Minggu, April 19, 2026

‎Menulis Itu Mudah, Semudah Bernafas, Semudah Ngentut  

‎Menulis Itu Mudah, Semudah Bernafas, Semudah Ngentut   - IMG 20250226 WA0002 | Artikel | Potret Online
Ilustrasi: ‎Menulis Itu Mudah, Semudah Bernafas, Semudah Ngentut  



‎Oleh: Anies Septivirawan

‎Aktivitas menulis adalah aktivitas yang mudah dilakukan oleh siapa saja, namun bisa juga menjadi sebuah aktivitas yang sulit  bagi mereka yang tidak dikaruniai bakat dari Tuhan sejak lahir. 

‎Mereka yang dikaruniai bakat menulis (fiksi dan non-fiksi) oleh Tuhan sejak ia lahir, pasti mereka akan menyambut kehadiran bakat itu dengan penuh suka cita, juga cinta.

‎Mereka juga akan menganggap kehadiran sang bakat itu adalah teman dekat, atau bahkan sang”kekasih” .  Bakat  atau yang mungkin dalam bahasa Inggris adalah talent itu pasti akan mereka rawat  dalam ruang tekad.

‎Mereka bertekad dan berjanji akan memuliakan bakat itu yang suatu saat pasti si bakat juga akan memuliakan mereka, sang “kekasih” bakat.

‎Namun, untuk merawat dan menumbuhkembangkan bakat yang telah menempel pada batin, hati dan jiwa mereka, tidaklah semudah membalikkan telapak tangan.

‎Mereka butuh kedisiplinan, butuh keberlangsungan untuk mengembangkan bakat menulis menjadi sebuah profesi bagi masa depan yang akan memberikan profit (keuntungan) bagi mereka. 

‎Dan bagi mereka yang telah berhasil mengembangkan karunia bakat menulis dari Tuhan,  urusan menulis adalah urusan mudah, semudah  menghela nafas, semudah menghirup udara kemudian menghembuskannya,  semudah mengeluarkan angin atau ngentut  lalu  gas berbau tidak sedap itu menari-nari di udara. 

‎Mereka yang sudah akrab dan intim dengan bakat menulis,  pastilah di dalam ruang batin, hati dan jiwa mereka selalu dirasuki racun yang bernama kegelisahan. 

‎Kemudian ada upaya untuk mengusir rasa tidak nyaman itu.  Ada rencana untuk menabuh genderang perang, demi memusnahkan segerombolan kekecewaan yang menjelma kegelisahan mereka dengan cara menulis.

‎Syahdan, di sela-sela kecamuk perang antara kegelisahan yang menghimpit hati dengan bakat itu, mereka dihampiri bala bantuan yang bernama inspirasi. Inspirasi itu mendobrak keras atas monster – monster mengerikan yang berjalan seperti barisan zombie berlumuran darah di film – film besutan Hollywood.

‎Barisan zombie berlumuran darah nan bertaring jelmaan kegelisahan hati itupun terkapar menggelepar di atas tanah kering kerontang, nyaris ditelan bumi gersang,

‎Mereka, sang pemilik bakat menulis pun mulai dihinggapi kemudahan – kemudahan untuk menuangkan  ide – ide, pendapat atau opininya dalam kemasan tulisan apa saja.  Semuanya menjadi mudah, semudah bernafas , semudah mengeluarkan gas berbau tidak sedap atau yang lazim disebut kentut.

Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Majalah Perempuan Aceh

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Terbaru

Artikel terbaru untuk dibaca

Populer

Artikel yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Add New Playlist