• Latest
Ironi Papua

Ironi Papua

Mei 18, 2025
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
ae400032-4021-4ade-8568-70d981b74d63

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Ironi Papua

Paulus Laratmase by Paulus Laratmase
Mei 18, 2025
in #Papua, Artikel
Reading Time: 2 mins read
0
Ironi Papua
593
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook


Oleh Paulus Laratmase
–
Judul di atas merupakan ekpresi ide yang melintas, ketika seorang aktivis NGO mengirim gambar yang merepresentasikan kondisi objektif Papua. Ia pun menelpon dan menceritakan apa yang dialaminya sebagai seorang Anak Asli Papua yang diperlakukan tidak sesuai harapan yang didengar bahwa trilyunan rupiah sudah banyak beredar sejak tahun 2021 saat dibelakukan UU No 21 Tahun 2001.

Opini ini ditulis atas apa yang diceritakan tanpa pretensi subjektif penulis.
Papua adalah paradoks menyakitkan dalam wajah Indonesia yang majemuk. Di atas tanah yang mengandung emas dan sumber daya alam berlimpah, hidup rakyat yang termarjinalkan secara sistematis. Ironi Papua bukan suara perlawanan, melainkan jeritan yang mencerminkan luka kolektif sebuah bangsa yang terus dipinggirkan.

Di balik kilauan emas Freeport dan proyek-proyek infrastruktur raksasa yang dibanggakan pemerintah pusat, rakyat Papua tetap berkutat dengan kemiskinan, keterbatasan akses, dan diskriminasi.
Kondisi objektif di Papua hari ini menunjukkan ketimpangan yang begitu mencolok. Menurut data BPS 2024, Papua masih menempati posisi tertinggi dalam angka kemiskinan nasional, dengan lebih dari 20% penduduknya hidup di bawah garis kemiskinan. Ini terjadi bukan karena orang Papua malas atau tidak mampu mengelola tanahnya, melainkan karena kebijakan negara selama puluhan tahun telah menyingkirkan mereka dari pengambilan keputusan dan penguasaan sumber daya.

Baca Juga

20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026


Pembangunan di Papua selama ini lebih banyak berorientasi pada kepentingan strategis dan ekonomi elite nasional dan internasional. Proyek-proyek pertambangan dan perkebunan skala besar sering kali berdiri di atas tanah adat tanpa persetujuan yang sah dari masyarakat lokal. Ironisnya, masyarakat yang tanahnya dirampas justru tidak mendapat manfaat berarti dari kehadiran industri-industri itu. Mereka tersingkir dari ruang hidupnya sendiri, kehilangan akses terhadap tanah, hutan, sungai, dan sumber kehidupan lainnya.


Di bidang pendidikan dan kesehatan, Papua masih tertinggal jauh. Akses terhadap layanan dasar ini masih sangat terbatas, terutama di wilayah pedalaman. Banyak sekolah yang kekurangan guru dan fasilitas, sementara layanan kesehatan masih terkonsentrasi di kota-kota besar. Negara hadir dengan proyek-proyek besar, tetapi absen dalam menyediakan kebutuhan dasar rakyat Papua. Bahkan kehadiran aparat keamanan sering kali menimbulkan ketakutan alih-alih perlindungan, memperparah trauma kolektif yang sudah diwariskan dari generasi ke generasi.


Di balik semua itu, sistem politik Indonesia masih meminggirkan suara orang Papua. Otonomi khusus yang dijanjikan sebagai jalan keluar justru menimbulkan problem baru: korupsi elite lokal, birokrasi yang tidak berpihak pada rakyat, dan lemahnya pengawasan. Sementara itu, aspirasi politik yang berbeda seringkali dibungkam dengan kekerasan dan stigma separatis.


Ketimpangan ini bukanlah kebetulan atau kesalahan teknis. Ia adalah hasil dari perancangan sistematis, di mana eksploitasi dibungkus dengan narasi pembangunan. Selama negara gagal melihat orang Papua sebagai subjek utama pembangunan, tentu bukan hanya objek yang harus diatur dan dikendalikan yang berdampak pada ketidakadilan yang akan terus berulang.


Kondisi objektif Papua hari ini adalah cerminan dari kebijakan negara yang belum berpihak pada rakyat asli. Orang Papua tersingkir dari tanahnya sendiri, hak-haknya direduksi, dan kemiskinan yang mereka alami adalah hasil dari ketimpangan struktural yang dibiarkan terjadi. Selama sistem ini tidak diubah, Papua akan tetap jadi ladang emas bagi segelintir orang, bukan rumah yang adil bagi pemilik sahnya.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 337x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 298x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 248x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 238x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 192x dibaca (7 hari)
ADVERTISEMENT
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare237Tweet148
Paulus Laratmase

Paulus Laratmase

Pimpinan Umum Suara Anak Negerinews.com, Direktur Eksekutif LSM Santa Lusia dan Dosen Filsafat di Politeknik Kesehatan Kemenkes Jayapura, Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Biak, Sekolah Tinggi Agama Kristen OIKUMENE Biak Papua.

Baca Juga

0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5
Puisi

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff
# Kebijakan Trump

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542
Artikel

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518
Artikel

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
Next Post
Malaysia Hebat, Raih Dua Gelar di Thailand Open

Malaysia Hebat, Raih Dua Gelar di Thailand Open

HABA Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Mei

Mei 10, 2025

Pemenang Lomba Menulis – Edisi Agustus 2025

September 10, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    886 shares
    Share 354 Tweet 222
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    872 shares
    Share 349 Tweet 218
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    671 shares
    Share 268 Tweet 168
POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com