Artikel · Potret Online

Ganti Menteri Ganti Kurikulum: Kapan Kita Punya Stabilitas Pendidikan?

Penulis  Ririe Aiko
April 18, 2025
2 menit baca 265
Ganti Menteri Ganti Kurikulum: Kapan Kita Punya Stabilitas Pendidikan? - cd34353e 5c30 4100 8eb5 e8f722c93362 | Artikel | Potret Online
Foto / IlustrasiGanti Menteri Ganti Kurikulum: Kapan Kita Punya Stabilitas Pendidikan?

Fenomena “ganti menteri, ganti kurikulum” telah menjadi pola yang nyaris lumrah dalam sistem pendidikan Indonesia. Setiap pergantian kepemimpinan di Kementerian Pendidikan seolah membawa semangat revolusi kurikulum yang, alih-alih menjawab persoalan mendasar, justru menyisakan kebingungan dan ketidaksiapan di lapangan. Siklus adaptasi yang tak kunjung usai ini menggerus energi para guru dan peserta didik, menciptakan ruang kelas yang lebih sibuk mengejar pemahaman teknis daripada substansi pembelajaran yang bermakna.

Pertanyaannya sederhana namun krusial: jika kita terus menerus berada dalam fase adaptasi, kapan kita bisa merealisasikan kurikulum yang berbasis pada stabilitas dan keberlanjutan pendidikan?

Sudah saatnya Indonesia bercermin pada sistem pendidikan negara-negara maju seperti Jepang dan Swedia. Dua negara ini dikenal dengan stabilitas kurikulumnya, yang tidak berubah setiap kali menteri baru menjabat. Mereka memegang teguh prinsip bahwa pendidikan bukan laboratorium kebijakan politik, melainkan proses jangka panjang yang menuntut konsistensi, evaluasi mendalam, serta keterlibatan aktif para pendidik dan pemangku kepentingan.

Di Jepang, kurikulum nasional ditetapkan oleh MEXT (Ministry of Education, Culture, Sports, Science and Technology) dan hanya direvisi setiap sepuluh tahun sekali. Revisi tersebut dilakukan melalui proses panjang berbasis riset dan melibatkan akademisi, guru, serta masyarakat. Fokus utama pendidikan Jepang terletak pada penguatan karakter, literasi dasar, kedisiplinan, dan tanggung jawab sosial, nilai-nilai yang diajarkan secara konsisten lintas generasi.

Sementara itu, Swedia menerapkan kurikulum nasional Läroplan yang terakhir diperbarui secara menyeluruh pada tahun 2011, dengan penyempurnaan minor yang dilakukan secara berkala berdasarkan hasil evaluasi. Kurikulumnya berbasis kompetensi dan menekankan pada berpikir kritis, kemandirian, inklusivitas, serta kesejahteraan siswa. Guru di Swedia juga diberi otonomi tinggi dalam menentukan metode pengajaran, sehingga mereka lebih fokus pada proses pembelajaran yang kontekstual dan bermakna.

Indonesia, sayangnya, masih terjebak dalam paradigma kurikulum sebagai proyek: setiap tahun lahir kurikulum baru dengan jargon revolusioner, disertai pelatihan kilat dan penyerapan anggaran miliaran rupiah. Namun, hasilnya sering kali tak berbanding lurus. Sistem pendidikan tetap kopong, dan peserta didik justru lebih akrab dengan budaya joget-joget di media sosial ketimbang literasi dan numerasi.

Pendidikan yang kuat lahir dari kesinambungan, bukan dari perubahan yang tergesa-gesa. Kita memerlukan kurikulum yang tahan uji zaman, yang membentuk karakter dan daya pikir anak bangsa, bukan kurikulum tambal sulam yang silih berganti. Maka, mari berhenti menjadikan kurikulum sebagai alat kosmetik politik. Saatnya fokus pada kualitas, bukan kuantitas perubahan.

penulis Riri Aiko

✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Ririe Aiko adalah seorang penulis dan pegiat literasi asal Bandung yang dikenal karena konsistensinya dalam menyuarakan isu-isu kemanusiaan melalui karya sastra, khususnya puisi esai. Sejak remaja, ia telah menjadikan dunia menulis sebagai rumahnya. Ia mulai dikenal pada 2006 lewat karya pertamanya Senorita yang memenangkan Lomba Penulisan Naskah TV di Tabloid Gaul dan kemudian diadaptasi menjadi FTV oleh salah satu stasiun televisi nasional. Perjalanan kepenulisan Ririe berakar dari genre horor dan roman, dua dunia yang memberinya ruang untuk menggali sisi gelap dan getir kehidupan. Cerpen-cerpen horornya bahkan sering menjadi trending dan memenangkan penghargaan di berbagai platform, termasuk Arum Kencana yang menjuarai lomba cerpen Elex Novel. Namun di tengah jejak panjang fiksi populernya, Ririe justru menemukan makna baru dalam genre puisi esai—sebuah ruang tempat ia bisa bersuara lebih lantang tentang luka sosial, ketidakadilan, dan harapan yang tertindas. Pada 2024, Ririe menerbitkan buku antologi pertamanya yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama berjudul KKN, sebuah karya kolaboratif yang mempertemukannya dengan pembaca lebih luas. Setahun kemudian, ia menerbitkan buku puisi esai mini bertajuk Sajak dalam Koin Kehidupan (2025), sebagai tonggak awal perjalanannya menapaki genre puisi esai secara lebih mendalam. Tak berhenti di sana, ia menantang dirinya untuk menulis puisi esai setiap hari selama 30 hari di bulan Ramadhan—yang kini tengah dirangkai menjadi buku puisi esai mini bertajuk Airmata Ibu Pertiwi. Ririe juga merupakan Founder Gerakan Literasi Bandung, sebuah inisiatif yang bertujuan menumbuhkan kembali kecintaan anak-anak terhadap buku di era digital. Melalui program berbagi buku, kelas kreatif, dan kegiatan literasi berbasis komunitas, ia membangun jembatan antara dunia literasi dan tantangan teknologi masa kini. Selain menulis, Ririe aktif sebagai kreator video berbasis Artificial Intelligence, menjelajah cara-cara baru dalam menyampaikan pesan melalui medium visual. Baginya, menulis bukan sekadar merangkai kata, melainkan menyalakan cahaya kecil di tengah gelapnya kenyataan—cara untuk berdamai, berjuang, dan tetap bertahan di dunia yang sering kali bisu terhadap suara-suara kecil.
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...