POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Al Ghazali: Sang Hujjatul Islam

RedaksiOleh Redaksi
March 22, 2025
Al Ghazali: Sang Hujjatul Islam
🔊

Dengarkan Artikel

Cahaya Ilmuwan Muslim, Warisan yang Abadi (2)

Oleh Gunawan Trihantoro
(Sekretaris Komunitas Puisi Esai Jawa Tengah)

Al-Ghazali adalah salah satu ahli hukum Islam, teolog, dan pemikir mistik terbesar. Ia mempelajari berbagai cabang ilmu agama Islam tradisional di kota kelahirannya Tus, Gurgan, dan Nishapur di bagian utara Iran. Ia juga terlibat dalam praktik Sufi sejak usia dini. Setelah diakui oleh Nizam al-Mulk, wazir sultan Seljuk, ia diangkat menjadi kepala Sekolah Tinggi Nizamiyyah di Baghdad pada tahun 484 H/1091 M. [1]


Di bawah langit Tus yang kelam,
di mana angin gurun membisikkan rahasia zaman,
seorang anak lahir dari rahim kesederhanaan.
Namanya, Al-Ghazali
kelak akan menjadi lentera di tengah gelapnya keraguan,
penjaga hikmah di antara riuh rendah perdebatan.

-000-

“Mengapa langit begitu luas, Ayah?” tanyamu suatu malam,
sementara tangan kecilmu memegang erat jubahnya yang lusuh.
Ayahmu, pemintal wol, hanya tersenyum,
matanya berkaca-kaca, seolah tahu bahwa pertanyaanmu
bukan sekadar tentang langit,
tapi tentang makna yang tersembunyi di baliknya.

Di Tus, kota kecil di Persia,
kau tumbuh seperti tunas yang haus cahaya.
Ayahmu wafat, meninggalkan warisan yang tak ternilai:
“Carilah ilmu, Nak,
karena ia adalah jalan menuju Yang Maha Tahu.”
Kau pegang erat wasiat itu,
seperti burung memeluk angin untuk terbang.

-000-

Baghdad, kota megah di abad ke-11,
tempat para filsuf dan ulama bersilang pedang,
di mana akal dan wahyu bertarung dalam gelanggang pemikiran.
Kau datang sebagai pelajar,
tapi segera menjadi sang guru
di usia muda, kau telah memimpin madrasah Nizamiyah,
tempat para pencari ilmu berbondong-bondong mendengar wejanganmu.

Tapi, di balik kemilau nama dan kedudukan,
hatimu gelisah.
“Apakah semua ini cukup?” bisik jiwamu suatu malam,
ketika lampu-lampu Baghdad mulai padam.
“Apakah ilmu yang kau ajarkan telah menyentuh hakikat,
atau hanya sekadar permainan kata-kata?”

📚 Artikel Terkait

Gagal Bisnis? Never Give Up Dong

SEANDAINYA AKU TAK MENJADI GURU

Pengembara Jalanan

Ngopi: Membumikan Interaksi yang Mengudara

-000-

Lalu, kau pun pergi.
Meninggalkan tahta, meninggalkan nama,
menjadi pengembara di jalan sunyi.
Sepuluh tahun kau habiskan untuk merenung,
menyepi di gua-gua Damaskus,
berzikir di bawah langit Yerusalem,
dan mencium debu Makkah dalam rindu yang tak terperi.

“Apa yang kau cari, Al-Ghazali?” tanya seorang sufi.
“Aku mencari kebenaran yang tak tergoyahkan,” jawabmu.
“Ilmu tanpa hati adalah seperti lentera di tangan pencuri,
ia hanya menerangi jalan, tapi tak pernah menuntun ke tujuan.”

-000-

Setelah bertahun-tahun menyelami samudera keraguan,
kau kembali dengan membawa mutiara hikmah.
Kau tulis Ihya Ulumuddin,
kitab yang menjadi oase bagi jiwa-jiwa yang haus.
Kau ajarkan bahwa ilmu tak hanya untuk dipikirkan,
tapi juga untuk dirasakan,
tak hanya untuk dihafal,
tapi juga untuk diamalkan.

“Ilmu tanpa amal adalah seperti pohon tanpa buah,” katamu.
“Dan amal tanpa ilmu adalah seperti kapal tanpa nahkoda.”

Kau juga menulis Tahafut al-Falasifah,
menggugat kesombongan filsafat yang mengklaim kebenaran mutlak.
“Akal memiliki batas,” tegaskanmu,
“dan di luar batas itu, ada wilayah iman.”

-000-

Kini, sembilan abad setelah kepergianmu,
cahayamu masih menyinari dunia.
Kau mengajarkan kita bahwa ilmu bukan sekadar alat,
tapi juga jalan untuk mengenal Sang Pencipta.
Kau ingatkan kita bahwa keraguan bukan musuh,
tapi teman dalam pencarian kebenaran.

Di tengah hiruk-pikuk zaman modern,
di mana manusia terlena oleh kemajuan material,
suaramu masih bergema:
“Jangan lupakan hati,
karena di situlah kebenaran sejati bersemayam.”


Rumah Kayu Cepu, 22 Maret 2025

CATATAN:
[1] Puisi esai ini ditulis dengan inspirasi dari biografi Al Ghazali di https://www.ghazali.org/articles/gz1.htm

Kontribusi dan Pengaruh Al-Ghazali:
a. Imam Al-Ghazali (1058-1111), dikenal sebagai Hujjatul Islam (Sang Pembela Islam), adalah salah satu pemikir paling berpengaruh dalam sejarah intelektual Islam. Karyanya, Ihya Ulumuddin (Kebangkitan Ilmu-Ilmu Agama), menjadi rujukan utama dalam tasawuf dan etika Islam. Melalui Tahafut al-Falasifah (Kerancuan Para Filsuf), ia mengkritik filsafat Yunani yang dianggap bertentangan dengan ajaran Islam, sekaligus menegaskan pentingnya keseimbangan antara akal dan wahyu.
b. Pemikiran Al-Ghazali tidak hanya memengaruhi dunia Islam, tetapi juga memberikan inspirasi bagi para pemikir Barat seperti Thomas Aquinas. Karyanya terus dipelajari hingga saat ini, menjadi jembatan antara tradisi dan modernitas, serta mengingatkan kita akan pentingnya integrasi ilmu, iman, dan amal dalam kehidupan.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 74x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 74x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 61x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 58x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 53x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya

Guru Jadi Tersangka, Berakhir dengan RJ

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00