• Latest
Al Ghazali: Sang Hujjatul Islam - 4d78aaa8 d35b 42b5 a763 3683563a4215 | Puisi Essay | Potret Online

Al Ghazali: Sang Hujjatul Islam

Maret 22, 2025
9fdb3c1c-1879-4f8c-9aa8-02113678bceb

Warisan Musik Aceh dari Gampong Padang Manggeng

April 21, 2026
Ilustrasi siluet pasangan dengan hati retak melambangkan cemburu, konflik emosional, dan hubungan yang rapuh

Cemburu Membunuh Perempuan

April 21, 2026
Al Ghazali: Sang Hujjatul Islam - 1001348646_11zon | Puisi Essay | Potret Online

Kisah Perempuan – Lubna dari CĂłrdoba

April 21, 2026
Al Ghazali: Sang Hujjatul Islam - 1001353319_11zon | Puisi Essay | Potret Online

Fatimah al-Fihri, Pendiri Universitas Tertua

April 21, 2026
3753a9dd-0c43-46a6-9577-711a7479d4d5

Misogini Genital (Di) Kartini Digital

April 21, 2026
IMG_0878

Perempuan di Titik Klimaks

April 21, 2026
Al Ghazali: Sang Hujjatul Islam - 1001361361_11zon | Puisi Essay | Potret Online

Kisah Perempuan POTRET – Zaynab bint al-Kamal

April 21, 2026
d2a5b58f-c424-41eb-91dc-d0a057017eda

Menguak Kenangan Orkes Mekar Melati Manggeng dan Para Musisi Muda

April 21, 2026
Rabu, April 22, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Al Ghazali: Sang Hujjatul Islam

Redaksi by Redaksi
Maret 22, 2025
in Puisi Essay
Reading Time: 4 mins read
0
Al Ghazali: Sang Hujjatul Islam - 4d78aaa8 d35b 42b5 a763 3683563a4215 | Puisi Essay | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS

Cahaya Ilmuwan Muslim, Warisan yang Abadi (2)

Oleh Gunawan Trihantoro
(Sekretaris Komunitas Puisi Esai Jawa Tengah)

Al-Ghazali adalah salah satu ahli hukum Islam, teolog, dan pemikir mistik terbesar. Ia mempelajari berbagai cabang ilmu agama Islam tradisional di kota kelahirannya Tus, Gurgan, dan Nishapur di bagian utara Iran. Ia juga terlibat dalam praktik Sufi sejak usia dini. Setelah diakui oleh Nizam al-Mulk, wazir sultan Seljuk, ia diangkat menjadi kepala Sekolah Tinggi Nizamiyyah di Baghdad pada tahun 484 H/1091 M. [1]

Baca Juga
  • Api di Dasar Sumur
  • Selembar Mukena di Ujung Malam


Di bawah langit Tus yang kelam,
di mana angin gurun membisikkan rahasia zaman,
seorang anak lahir dari rahim kesederhanaan.
Namanya, Al-Ghazali
kelak akan menjadi lentera di tengah gelapnya keraguan,
penjaga hikmah di antara riuh rendah perdebatan.

-000-

Baca Juga
  • Ibnu Sina: Sang Cahaya dari Bukhara
  • Cut Nyak Dien: Nyala Perjuangan yang Abadi

“Mengapa langit begitu luas, Ayah?” tanyamu suatu malam,
sementara tangan kecilmu memegang erat jubahnya yang lusuh.
Ayahmu, pemintal wol, hanya tersenyum,
matanya berkaca-kaca, seolah tahu bahwa pertanyaanmu
bukan sekadar tentang langit,
tapi tentang makna yang tersembunyi di baliknya.

Di Tus, kota kecil di Persia,
kau tumbuh seperti tunas yang haus cahaya.
Ayahmu wafat, meninggalkan warisan yang tak ternilai:
“Carilah ilmu, Nak,
karena ia adalah jalan menuju Yang Maha Tahu.”
Kau pegang erat wasiat itu,
seperti burung memeluk angin untuk terbang.

Baca Juga
  • Ketika Sepucuk Surat Luka Terdampar di Pantai Pasir Putih‎
  • Tempat Paling Sepi

-000-

Baghdad, kota megah di abad ke-11,
tempat para filsuf dan ulama bersilang pedang,
di mana akal dan wahyu bertarung dalam gelanggang pemikiran.
Kau datang sebagai pelajar,
tapi segera menjadi sang guru
di usia muda, kau telah memimpin madrasah Nizamiyah,
tempat para pencari ilmu berbondong-bondong mendengar wejanganmu.

Tapi, di balik kemilau nama dan kedudukan,
hatimu gelisah.
“Apakah semua ini cukup?” bisik jiwamu suatu malam,
ketika lampu-lampu Baghdad mulai padam.
“Apakah ilmu yang kau ajarkan telah menyentuh hakikat,
atau hanya sekadar permainan kata-kata?”

-000-

Lalu, kau pun pergi.
Meninggalkan tahta, meninggalkan nama,
menjadi pengembara di jalan sunyi.
Sepuluh tahun kau habiskan untuk merenung,
menyepi di gua-gua Damaskus,
berzikir di bawah langit Yerusalem,
dan mencium debu Makkah dalam rindu yang tak terperi.

“Apa yang kau cari, Al-Ghazali?” tanya seorang sufi.
“Aku mencari kebenaran yang tak tergoyahkan,” jawabmu.
“Ilmu tanpa hati adalah seperti lentera di tangan pencuri,
ia hanya menerangi jalan, tapi tak pernah menuntun ke tujuan.”

-000-

Setelah bertahun-tahun menyelami samudera keraguan,
kau kembali dengan membawa mutiara hikmah.
Kau tulis Ihya Ulumuddin,
kitab yang menjadi oase bagi jiwa-jiwa yang haus.
Kau ajarkan bahwa ilmu tak hanya untuk dipikirkan,
tapi juga untuk dirasakan,
tak hanya untuk dihafal,
tapi juga untuk diamalkan.

“Ilmu tanpa amal adalah seperti pohon tanpa buah,” katamu.
“Dan amal tanpa ilmu adalah seperti kapal tanpa nahkoda.”

Kau juga menulis Tahafut al-Falasifah,
menggugat kesombongan filsafat yang mengklaim kebenaran mutlak.
“Akal memiliki batas,” tegaskanmu,
“dan di luar batas itu, ada wilayah iman.”

-000-

Kini, sembilan abad setelah kepergianmu,
cahayamu masih menyinari dunia.
Kau mengajarkan kita bahwa ilmu bukan sekadar alat,
tapi juga jalan untuk mengenal Sang Pencipta.
Kau ingatkan kita bahwa keraguan bukan musuh,
tapi teman dalam pencarian kebenaran.

Di tengah hiruk-pikuk zaman modern,
di mana manusia terlena oleh kemajuan material,
suaramu masih bergema:
“Jangan lupakan hati,
karena di situlah kebenaran sejati bersemayam.”


Rumah Kayu Cepu, 22 Maret 2025

CATATAN:
[1] Puisi esai ini ditulis dengan inspirasi dari biografi Al Ghazali di https://www.ghazali.org/articles/gz1.htm

Kontribusi dan Pengaruh Al-Ghazali:
a. Imam Al-Ghazali (1058-1111), dikenal sebagai Hujjatul Islam (Sang Pembela Islam), adalah salah satu pemikir paling berpengaruh dalam sejarah intelektual Islam. Karyanya, Ihya Ulumuddin (Kebangkitan Ilmu-Ilmu Agama), menjadi rujukan utama dalam tasawuf dan etika Islam. Melalui Tahafut al-Falasifah (Kerancuan Para Filsuf), ia mengkritik filsafat Yunani yang dianggap bertentangan dengan ajaran Islam, sekaligus menegaskan pentingnya keseimbangan antara akal dan wahyu.
b. Pemikiran Al-Ghazali tidak hanya memengaruhi dunia Islam, tetapi juga memberikan inspirasi bagi para pemikir Barat seperti Thomas Aquinas. Karyanya terus dipelajari hingga saat ini, menjadi jembatan antara tradisi dan modernitas, serta mengingatkan kita akan pentingnya integrasi ilmu, iman, dan amal dalam kehidupan.

Share234SendTweet146Share
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Next Post
Al Ghazali: Sang Hujjatul Islam - ee8a7669 ce09 4a05 946b f7f8db114347_11zon | Puisi Essay | Potret Online

Guru Jadi Tersangka, Berakhir dengan RJ

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com