Dengarkan Artikel
Oleh: Anies Septivirawan
Sinar matahari sore nyaris redup. Berwarna jingga. Syahdan, berganti rembang petang. Saya duduk bersila di atas lincak/amben bersama seorang guru tari topeng yang juga menurut saya, ia adalah budayawan lokal yang lahir di di Situbondo, Jawa Timur. Dialah Hosnatun yang kerap disapa Cak Tutun.
Kami berdua mulai berbincang sersan (serius tapi santai) tentang rumah khas Situbondo. Dan dilanjutkan dengan wawancanda (wawancara sembari bercanda).
Cak Tutun pun memulainya,
”Semasa kecil, saya sering ikut kakek ketika membangun rumah milik warga keturunan Tionghoa atau China di pelosok – pelosok desa di Situbondo. Karena kakek saya dulu tukang membuat rumah. Nah, ketika kakek saya mau buat rumah di sekitar pelabuhan Kalbut, di sana membuat rumah “pacenan”. Bahasa pacenan ini adalah dialek. Ketika motif – motif rumah itu ditelusuri, ornamennya ada tiga macam. Ada macam Mandarin, China. Ada macam Kadhulung, madhure , juga ada macam Jepara. Nah, ternyata rumah pacenan itu orang China yang menggarap, jadi rumah “pacenan” itu berasal dari kata pacena- an, jadi yang mendesain rumah tersebut adalah orang – orang China yang datang ke Situbondo berabad-abad lalu,” papar Hosnatun.
Hosnatun juga mengatakan bahwa, pada suatu saat ia akan menggelar sebuah acara workshop dan akan mengundang seluruh pekerja seni dan praktisi budaya di Situbondo untuk mengupas rumah khas Situbondo.
”Khususnya para guru bidang seni budaya akan saya kumpulkan, dan semoga bupati Situbondo akan mendukung acara ini,” tandas pria berusia 75 tahun ini memecah keheningan malam di rumahnya.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






