Dengarkan Artikel
Seorang teman mengirim pesan singkat, “bang Riza mundur”, sambil dia kirimkan link instagram sebuah media. Setelah membaca isi berita itu, saya segera meminta klrarifikasi dari yang bersangkutan melalui grup ngopi kami. Grup whatsapp yang di isi para penikmat kopi dan senang berolahraga.
Setelah link saya share di grup, berbagai respon hadir. Tak lama setelah itu, redaksi POTRET mencoba menghubungi Riza untuk ngopi dan berbincang. Namun awak media lain mencegah. Di tengah jalan, Riza berbalik arah. Sekitar 23:00 WIB, barulah Riza muncul di hadapan redaksi. Sambil ngopi kami berbincang sekitar 30 menit.
Sosok Riza Syahputra ini memang unik. Ditawarin jabatan dia malah enggan. Redaksi pernah melihat dan mendengar langsung saat tim salah seorang Dirut BAS datang menggombal Riza. Saat itu mereka ingin Riza mengisi posisi Humas BAS. Beberapa kali Riza menolak dengan alasan beragam. Namun, salah satu kelemahan Riza mereka dapatkan. Apa itu? mereka meminta tolong, Riza tidak mampu menolak ketika ada yang meminta tolong jika ia mampu menolong.
Cerita itu berlanjut, Riza diangkat menjadi Kabag Humas BAS, Riza menjalankan tupoksinya dengan baik. Bahkan ketika pemecatan Muhammad Syah, Riza mampu menstabilkan situasi melalui jaringannya yang luas. BAS selamat dari gonjang-ganjing politik yang kerap menghambat kinerja bank plat merah itu.
Riza juga mampu meredam pihak-pihak yang ingin unjuk rasa. Pada saat itu para bos sibuk menghubunginya, para bos ketakutan, dan Riza dijadikan tameng bagi mereka yang duduk di kursi empuk kepemimpinan BAS. Namun Riza tidak bergeming karena itu membantu bank tempatnya berbakti. Bukan membantu geng A dan B.
📚 Artikel Terkait
Lalu, mengapa Riza mundur dari posisi yang sebenarnya sangat diminati karyawan BAS. Melalui wawancara singkat redaksi mendapati beberapa hal. Pertama, Riza tidak ingin ikut dalam pembelahan internal BAS, antara gerbong Hendra maupun Fadhil. Menurutnya, BAS milik rakyat Aceh bukan milik kedua Plt itu. Kisruh plt Dirut BAS terjadi juga bukan tanpa sebab. Penelusuran kami, sikap OJK, Komisaris serta pemerintah Aceh berkontribusi besar pada dualisme kepemimpinan di BAS.
Pengunduran diri Riza bagi kami bukan hal yang mengejutkan. Paaalnya, selain taat aturan, Riza sosok pemersatu gerombolan di BAS. Barangkali dia sudah tidak mampu lagi mewaraskan kelompok-kelompok di internal BAS. Riza pastinya ingin BAS tumbuh dan berkembang menjadi bank sehat. Sayangnya, beberapa oknum di BAS memahami bank syariah bukan bank bagi hasil namun bagi kekuasaan.
Wajar bila dualisme kepemimpinan BAS menyebabkan Riza tak mau dijadikan bola bagi pihak-pihak yang haus kekuasaan. Kedua, redaksi menafsirkan pengunduran Riza merupakan ikhtiar memperbaiki tata kelola perbankan. Pengunduran dirinya diharapkan dapat membuka mata pemerintah Aceh dan OJK serta komisaris agar jangan lagi bertarung untuk hal yang tidak perlu.
Dirut BAS siapapun boleh, hal utama adalah BAS bebas dari kepentingan syahwat politik yang menghancurkan karakter BAS. Pandangan itu yang selalu dimiliki Riza, namun pandangan itu tak sejalan dengan gerombolan internal BAS yang sangat bernafsu. Pertarungan mereka tidak berbasis kepentingan perbankan namun kepentingan diri dan kelompok.
Redaksi sempat bertanya, selain hal itu apalagi penyebab dirinya mundur. Riza bungkam. Masih saja dirinya melindungi para oknum yang merusak citra BAS. Namun demikian, redaksi dapat menyimpulkan bahwa penyebab utama Riza mundur adalah plin-plannya pemegang saham, komisaris yang tidak netral, OJK yang tidak profesional dan kelonpok internal yang bernafsu berkuasa. Akumulasi semua itu mengakibatkan Riza berpikir waras dengan memilih mundur dari jabatan Humas BAS. Wallahualam.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






