• Latest
Kisah Seorang Ibu, Anaknya “Dikebiri” dan Cucu Tanpa Nisan - 1000514125_11zon | # Ironi | Potret Online

Kisah Seorang Ibu, Anaknya “Dikebiri” dan Cucu Tanpa Nisan

April 18, 2025
Ilustrasi siluet pasangan dengan hati retak melambangkan cemburu, konflik emosional, dan hubungan yang rapuh

Cemburu Membunuh Perempuan

April 21, 2026
Kisah Seorang Ibu, Anaknya “Dikebiri” dan Cucu Tanpa Nisan - 1001348646_11zon | # Ironi | Potret Online

Kisah Perempuan – Lubna dari Córdoba

April 21, 2026
Kisah Seorang Ibu, Anaknya “Dikebiri” dan Cucu Tanpa Nisan - 1001353319_11zon | # Ironi | Potret Online

Fatimah al-Fihri, Pendiri Universitas Tertua

April 21, 2026
3753a9dd-0c43-46a6-9577-711a7479d4d5

Misogini Genital (Di) Kartini Digital

April 21, 2026
IMG_0878

Perempuan di Titik Klimaks

April 21, 2026
Kisah Seorang Ibu, Anaknya “Dikebiri” dan Cucu Tanpa Nisan - 1001361361_11zon | # Ironi | Potret Online

Kisah Perempuan POTRET – Zaynab bint al-Kamal

April 21, 2026
d2a5b58f-c424-41eb-91dc-d0a057017eda

Menguak Kenangan Orkes Mekar Melati Manggeng dan Para Musisi Muda

April 21, 2026
de2293cc-7c03-4d26-8a68-a4db3f4d65b4

Sinergi Fiskal Syariah: Navigasi Zakat Perdagangan di Era Mata Uang Modern

April 21, 2026
Selasa, April 21, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Kisah Seorang Ibu, Anaknya “Dikebiri” dan Cucu Tanpa Nisan

Rosadi Jamani by Rosadi Jamani
April 18, 2025
in # Ironi
Reading Time: 4 mins read
0
Kisah Seorang Ibu, Anaknya “Dikebiri” dan Cucu Tanpa Nisan - 1000514125_11zon | # Ironi | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS

Oleh Rosadi Jamani

Seorang follower saya, namanya Siti Fatimah, umur 57 tahun. Ia curhat lewat email perihal anak dan cucunya yang malang. Ia frustrasi sudah ngadu ke sana ke mari. Ia hubungi saya dengan harapan ceritanya bisa dibaca publik. Saya coba narasikan kisah sedihnya dengan gaya “aku”.

Aku hanya seorang perempuan tua yang setiap hari bangun pukul enam pagi, menyingsingkan lengan meski sendi-sendi tubuhku telah menjerit, dan kembali ke rumah pukul enam sore dengan tubuh seperti keranda yang dipikul sendiri.

Baca Juga
  • Norsan dan Kekuatan Politik Tingkat Dewa
  • Inflasi Gelar, Defisit Dampak: Mengapa Profesor Gagal Mempercepat Transformasi Aceh di Era Global?

Aku berusia 57 tahun. Pada usia ini, aku kira sudah pernah merasakan pahit getir hidup. Tapi ternyata Tuhan, atau barangkali sistem yang mengaku Tuhan, masih punya cara baru untuk mencabik-cabik hatiku.

Anakku… anak perempuanku… dia perempuan manis yang punya riwayat jantung. Seorang yang lemah secara medis, tapi tangguh dalam hidup. Ketika tahu dirinya hamil, ia tidak gentar. “Biarlah, Bu,” katanya padaku, “ini rezeki dari Allah.”

Baca Juga
  • Budi Arie Setiadi Unfollow
  • 🚩🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

Kami tahu itu berisiko. Tapi kehamilan itu adalah anugerah. Jika harus pergi karena mengandung nyawa baru, ia siap. Aku pun siap. Bukankah surga itu di bawah telapak kaki ibu?

Tapi rupanya… di negeri ini, “rahim perempuan bisa disita tanpa surat, tanpa diskusi, tanpa ampun.

Baca Juga
  • Surat Cinta untuk Pendidikan yang Katanya Prioritas
  • BENGKEL OPINI RAKyat

Kami pergi ke RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Rumah sakit besar. Ternama. Katanya penuh dokter hebat. Penuh prosedur. Penuh aturan. Tapi kami lupa, kami orang kecil. Di hadapan sistem yang mengutamakan efisiensi dari empati, orang kecil tidak dihitung sebagai manusia.

Anakku mengalami terminasi kandungan. Anakku kehilangan bayinya. Cucu yang kami tunggu, wafat. Tapi belum cukup sampai di situ.

Tanpa izin dari kami, tanpa tanda tangan, tanpa persetujuan, tanpa sekadar menatap mata kami, mereka memutuskan untuk mensterilkan anakku.

Perempuan yang kehilangan anak, lalu bangun dari operasi dan tahu bahwa rahimnya kini hanya rongga kosong yang tak akan pernah dihuni lagi. Ia tidak bisa hamil lagi. Ia tidak bisa memberi cucu lagi. Ia… diputus dari kodratnya oleh orang-orang yang mengaku menolong.

Dan kami?

Kami tidak diberi tahu.

Aku Berlari Mencari Keadilan

Aku sudah datang ke:

  • RSUD Dr. Soetomo
  • Kantor Kepolisian sampai Mabes
  • Kantor Gubernur Jawa Timur
  • Majelis Disiplin Profesi

Setiap surat kubuat dengan uang hasil kerja banting tulang. Setiap pintu kudatangi dengan kaki renta dan harapan yang makin hari makin menyusut. Tapi tak satu pun memberi jawab.

Seolah-olah… anakku bukan korban, melainkan gangguan. Seolah-olah… kami tidak layak didengarkan karena kami bukan siapa-siapa.

Aku tidak datang untuk menuntut balas. Aku tidak ingin penjara. Aku tidak ingin uang ganti rugi. Aku hanya ingin kebenaran diakui. Aku ingin mereka yang menyentuh tubuh anakku tanpa hak mengakui kesalahan. Aku ingin cucuku, yang pergi sebelum sempat menangis pertama kali, mendapat keadilan yang tak bisa kuberi dalam bentuk kubur. Aku ingin anakku tahu, bahwa tubuhnya bukan milik negara. Bukan milik rumah sakit. Bukan milik siapa-siapa kecuali dirinya sendiri.

Aku Menulis Ini… Karena Aku Tahu Suaraku Tak Lagi Cukup

Aku menulis kepada Bang Ros. Seorang yang mungkin suaranya lebih keras dari langkahku yang pincang. Aku menulis karena aku tidak bisa lagi mengetuk pintu-pintu yang digembok oleh birokrasi dan kekuasaan.

Aku bukan pahlawan.
Aku bukan martir.
Aku hanya seorang ibu yang kehilangan segalanya, tapi tetap memohon agar anak-anak orang miskin tidak lagi dijadikan objek percobaan, atau lebih buruk: korban yang diredam.

Kepada Para Pembaca:

Jika kalian membaca ini, jangan abaikan. Jangan anggap ini cerita lain dari sudut kota. Ini adalah kenyataan. Ini adalah luka yang menganga. Ini adalah cerita tentang bagaimana sistem yang dibangun atas nama kemanusiaan bisa berubah menjadi mesin pencabut hak-hak dasar perempuan.

Hari ini anakku yang dikebiri tanpa izin.
Hari ini cucuku yang dikubur tanpa nisan.
Tapi besok… bisa jadi giliran anakmu.

camanewa

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Share234SendTweet146Share
Rosadi Jamani

Rosadi Jamani

Ketua Satupena Kalbar

Next Post
Kisah Seorang Ibu, Anaknya “Dikebiri” dan Cucu Tanpa Nisan - b047f686 866e 43d5 8945 46323d377e75 | # Ironi | Potret Online

Ditendang dari Panggung, Tapi Balik Lagi Bawa Palu Godam

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com