POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Hari Kebebasan Pers di Tengah “Matinya Jurnalisme”

Rosadi JamaniOleh Rosadi Jamani
May 4, 2025
Hari Kebebasan Pers di Tengah “Matinya Jurnalisme”
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Rosadi Jamani

Walau sudah lama tak jadi jurnalis, namun jiwa jurnalisme saya masih membara. Jari ini selalu gatal untuk menulis ketimpangan sosial. Zaman sudah berubah, banyak media tutup. Apakah ini gejela “matinya jurnalisme?” Sambil seruput kopi, mari kita bedah Hari Kebebasan Pers.

Setiap 3 Mei 2025, Hari Kebebasan Pers. Tapi alih-alih pesta, mari kita kirim karangan bunga. Karena jurnalisme, sahabat kita yang dulu lantang dan tegas, kini telah tiada. Mati pelan-pelan. Tanpa headline. Tanpa breaking news. Tanpa suara sirene. Ia meninggal di antara berkas PHK, memo internal, dan notifikasi “akun ini telah diverifikasi”.

Jurnalisme bukan dibunuh dalam satu malam. Ia disayat perlahan oleh pisau-pisau halus bernama efisiensi, algoritma, dan self-branding. Siapa butuh media sekarang? Narasumber sudah bisa jadi penyiar, redaktur, editor, sekaligus bintang utama, semua dari satu ringlight dan akun Instagram. Menteri tak perlu wawancara, cukup vlog. Polisi tak perlu konferensi pers, cukup TikTok. Lembaga cukup punya channel YouTube dan admin yang bisa main Canva.

Lantas, jurnalis? Mereka jadi pengikut yang memantau akun resmi, menanti rilis, lalu menulis ulang dengan judul yang bisa bersaing dengan konten gosip dan giveaway. Investigasi? Terlalu mahal. Narasi kritis? Tak ada sponsor. Maka kita lihat berita macam, “Anak Kucing Jatuh dari Kasur, Netizen Gemas” dilengkapi galeri dan infografis.

Sementara itu, tsunami PHK melanda ruang redaksi. Kompas TV? 150 orang dirumahkan. CNN Indonesia TV? 200 karyawan pulang tanpa naskah perpisahan. MNC Group? 400 jiwa kehilangan ID card redaksi. Republika, TVRI, Viva.co.id, semuanya satu per satu menutup pintu bagi para penjaga kebenaran.

Ada yang bilang ini disrupsi digital. Tapi lebih tepatnya ini pembantaian institusional. Dulu, wartawan digadang-gadang sebagai pilar demokrasi. Kini, mereka lebih dekat ke status pengangguran terdidik. Dulu wartawan mengangkat suara rakyat. Kini, mereka malah sibuk memperbaiki CV dan mencari kerja di bidang “content strategy” atau “public relation” bekerja untuk pihak yang dulu mereka kritisi.

📚 Artikel Terkait

DELEGASI FORKAPPSI, DIJAMU MAKAN BAJAMBA DI SUMATERA BARAT

Untaian Sajak Cut Riska Ramazaniar

Poo Makna

Empat Pulau Kembali ke Aceh: Kemenangan Marwah Daerah, Kekalahan Geng Solo

Ironi? Bukan. Ini tragedi. Tragikomedi malah. Sebab di tengah krisis ini, kita masih merayakan “Hari Kebebasan Pers” seolah semuanya baik-baik saja. Seolah jurnalisme tak sedang diinfus. Padahal, yang bebas sekarang bukanlah pers, tapi personal account. Yang viral bukan kebenaran, tapi siapa yang paling pandai menari dengan nada algoritma.

Kita menyaksikan dunia di mana CEO bisa langsung berkhotbah lewat LinkedIn tanpa takut dipelintir wartawan. Di mana bintang sinetron lebih dipercaya sebagai sumber informasi medis. Di mana pejabat menyebut “hoaks” lebih cepat dari media bisa mengecek fakta.

Lalu apa kabar jurnalis? Mereka yang tersisa kini harus multitugas, mengetik, mengambil gambar, ngedit, posting, bikin caption, bales komentar, sambil menahan lapar karena honor belum cair. Mereka bukan lagi wartawan, tapi war-tawan yang berperang setiap hari demi bertahan hidup di industri yang bahkan lupa siapa yang dulu membesarkannya.

Namun seperti biasa, harapan selalu jadi ending favorit. Masih ada mereka yang menulis demi nurani, bukan trending. Masih ada ruang-ruang kecil di mana jurnalisme belum sepenuhnya padam, media komunitas, blog jujur, akun-akun kecil yang lebih peduli pada fakta dari FYP. Mereka tak besar. Tapi mereka adalah lilin terakhir dalam ruang yang makin gelap.

Mari kita rayakan Hari Kebebasan Pers 2025 bukan dengan seremonial, tapi dengan kesadaran, bahwa jika kita tak menjaga jurnalisme hari ini, besok yang akan mati bukan sekadar profesi, tapi kemampuan kita membedakan kebenaran dari kebohongan.

Selamat jalan, Jurnalisme. Semoga engkau tidak hanya dikenang sebagai korban zaman, tapi kelak bangkit sebagai suara nurani yang tak bisa dibungkam.

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Rosadi Jamani

Rosadi Jamani

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Kuliah Tanpa Beban: Kritik Terhadap Klaim Kuliah yang Terlalu Mudah

Dari Panggung Media ke Kursi Kekuasaan: Pelajaran Bangsa tentang Memilah Popularitas dan Integritas

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00