POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Kau Harus Menyerah

Reza FahleviOleh Reza Fahlevi
March 13, 2025
Tags: EssayPuisiPuisiEssay
🔊

Dengarkan Artikel

Sadarlah, teman…

Kau tak bisa mengontrol semuanya. Ada beberapa hal yang tak bisa kau raih – dan semakin kau kejar – semakin kau berusaha mendapatkannya – semakin besar kekesalan terbit di dalam hatimu.

Kau tak bisa memaksa kehendak agar seutuhnya menjadi milikmu. Sejauh apapun kau mencoba, pada akhirnya kau tetap gagal.

Mulailah untuk sadar bahwa dalam hidup ini ada sesuatu yang bisa kau raih dan ada juga yang tak bisa kau miliki. Dua hal itu akan terus menjadi bagian dalam kehidupan. Tapi, terkadang kau tidak menyadarinya.

Mulailah sadar bahwa hidup ini bukan hanya tentang dirimu saja. Sebab, terlalu jahat jika kau menganggap semua adalah milikmu. Lalu, bagaimana dengan orang lain? Apa yang akan mereka dapatkan jika semua harus menjadi milikmu?

Kau selalu bercita-cita mengejar keinginan. Mungkin karena kau terlalu berhasrat. Mungkin karena kau ingin membuktikan sesuatu – entah pada dirimu atau pada orang lain. Mungkin juga karena kau terlalu cinta. Tapi, apa makna di balik itu semua? Kenapa kau terlalu yakin jika mendapatkan semua keinginanmu, kau bisa menjadi sosok yang paling bahagia di muka bumi ini? Lantas, bagaimana jika anggapanmu berakhir salah?

Cukup Sudah. Jangan memaksa diri.
Sudah cukup. Terlalu berhasrat hanya membawamu menjadi orang paling terbebani di dunia.

Dirimu itu, punya batasan tertentu, yang mana jika kau paksakan, bisa membuatmu benci, marah, putus asa, atau tertekan setiap kali kau gagal.

Kau, punya keterbatasan dalam meraih apapun yang kau inginkan. Dan keterbatasan itu adalah wajar. Memang, sebagian orang menganggapnya sebagai kekurangan. Tapi, jika kau mau berpikir jauh dan meluaskan sudut pandangmu, kekurangan yang kau benci itu bisa menjadi dorongan batin untuk merendah dan sadar bahwa kau hanya seorang manusia biasa, yang punya dua kaki dan tangan.

📚 Artikel Terkait

Hukum Internasional di Hadapan Penderitaan: Membaca Aceh dan Konflik Global Lainnya

Predators of the Forest: Reflections on Power and Ecological Ruin in Indonesia

Sepenggal Kenangan Di Bulan September

SDIT MUHAMMADIYAH PEDULI MEMBANTU KELUARGA FAKIR YANG BERKEBUTUHAN KHUSUS

Maka, jangan paksa dirimu karena kau bisa terluka. Dan, semakin parah luka di hatimu, semakin besar pula lubang yang akan menghanyutkan jiwamu untuk mengempaskan dirimu jauh dari rasa bersyukur.

Terimalah dirimu sebagai sosok yang tak bisa berbuat banyak. Dengan demikian, kau tidak akan berakhir seperti mereka yang hidup hanya untuk menyalahkan dan terus menyalahkan.

Terimalah bahwa kau tidak berdaya. Itu membuktikan seberapa manusianya kau di atas pijakan tanah dunia ini.

Terkadang, angan membawamu terlalu jauh terbang di sisi awan. Kau sampai lupa bahwa sewaktu-waktu kau bisa saja terjatuh ke dasar paling bawah.

Terkadang, keinginan membawamu terlalu jauh dari fitrah. Kau sampai lupa bahwa banyak orang yang juga menginginkan sesuatu, namun tak kunjung berhasil didapati. Akan tetapi, mereka masih merundukkan kepala – mereka tak pernah mengeluh dan berubah menjadi pembenci.

Sadari keterbatasanmu tanpa mengabaikan kekuatan di balik jiwamu. Dan cukuplah mengurus sesuatu yang tak bisa kau raih – sekarang mulailah fokus untuk memperbaiki diri. Karena, ada sesuatu yang harus kau pelajari tentang makna menjalani hidup tanpa mengusik yang lainnya.

Lalu, bagaimana caranya? Barangkali, dengan menyadari bahwa kehidupan ini hanya sebatas persinggahan sementara, kau bisa memilah mana yang mesti kau kejar dan mana yang harus kau relakan.

Sebab, waktu tak pernah berhenti berjalan. Jangan sampai kau tertinggal jauh di belakang sana tanpa ada makna sedikit pun yang kau genggam di tangan batinmu.

Mungkin, sudah saatnya kau menyerah – menyerah untuk bersikeras mengejar sesuatu yang bukan menjadi milikmu. Dan, setelah kau menyerah, kau punya banyak cara untuk melanjutkan langkah – melangkah ke tempat tujuan yang sudah menjadi titik keberadaanmu.

Lantas, bagaimana caranya? Jika kau masih percaya Tuhan, maka libatkan Dia dalam segala hal yang kejar. Maka, saat kau gagal, kau tidak terpuruk. Dan, saat kau berhasil, kau tidak terlalu ria.

Menyerahlah. Kau harus menyerah dari memaksa diri mendapatkan sesuatu yang tak bisa kau gapai.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 85x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 67x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 64x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Tags: EssayPuisiPuisiEssay
Reza Fahlevi

Reza Fahlevi

Lahir di Banda Aceh pada Tanggal 9 september 1996, Reza Fahlevi sudah mulai menyukai dunia kepenulisan sejak masih duduk di bangku SMP. Tulisannya berupa cerita-cerita pendek terdapat di berbagai platform seperti KBM, Fizzo, Blogspot dan sekarang aktif menulis di Medium. Beberapa tulisan Reza dalam bentuk puisi pernah diterbitkan oleh Warta USK. Ia juga pernah memenangkan lomba menulis novel yang diadakan oleh penerbit USK Press serta juga menjadi salah satu penulis dalam dua buku antologi yang berjudul Jembatan Kenangan (Jilid II) dan Kebun Bunga Itu Telah Kering. Selain menulis, Reza turut serta menjadi salah satu tenaga pendidik di sekolah MIN 20 Aceh Besar.

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya
Abadi

Puisi-Puisi Zab Bransah

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00