POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Belajar dari  Sang Gagak

Heri HalilingOleh Heri Haliling
March 10, 2025

Ilustrasi dari AI

🔊

Dengarkan Artikel

Karya Heri Haliling

Alkisah pada sebuah belantara hutan yang penuh dengan hijau pepohonan dan sungai-sungai yang jernih mengalir dari satu gunung yang menjulang,  tampak Bu Guru Elang sedang tertib mengatur siswa di hari pertama masuk sekolah. 

Terlihat di sebuah halaman ada 6 murid yang sangat antusias dalam menerima pelajaran. Ke enam murid tersebut bernama Burung Kakatua,  Nuri, Dara, Merpati,  Gagak, dan Burung Hantu.

“Baik anak-anak, bagaimana kabar kalian? Masih semangat tidak?” tanya Bu Guru Elang dengan tangan menggenggam dan terangkat ke atas. Beliau begitu berapi-api dan tersenyum ramah.

“Baik dan semangat, Bu Guru!!!!” jawab serempak semua murid.

Bu Guru Elang meloncat girang “Bagus kalau begitu.” Beliau lalu berkeliling mengitari halaman sambil memperhatikan para muridnya.

“Hari ini adalah pertama kali kalian bersekolah. Sebelum belajar, ayo kalian mengenalkan diri dulu ya?”

“Baik Bu Guru. Hai teman-teman” sapa Burung Nuri dengan wajahnya yang cerah berwarna. Dia berdiri lalu maju.

“Aku Nuri. Aku bisa menirukan kata-kata manusia lho?”

Serempak semua burung bertepuk tangan kagum.

“Kamu burung yang cantik, Nuri” puji sang Merpati.

“Iya benar. Lihat teman-teman warna bulunya sangat indah. Ada hijau, kuning, dan biru. Kerennn” sahut Burung Dara kagum.

Burung Nuri merasa sangat bangga. Dia lalu merentangkan sayapnya dan bertambah cerahlah manakala warna-warni bulu itu seolah bersinar.

Tentu saja tepuk tangan makin membahana. 

“Selanjutnya siapa hayo?” tanya Bu Guru Elang.

Semua burung berebut ingin tampil dan memamerkan kelebihan dirinya, kecuali Gagak dan Burung Hantu. Singkat waktu Nuri, Kakatua, Dara, dan Merpati telah memperkenalkan diri diiringi tepuk tangan yang megah. 

Burung Gagak dan Burung Hantu merasa malu untuk tampil. Melihat dua siswanya sedang tidak percaya diri, Bu Guru Elang lalu meyakinkan dan menyemangati. Tapi baru setengah kalimat, Burung Dara tiba-tiba menceletuk:

“Memang Gagak tidak ada istimewanya, Bu Guru. Suruh pergi saja. Apalagi Burung Hantu yang suka bawa sial.”

“Wakwak…Benar itu Bu Guru. Jangan beri mereka tempat di sini. Suruh sekolah lain dengan cabak atau kedasih. Di sini sekolah burung yang indah, pintar, dan merdu. Gak seperti kalian berdua sudah buruk rupa, suaranya parau lagi. Aduhhh jelek!!!!?” tambahi Kakatua.

Menyaksikan itu, Burung Gagak dan Hantu tentu bersedih hatinya. Mereka berduapun berusaha minggir dan menjauh. Akan tetapi langkah keduanya segera dihentikan Bu Guru Elang.

“Siswa sekalian” kata Bu Guru Elang sambil menahan Gagak dan Burung Hantu. “Kalian tidak boleh saling mengejek atau berlaku sombong ya. Semua makhluk itu mempunyai kekurangan juga kelebihan.”

“Tapi tidak untuk mereka berdua Bu Guru. Gagak dan Hantu itu tak punya bakat apapun. Coba minta mereka bernyanyi. Pasti banyak yang mendengar akan sakit telinga.”

Wahahahahahaha!!!! Sorak tawa dari keempat burung.

Bu Guru Elang menggeleng. Tapi beliau tetap memaklumi ketidaktahuan murid-muridnya. Beliaupun berujar kembali sambil meminta Gagak dan Burung Hantu duduk.

“Siswa sekalian. Meski dua burung ini warnanya kurang menarik, tapi hati mereka baik. Siapa di sini yang suka bantu orang tuanya, hayo?”

“Malas ah Bu Guru. Kami masih kecil, tugasnya hanya belajar dan bermain” jawab Nuri dengan angkuh.

“Kalau saya suka mau bantu ibu” jawab Merpati. “Tapi ibu bilang tidak perlu karena takut bulu saya rusak dan kotor. Lagian memang orang tua itu tugasnya berat karena wajar tenaganya besar sedangkan tenaga kami kecil. Tentulah mereka melarang kami bantuBu Guru.”

Bu Guru Elang tersenyum mendengar kepolosan jawaban Nuri dan Merpati.

“Apa yang disampaikan Nuri dan Merpati itu benar. Tapi tidak sepenuhnya ya?”

“Kok tidak sepenuhnya Bu Guru?” protes Kakatua.

“Semua orang tua pada dasarnya memerlukan bantuan tak terkecuali dari anak kandungnya. Memang siapa sih di dunia ini yang tak ingin dibantu? Tidak ada bukan? Akan tetapi banyak orang tua yang tidak tega meminta bantuan khususnya kepada anaknya. 

Dari hal ini kalian bisa belajar ke Gagak yang sangat sayang dengan keluarganya. Gagak selalu membantu orang tuanya dengan ikut menjaga adik bahkan berbagi makanan jatah dia. Gagak adalah burung yang tak lupa dengan kebaikan orang tuanya. Saat orang tuanya sakit, Gagak selalu merawatnya.”

“Bu Guru-Bu Guru….” panggil Dara. “Orang tua saya cukup senang kalau anaknya pintar dalam pelajaran. Bahkan saya dijanjikan mainan kalau saya unggul di kelas. Itu saya temukan dari sikap orang tua saya ke sang kakak. Jadi benar kata Nuri, kita yang masih kecil ini hanya harus belajar dan bermain. Gagak itu burung dekil dan kotor. Dia juga miskin jadi wajar kalau harus membantu dan membagi makanan ke adiknya.”

“Dara?? Tidak boleh ya mengejek begitu?” jawab Bu Guru sambil mendekati dan memegang pundaknya.

“Semua ikuti arahan ibu ya. Yuk jawab bersama-sama.”

Semua siswa fokus mendengarkan.

“Ada berapa indera kita?”

Serempak “lima.”

“Apa saja?”

Masih serempak.

“Mata, hidung, telinga, lidah, dan kulit Bu!!?”

“Mata ada dua, hidung lubangnya dua, telinga ada dua, kulit dengan bulu bahkan banyak sekali. Ada yang tahu kenapa semua indera, hanya lidah yang diciptakan satu bukan sepasang?”

Semua murid diam memikirkan jawaban.

Bu Guru yang sedari tadi berdiri di dekat Dara lalu berjalan ke depan kelas di samping papan tulis.

“Ada yang mau memberikan pendapat?” tawarnya sekali lagi dengan sayap yang merentang.

“Kata ibu saya, lidah itu sering menyakiti makanya diciptakan hanya satu” ujar Merpati mengingat pesan ibunya.

“Benar. Aku juga mau jawab itu. Ibuku di rumah sering bilang begitu. Tapi mau bagaimana ya? lidah itu kaya spontan berucap sendiri” kata Nuri sambil menggaruk belakang kepala dan sedikit menjulurkan lidahnya.

“Bu Guru” suara Gagak memanggil sambil acungkan jari.

“Ya..Silakan Gagak?”

📚 Artikel Terkait

RENUNGAN DIRGAHAYU RI KE 72 TAHUN (Kerinduan Akan Ulama Berjiwa Pemimpin)

Tragedi Pelamar Kerja, 2.517 Lowongan, Pelamar 25 Ribu

Satgas PPKM Terus Ingatkan Pelaku Usaha

Gunakan Tas Belanja Ramah Lingkungan

“Menurut saya pada hakikatnya setiap makhluk itu diciptakan sepasang untuk teman diskusi. Gak beda dengan panca indera, Bu. Sebagai makhluk kiranya kita tidak boleh langsung membenarkan pendapat sendiri. Kita perlu musyawarah untuk menimbang pendapat yang paling baik dan tidak merugikan yang lain. Lidah cenderung tak punya teman diskusi makanya kelakukannya kerap melukai. 

Tapi banyak juga Bu, lidah yang mau dengerin nasihat hati daripada langsung mengikuti kehendak otak. Lidah begitu pasti kepunyaan makhluk yang bijak.”

Mendengar uraian Gagak suasana sekejab hening. Dari yang tampak sekarang ialah semua burung menampilkan mata besar penuh kekaguman. 

“Bagus sekali, Gagak” puji Bu Guru Elang yang begitu puas.

“Benar, Bu. Tak kusangka Gagak itu bijak” tukas Nuri.

“Iya. Ya..” seru yang lain.

“Gagak? Aku Nuri minta maaf atas ejekanku tadi ya?”

“Aku juga, Gagak” serobot Kakatua. “Apa yang kamu bilang itu benar. 

Kesombonganku hanya membuat aku malu sekarang.”

“Tepuk tangan untuk kalian” pinta Bu Guru spontan.

Semua burung bertepuk tangan mengikuti arahan. 

“Nah siswa sekalian. Ibu bangga dengan kalian yang mempunyai jiwa besar untuk memperbaiki diri” kata Bu Guru Elang. “Sekarang silakan kalian berpelukan saling sayang sebagai teman bukan sebagai lawan.”

Serempak menjawab:

“Iya Bu” lalu diikuti dengan gerak jalan dari semua siswa.

Melihat murid-muridnya telah mulai rukun, Bu Guru kemudian berkata bahwa dia akan mengadakan rapat bersama dewan guru yang lain. Oleh karena itu dia berpesan untuk tetap akur selama kepergiannya. Semua murid mengangguk penuh kegembiraan.

*

Selang berapa waktu manakala semua murid sedang bermain, tanpa diduga angin kencang menerpa. Semua pohon bergoyang.

“Buk! Buk! Buk!” terdengar tiga buah apel gugur karena tertiup angin. Semua burung langsung berebut memburu. Singkatnya, tiga buah apel itu didapatkan Dara, Kakatua, dan Gagak. Manakala tiba tentang pembagian, mendadak semua jadi bingung.

“Aku yang dapat buah. Akulah bagian yang besar!” kata Kakatua.

“Ya nggak boleh begitu. Kita ini sahabat. Pembagiannya harus adil. Kamu dapat buah karena lebih cepat menangkap saja, bukan menanam.”

“Gak mau, aku!” tegas Kakatua dengan ketus.

“Benar kata Nuri, Kakatua. Kita ini sahabat. Bagilah secara adil.”

“Tapi bagaimana pembagian yang adil, Merpati?” protes Kakatua.

Semua sekarang tampak berpikir. Usai beberapa saat, gagak kemudian menawarkan ide.

“Bagaimana kalau yang mendapatkan buah bisa memilih membelah buah jadi dua tapi tidak boleh memilih atau sebaliknya.”

“Oh jadi misal aku mau berbagi dengan Merpati, salah satu dari kami jadi pembelah dan yang dibagi itu sebagai pemilih?” tukas Dara.

“Benar sekali.”

“Aku setuju jika begitu” terang Kakatua merendah dan mengerti.

“Sepakat!” jawab Merpati. “Sekali lagi kamu buat aku kagum, Gagak.”

Gagak tampak tersipu malu.

Ketika sedang melakukan pembagian, tanpa disangka muncul puluhan monyet dari rerimbunan yang langsung merangsek dan bergelantungan di cabang pohon apel. Puluhan monyet itu tanpa peduli langsung memetik buah. Beberapa monyet juga tampak melempari kawanan burung dengan apel yang hanya dimakan setengah. 

Para murid tentu kaget bukan kepalang dan berhambur ketakutan karena lemparan. 

Burung Gagak yang tak suka dengan prilaku nakal dan mubazir dari kawanan monyet itu lalu berteriak. 

“Hei monyet rakus! Siapa ketuamu hah!”

Melihat keberanian Burung Gagak, seekor monyet berperawakan besar segera meloncat turun dan berdiri di hadapannya.

“Apa maumu burung hitam jelek?” 

“Apa iya kalian ini hebat dan kuat??” kata Gagak dengan memalingkan wajah.

“Wukwukwukwukwuk!!!!!” teriak monyet yang lain merasa terusik.

Ketua monyet itu lalu mengangkat satu tangan untuk mengisyaratkan diam. Benar saja, seluruh monyet patuh dan tunduk kepadanya. Hening sesaat.

“Kamu tampaknya meragukan itu, hah??” suara serak sang Monyet.

“Apa mau dikata jika buktinya belum ada?”

Monyet melompat kemudian sekejap sudah berdiri di hadapan gagak.

“Lantas bagaimana?”

“Mudah. Lihat gundukan di sana?” tunjuk Burung Gagak.

Monyet itu mengikuti arah sayap burung gagak.

“Hmmm…?”

“Aku akan buat lubang. Kutaruh buah apel di dalam. Jika kamu berhasil mengambilnya keluar, buah apel bulan depan dan apel-apel milik kami, kamu semua yang punya. 

Tapi ingat, jika kamu kalah? Kalian harus tinggalkan tempat ini dan jangan pernah kembali” tegas Burung Gagak.

“Wahahahahahaha….!!! Cuma itu???”

“Cuma itu.”

Monyet dengan sikap sombongnya langsung setuju. Merekapun mulai persiapan. 

Pertama burung gagak  berbisik kepada Burung Hantu. Melalui pesan tersembunyi itu, Burung Hantu lalu pergi sesuai arahan Gagak. Kemudian Gagak membuat terowongan seukuran tangan monyet untuk menaruh buah apel di ujung terowongan. 

Bersembunyi pada tumpukan batu tampak Nuri, Kakatua, Dara, dan Merpati menampilkan raut cemas.

Setelah semua  selesai, Gagak bersiap.

“Dalam hitungan ke tiga, mulai ya….1…2..3!!!!” teriak gagak.

Monyet segera menyusupkan tangannya ke dalam lubang. Dapat!! Buah apel dengan mudah berhasil digenggam monyet. Dia menarik buah itu. Tidak bisa!! Tersangkut karena tangan monyet yang menggenggam buah apel menjadi pengunci untuk keluar. 

Monyet dengan beringas terus menarik namun tetap sangkut. 

Tiba-tiba dari balik semak, Burung Hantu muncul dengan terbang kecil ke arah sepucuk ranting. Tak dinyana, burung hantu ternyata dikejar seekor ular sanca besar.

Semua burung dan monyet kaget ketakutan. Ular sanca besar itu tampak kelaparan. Semua burung terbang hinggap pada dahan. 

Anggota monyet berteriak kencang.

“Pergi dari sana ketua!!! Pergi cepat!!!!”

Ketua monyet yang masih bersikeras untuk mengeluarkan buah apel tak mau mendengar. Dia terus menarik buah dengan sikap rakus dan sombongnya. Ular semakin mendekatinya. 

Anggota monyet berteriak ketakutan karena sang ketua tetap tak mau melepaskan genggamannya. Ketua monyet mendadak sempat ragu untuk meneruskan, namun Gagak yang melihat itu segera berteriak sambil tertawa.

“Hahaha..!!! Jika tak bisa lepaskan saja Monyet.”

Sekejab ketua monyet langsung emosi karena merasa diremehkan. Dia malah bertambah ngotot tanpa mau rugi. Pekik anggota monyet makin liar terdengar. Ular kian merapat kemudian langsung membelit tubuh ketua monyet. Ketua monyet yang rakus itupun meronta. Tapi percuma, lilitan itu begitu erat yang membuatnya sesak bernapas. 

Pada akhirnya ketua Monyet mati. Padahal sangat bisa dia selamat seandainya mau untuk melepaskan buah apel itu. Namun karena sikap tamak dan angkuh; keegoisan monyet membuatnya harus jadi santapan sang ular. Setelah menelan ketua monyet yang besar itu, ular sanca menjadi kenyang lalu pergi meninggalkan taman.

“Lihat!!! Ketua kalian sudah tidak ada!! Sekarang pergi atau aku giring kembali ular yang lain untuk memangsa kalian hah!!!” kata Burung Hantu.

Mendengar hal itu tentu kawanan monyet itu langsung kabur karena menebak bahwa ular itu adalah bagian sahabat dari kawanan burung.

Sorak sorai bahagia terdengar. Taman menjadi tentram kembali. Nuri, Kakatua, Dara, dan Merpati langsung mendekati Gagak danBurung Hantu. 

Bu Guru Elang dan semua burung dewasa juga keluar dari persembunyian. Sejak tadi sebenarnya mereka memantau dan jika terjadi sesuatu yang tak diinginkan kepada para murid, mereka akan dengan sigap segera menolongnya. Namun kepintaran Gagak dan keberanian Burung Hantu berhasil mengalahkan kawanan monyet. 

Guru elang dan yang lainpun bangga kepada dua muridnya.

Akhirnya semuanya mengucapkan selamat dan berterima kasih kepada Gagak dan Burung Hantu.

—Selesai—-

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share5SendShareScanShare
Heri Haliling

Heri Haliling

Heri Haliling merupakan nama pena dari Heri Surahman. Beliau pengajar di SMAN 2 Jorong. Heri Haliling selain mengajar juga aktif menulis baik cerpen atau novel dalam aplikasi GWP atau Kwikku. Beberapa karyanya yang telah terbit antara lain: 1. Novlet Rumah Remah Remang, 2024 (J-Maestro). 2. Novel Perempuan Penjemput Subuh, menjadi juara 2 Sayembara Menulis Novel Guru dan Dosen Tahun 2024 (PT Aksara Pustaka Media). 3. Beberapa cerpennya telah termuat dalam media cetak dan digital seperti Balipolitika, Radar Utara, Radar NTT, Negeri Kertas.com, Kaltim Post, Kompasiana, dan Republika

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Ini Eranya Generasi Begadang Yang Bakal Menuai Badai

Ini Eranya Generasi Begadang Yang Bakal Menuai Badai

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00