POTRET Online POTRET
  • Home
  • Artikel
  • Potret Budaya ⌄
    • Puisi
    • Cerpen
    • Esai
  • Pendidikan
  • Video
  • Esai
  • Opini
  • Aceh
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Cerpen
  • Perempuan
  • Podcast
  • ✍ Kirim Tulisan
Home # Ironi

Hari Kebebasan Pers di Tengah “Matinya Jurnalisme”

Rosadi Jamani by Rosadi Jamani
Mei 4, 2025
in # Ironi, jurnalistik, Media, Media Cetak, media online, Media Perempuan
0
Hari Kebebasan Pers di Tengah “Matinya Jurnalisme” - 2025 05 04 07 18 20 | # Ironi | Potret Online

Oleh Rosadi Jamani

Walau sudah lama tak jadi jurnalis, namun jiwa jurnalisme saya masih membara. Jari ini selalu gatal untuk menulis ketimpangan sosial. Zaman sudah berubah, banyak media tutup. Apakah ini gejela “matinya jurnalisme?” Sambil seruput kopi, mari kita bedah Hari Kebebasan Pers.

Setiap 3 Mei 2025, Hari Kebebasan Pers. Tapi alih-alih pesta, mari kita kirim karangan bunga. Karena jurnalisme, sahabat kita yang dulu lantang dan tegas, kini telah tiada. Mati pelan-pelan. Tanpa headline. Tanpa breaking news. Tanpa suara sirene. Ia meninggal di antara berkas PHK, memo internal, dan notifikasi “akun ini telah diverifikasi”.

Baca Juga
  • Hari Kebebasan Pers di Tengah “Matinya Jurnalisme” - c4924c1e 8cf3 400a bcfb 605e44422e0a | # Ironi | Potret Online
    # Ironi
    Kerusakan Negeri dan Azab yang Menanti
    05 Mei 2025
  • Hari Kebebasan Pers di Tengah “Matinya Jurnalisme” - Guru | # Ironi | Potret Online
    # Ironi
    Krisis Literasi: Ratusan Siswa SMP Tidak Bisa Membaca
    18 Apr 2025

Jurnalisme bukan dibunuh dalam satu malam. Ia disayat perlahan oleh pisau-pisau halus bernama efisiensi, algoritma, dan self-branding. Siapa butuh media sekarang? Narasumber sudah bisa jadi penyiar, redaktur, editor, sekaligus bintang utama, semua dari satu ringlight dan akun Instagram. Menteri tak perlu wawancara, cukup vlog. Polisi tak perlu konferensi pers, cukup TikTok. Lembaga cukup punya channel YouTube dan admin yang bisa main Canva.

Lantas, jurnalis? Mereka jadi pengikut yang memantau akun resmi, menanti rilis, lalu menulis ulang dengan judul yang bisa bersaing dengan konten gosip dan giveaway. Investigasi? Terlalu mahal. Narasi kritis? Tak ada sponsor. Maka kita lihat berita macam, “Anak Kucing Jatuh dari Kasur, Netizen Gemas” dilengkapi galeri dan infografis.

Baca Juga
  • 01
    Artikel
    Sindiran Terhadap Nabi Umat Islam
    21 Nov 2016
  • 02
    # Ironi
    🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH
    06 Jul 2025

Sementara itu, tsunami PHK melanda ruang redaksi. Kompas TV? 150 orang dirumahkan. CNN Indonesia TV? 200 karyawan pulang tanpa naskah perpisahan. MNC Group? 400 jiwa kehilangan ID card redaksi. Republika, TVRI, Viva.co.id, semuanya satu per satu menutup pintu bagi para penjaga kebenaran.

Ada yang bilang ini disrupsi digital. Tapi lebih tepatnya ini pembantaian institusional. Dulu, wartawan digadang-gadang sebagai pilar demokrasi. Kini, mereka lebih dekat ke status pengangguran terdidik. Dulu wartawan mengangkat suara rakyat. Kini, mereka malah sibuk memperbaiki CV dan mencari kerja di bidang “content strategy” atau “public relation” bekerja untuk pihak yang dulu mereka kritisi.

Baca Juga
  • Hari Kebebasan Pers di Tengah “Matinya Jurnalisme” - 2ad7f848 46bb 4d98 b947 a39461a61b8b 1 | # Ironi | Potret Online
    # Ironi
    HABA Si PATok
    02 Mei 2025
  • 02
    -#Judi online
    Budi Arie Setiadi Unfollow
    15 Sep 2025

Ironi? Bukan. Ini tragedi. Tragikomedi malah. Sebab di tengah krisis ini, kita masih merayakan “Hari Kebebasan Pers” seolah semuanya baik-baik saja. Seolah jurnalisme tak sedang diinfus. Padahal, yang bebas sekarang bukanlah pers, tapi personal account. Yang viral bukan kebenaran, tapi siapa yang paling pandai menari dengan nada algoritma.

Kita menyaksikan dunia di mana CEO bisa langsung berkhotbah lewat LinkedIn tanpa takut dipelintir wartawan. Di mana bintang sinetron lebih dipercaya sebagai sumber informasi medis. Di mana pejabat menyebut “hoaks” lebih cepat dari media bisa mengecek fakta.

Lalu apa kabar jurnalis? Mereka yang tersisa kini harus multitugas, mengetik, mengambil gambar, ngedit, posting, bikin caption, bales komentar, sambil menahan lapar karena honor belum cair. Mereka bukan lagi wartawan, tapi war-tawan yang berperang setiap hari demi bertahan hidup di industri yang bahkan lupa siapa yang dulu membesarkannya.

Namun seperti biasa, harapan selalu jadi ending favorit. Masih ada mereka yang menulis demi nurani, bukan trending. Masih ada ruang-ruang kecil di mana jurnalisme belum sepenuhnya padam, media komunitas, blog jujur, akun-akun kecil yang lebih peduli pada fakta dari FYP. Mereka tak besar. Tapi mereka adalah lilin terakhir dalam ruang yang makin gelap.

Mari kita rayakan Hari Kebebasan Pers 2025 bukan dengan seremonial, tapi dengan kesadaran, bahwa jika kita tak menjaga jurnalisme hari ini, besok yang akan mati bukan sekadar profesi, tapi kemampuan kita membedakan kebenaran dari kebohongan.

Selamat jalan, Jurnalisme. Semoga engkau tidak hanya dikenang sebagai korban zaman, tapi kelak bangkit sebagai suara nurani yang tak bisa dibungkam.

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Previous Post

Wisuda Siswa, Antara Tradisi dan Beban Orangtua

Next Post

Dari Panggung Media ke Kursi Kekuasaan: Pelajaran Bangsa tentang Memilah Popularitas dan Integritas

Next Post
Hari Kebebasan Pers di Tengah “Matinya Jurnalisme” - 99840128 d4ca 41aa a17a 4104b004adac | # Ironi | Potret Online

Dari Panggung Media ke Kursi Kekuasaan: Pelajaran Bangsa tentang Memilah Popularitas dan Integritas

POTRET Online POTRETOnline
Kontributor Tentang Kami Redaksi 1000 Sepeda

© 2026 POTRET Online. Seluruh hak cipta dilindungi.

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah