Dengarkan Artikel
Oleh: TM Zulfikar*)
Setiap 21 April, bangsa ini mendadak menjadi pencinta emansipasi. Kartini seakan bangkit dari kubur hanya untuk disuruh pakai kebaya, difoto, lalu dikirim ke Instagram dengan tagar #HariKartini. Begitu hari berlalu, semangatnya ikut dikubur kembali, mungkin bersama sisa lipstik dan pin bendera kecil di dada.
Padahal Kartini menulis surat-surat yang membakar semangat berpikir. Tapi kini, yang terbakar hanyalah kuota saat scrolling TikTok. Dulu Kartini ingin perempuan bisa belajar, kini banyak yang merasa cukup belajar dari caption motivasi selebgram.
Hiperbola? Mungkin. Tapi lihat saja: perempuan cerdas masih harus menjelaskan bahwa menikah bukan satu-satunya prestasi. Perempuan karier dituduh melawan kodrat, sementara yang memilih jadi ibu rumah tangga dianggap tidak produktif. Emansipasi berubah jadi kompetisi: siapa paling ideal menurut standar patriarki yang dikemas cantik.
Kartini pasti geleng-geleng kepala melihat itu semua. Mungkin, jika masih hidup, ia sudah membuat podcast atau jadi aktivis Twitter, memperjuangkan kesetaraan dengan hashtag yang menggigit.
📚 Artikel Terkait
Tapi harapan belum hilang. Kartini ada di mana-mana—di guru yang sabar mengajar di pelosok, di ibu yang mengasuh sambil kuliah malam, di gadis-gadis muda yang memilih jalan berbeda walau dipandang miring. Kartini sejati tidak butuh panggung, cukup ruang untuk berpikir dan bersuara.
Jadi, mari rayakan Kartini bukan cuma dengan kebaya, tapi juga keberanian berpikir dan bertindak. Karena emansipasi bukan kostum musiman. Ia adalah nyala yang seharusnya tak pernah padam—meski listrik PLN mati.
*)Pemerhati Sosial dan Lingkungan
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






