POTRET Online POTRET
  • Home
  • Artikel
  • Potret Budaya ⌄
    • Puisi
    • Cerpen
    • Esai
  • Pendidikan
  • Video
  • Esai
  • Opini
  • Aceh
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Cerpen
  • Perempuan
  • Podcast
  • ✍ Kirim Tulisan
Home # Ironi

Kisah Seorang Ibu, Anaknya “Dikebiri” dan Cucu Tanpa Nisan

Rosadi Jamani by Rosadi Jamani
April 18, 2025
in # Ironi
0
Kisah Seorang Ibu, Anaknya “Dikebiri” dan Cucu Tanpa Nisan - 1000514125_11zon | # Ironi | Potret Online

Oleh Rosadi Jamani

Seorang follower saya, namanya Siti Fatimah, umur 57 tahun. Ia curhat lewat email perihal anak dan cucunya yang malang. Ia frustrasi sudah ngadu ke sana ke mari. Ia hubungi saya dengan harapan ceritanya bisa dibaca publik. Saya coba narasikan kisah sedihnya dengan gaya “aku”.

Aku hanya seorang perempuan tua yang setiap hari bangun pukul enam pagi, menyingsingkan lengan meski sendi-sendi tubuhku telah menjerit, dan kembali ke rumah pukul enam sore dengan tubuh seperti keranda yang dipikul sendiri.

Baca Juga
  • Kisah Seorang Ibu, Anaknya “Dikebiri” dan Cucu Tanpa Nisan - 2025 06 27 11 21 49 | # Ironi | Potret Online
    # Ironi
    Mengenal Zohran Mamdani yang Dituduh Trump Komunis
    27 Jun 2025
  • Kisah Seorang Ibu, Anaknya “Dikebiri” dan Cucu Tanpa Nisan - 2025 05 02 10 56 44 | # Ironi | Potret Online
    # Ironi
    Surat Cinta untuk Pendidikan yang Katanya Prioritas
    02 Mei 2025

Aku berusia 57 tahun. Pada usia ini, aku kira sudah pernah merasakan pahit getir hidup. Tapi ternyata Tuhan, atau barangkali sistem yang mengaku Tuhan, masih punya cara baru untuk mencabik-cabik hatiku.

Anakku… anak perempuanku… dia perempuan manis yang punya riwayat jantung. Seorang yang lemah secara medis, tapi tangguh dalam hidup. Ketika tahu dirinya hamil, ia tidak gentar. “Biarlah, Bu,” katanya padaku, “ini rezeki dari Allah.”

Baca Juga
  • Kisah Seorang Ibu, Anaknya “Dikebiri” dan Cucu Tanpa Nisan - 8c6c3610 1313 42ff acf9 0033eeac413b | # Ironi | Potret Online
    # Gaji Guru
    151 SD Gurunya Mogok Ngajar Gara-gara TPP Dipotong
    18 Sep 2025
  • Kisah Seorang Ibu, Anaknya “Dikebiri” dan Cucu Tanpa Nisan - 1000889612_11zon | # Ironi | Potret Online
    # Ironi
    Belajar Dari Kasus Nadiem Makarim
    05 Sep 2025

Kami tahu itu berisiko. Tapi kehamilan itu adalah anugerah. Jika harus pergi karena mengandung nyawa baru, ia siap. Aku pun siap. Bukankah surga itu di bawah telapak kaki ibu?

Tapi rupanya… di negeri ini, “rahim perempuan bisa disita tanpa surat, tanpa diskusi, tanpa ampun.

Baca Juga
  • 01
    # Ironi
    🚩🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH
    04 Jan 2026
  • 02
    # Ironi
    BENGKEL OPINI RAKyat
    06 Apr 2025

Kami pergi ke RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Rumah sakit besar. Ternama. Katanya penuh dokter hebat. Penuh prosedur. Penuh aturan. Tapi kami lupa, kami orang kecil. Di hadapan sistem yang mengutamakan efisiensi dari empati, orang kecil tidak dihitung sebagai manusia.

Anakku mengalami terminasi kandungan. Anakku kehilangan bayinya. Cucu yang kami tunggu, wafat. Tapi belum cukup sampai di situ.

Tanpa izin dari kami, tanpa tanda tangan, tanpa persetujuan, tanpa sekadar menatap mata kami, mereka memutuskan untuk mensterilkan anakku.

Perempuan yang kehilangan anak, lalu bangun dari operasi dan tahu bahwa rahimnya kini hanya rongga kosong yang tak akan pernah dihuni lagi. Ia tidak bisa hamil lagi. Ia tidak bisa memberi cucu lagi. Ia… diputus dari kodratnya oleh orang-orang yang mengaku menolong.

Dan kami?

Kami tidak diberi tahu.

Aku Berlari Mencari Keadilan

Aku sudah datang ke:

  • RSUD Dr. Soetomo
  • Kantor Kepolisian sampai Mabes
  • Kantor Gubernur Jawa Timur
  • Majelis Disiplin Profesi

Setiap surat kubuat dengan uang hasil kerja banting tulang. Setiap pintu kudatangi dengan kaki renta dan harapan yang makin hari makin menyusut. Tapi tak satu pun memberi jawab.

Seolah-olah… anakku bukan korban, melainkan gangguan. Seolah-olah… kami tidak layak didengarkan karena kami bukan siapa-siapa.

Aku tidak datang untuk menuntut balas. Aku tidak ingin penjara. Aku tidak ingin uang ganti rugi. Aku hanya ingin kebenaran diakui. Aku ingin mereka yang menyentuh tubuh anakku tanpa hak mengakui kesalahan. Aku ingin cucuku, yang pergi sebelum sempat menangis pertama kali, mendapat keadilan yang tak bisa kuberi dalam bentuk kubur. Aku ingin anakku tahu, bahwa tubuhnya bukan milik negara. Bukan milik rumah sakit. Bukan milik siapa-siapa kecuali dirinya sendiri.

Aku Menulis Ini… Karena Aku Tahu Suaraku Tak Lagi Cukup

Aku menulis kepada Bang Ros. Seorang yang mungkin suaranya lebih keras dari langkahku yang pincang. Aku menulis karena aku tidak bisa lagi mengetuk pintu-pintu yang digembok oleh birokrasi dan kekuasaan.

Aku bukan pahlawan.
Aku bukan martir.
Aku hanya seorang ibu yang kehilangan segalanya, tapi tetap memohon agar anak-anak orang miskin tidak lagi dijadikan objek percobaan, atau lebih buruk: korban yang diredam.

Kepada Para Pembaca:

Jika kalian membaca ini, jangan abaikan. Jangan anggap ini cerita lain dari sudut kota. Ini adalah kenyataan. Ini adalah luka yang menganga. Ini adalah cerita tentang bagaimana sistem yang dibangun atas nama kemanusiaan bisa berubah menjadi mesin pencabut hak-hak dasar perempuan.

Hari ini anakku yang dikebiri tanpa izin.
Hari ini cucuku yang dikubur tanpa nisan.
Tapi besok… bisa jadi giliran anakmu.

camanewa

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Previous Post

Rahasia di Balik Mundurnya Humas BAS

Next Post

Ditendang dari Panggung, Tapi Balik Lagi Bawa Palu Godam

Next Post
Kisah Seorang Ibu, Anaknya “Dikebiri” dan Cucu Tanpa Nisan - b047f686 866e 43d5 8945 46323d377e75 | # Ironi | Potret Online

Ditendang dari Panggung, Tapi Balik Lagi Bawa Palu Godam

POTRET Online POTRETOnline
Kontributor Tentang Kami Redaksi 1000 Sepeda

© 2026 POTRET Online. Seluruh hak cipta dilindungi.

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah