POTRET Online POTRET
  • Home
  • Artikel
  • Potret Budaya ⌄
    • Puisi
    • Cerpen
    • Esai
  • Pendidikan
  • Video
  • Esai
  • Opini
  • Aceh
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Cerpen
  • Perempuan
  • Podcast
  • ✍ Kirim Tulisan
Home Essay

Mengapa Mencintai Dunia Pendidikan?

Redaksi by Redaksi
Desember 6, 2021
in Essay, Pendidikan
0

Oleh Ahmad Rizali

Baca Juga
  • 01
    Bingkai Utama
    CAHAYA MOTIVASI KENANGAN DI PESANTREN
    29 Mar 2021
  • 02
    Essay
    RISMA DAN ANTROPOLOGI MARAH
    12 Okt 2021

Berdomisili di Depok, Jawa Barat

Itu pertanyaan mas Agus Wahyudi sahabat saya guru senior dari Purwokerto. Gus Wah, sebetulnya awalnya bukan mencintai dan dengan dunia pendidikan ini saya kena kutukan “Witing Tresno Jalaran Soko Kulino”. Keseringan berurusan dan berakhir dengan mencintai, meskipun yang saya cintai belum tentu membalasnya.

Baca Juga
  • Ilustrasi siluet pasangan dengan hati retak melambangkan cemburu, konflik emosional, dan hubungan yang rapuh
    Artikel
    Cemburu Membunuh Perempuan
    21 Apr 2026
  • 02
    Artikel
    Menapak Jejak Literasi di Bireun
    07 Jun 2017

Awalnya dari menduga jawaban dari persoalan yang selalu saya tanyakan. Kok sebuah bangsa bisa maju, ujung ujungnya pendidikan (UUP). Kok banyak persoalan yang muncul berulang dan tak selesai, UUP.  Kok terjadi diskriminasi, UUP. Mengapa lama sekali Indonesia merdeka, UUP dan seterusnya.

Baca Juga
  • 01
    Ekonomi
    AKU BENCI SEMBILAN NAGA
    30 Jun 2021
  • cd371ba6-715d-447b-b94a-30123cf2d952
    Pendidikan
    Pendidikan Hadapi Ancaman Nyata
    31 Mar 2026

Ketika punya putra dan duduk di SD, maka saya melihat dengan jelas masalah pendidikan itu. Kreatifitas murid TK dijajah oleh persepsi kebenaran gurunya, kegairah bertanya yang saat belum sekolah selalu saya “jabanin”, menjadi lenyap di sekolah. Anak menjadi patuh dan pendiam seperti anjing terlatih atau kuda liar yang sudah takluk kepada pekatiknya.

Pendidikan dikerdilkan menjadi persekolahan dan murid dipacu untuk menghapalkan materi yang akan diuji, bukan diajak bertualang dengan dunia mencari jawaban mengapa dan bagaimana. 

Dalam bahasa keren, semangat dan potensi Learning, tidak terbentuk tuntas dan hanya menjadi “mesin penyimpan informasi” yang jelas kedodoran ketika terus dijejali. Potensi otak untuk menjadi penerima, pemroses dan pemberi informasi serta solusi, mati. Otak hanya dijadikan gudang penyimpan data.

Semua itu semakin mendekatkan hipotesis saya bahwa ada yang salah dalam dunia pendidikan Indonesia. Apalagi ketika mulai mengenal Freire, Ivan Illich, Mochtar Buchori, Pater Drost, Bahrudin QT dan para “mbeling” pendidikan. Di sisi kanan, Peter Senge, Dostoyeski, Tolstoy, Sartre, Kundera juga ikut mengaduk aduk pikiran saya.t

Semakin menyelam, seperti di lautan, isi perut pendidikan semakin terang benderang. Gurulah salah satu kunci utama. Pendidikan menjadi guru tak diurus sebaik pendidikan menjadi dokter, insinyur dan Lawyer. Menjadi guru adalah pilihan terakhir dalam berkarya.

Dalam dunia Guru, jenjang SD/MI adalah kasta terendah. Pernah ada anggapan bahwa menjadi guru SD/MI itu siapapun bisa dan anggapan “taken for granted” ini diperkuat dengan sikap komplasen semua bangsa kita, tak terkecuali yang terdidik sangat baik dan tidak.

Komplasen bahwa semua baik baik saja. Lulus SD/MI pasti menguasai ilmu dasar dalam matematika numerasi, sains dan (faham) membaca. Faktanya, semua anggapan itu salah besar. Sejak lama saya sudah menduga duga dan menemukan bukti. 

Selain jalaran kulino, cinta saya kepada dunia pendidikan memiliki latar kurang baik, saya merasa kasian kepada dunia pendidikan, kasian meninggalkannya. Semestinya, cintailah apa adanya, Just the Way You Are. 

Jadi, dengan latar belakang bukan dari dunia pendidikan dan pernah diolok olok seperti “Terkun” alias Dokter Dukun, saya mencintai dunia pendidikan ini.

Karena sebetulnya dasar cinta yang tak kokoh, kadangkala menyesal juga menyaksikan kawan kawan yang hidup di dunia “lain” yang dengan ringannya mengeluarkan uang berjuta juta hanya untuk merumput di lapangan golep atau ratusan ribu hanya untuk secangkir kopi.

Masihkah saya mencintai dunia pendidikan yang seringkali lusuh dan compang camping dan semakin bodoh ini ? Jelas masih, “wis kadung cak…” ujar kawanku. “Iyo, masiyo uelek raine, tapi ngangeni….” Di wajahnya masih terlihat cahaya yang sering membawa ketenangan. Really ?


Previous Post

Digital Literasi Numerasi itu Mudah

Next Post

“POTRET SINGKAT SEORANG ANAK NEGERI DALAM MERAJUT MIMPI”

Next Post

“POTRET SINGKAT SEORANG ANAK NEGERI DALAM MERAJUT MIMPI”

POTRET Online POTRETOnline
Kontributor Tentang Kami Redaksi 1000 Sepeda

© 2026 POTRET Online. Seluruh hak cipta dilindungi.

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah