUD Tjokronegoro dan 5 di RSUD Tjitrowardoyo .
• Korban merupakan rombongan takziah ke KH Barzakki di Purworejo.
• Nama-nama korban termasuk Melani Septiani Putri dan Siti Nur Rodiyah.

Dan, puisi esai ini adalah monumen untuk 11 guru yang perjalanannya terpotong di tikungan Sejarah, di mana rem yang menangis harusnya jadi pelajaran, bukan epitaf.

Share234SendTweet146Share
Gunawan Trihantoro

Gunawan Trihantoro

Gunawan Trihantoro adalah seorang penulis kelahiran Purwodadi tahun 1974. Ia merupakan alumni Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) yang mulai aktif menulis sejak masa kuliahnya. Karya-karyanya telah terbit di berbagai media cetak dan online. Gunawan aktif dalam berbagai komunitas kepenulisan, termasuk Satupena, Kreator Era AI, dan Komunitas Puisi Esai Jawa Tengah. Selain itu, ia juga berkontribusi sebagai penulis buku-buku naskah umum keagamaan dan moderasi beragama di Kementerian Agama RI selama periode 2022–2024. Hingga kini, Gunawan telah menghasilkan puluhan buku, baik sebagai penulis tunggal maupun penulis bersama, yang memperkuat reputasinya sebagai salah satu penulis produktif di bidangnya.

Next Post
Kalijambe: Elegi Rem yang Menangis - 3520c459 a7d6 4820 bcc2 768804aa67ef | Musibah | Potret Online

Haji dan Dua Kota Suci: Miniatur Perjalanan Kehidupan

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com