POTRET Online POTRET
  • Home
  • Artikel
  • Potret Budaya ⌄
    • Puisi
    • Cerpen
    • Esai
  • Pendidikan
  • Video
  • Esai
  • Opini
  • Aceh
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Cerpen
  • Perempuan
  • Podcast
  • ✍ Kirim Tulisan
Home Essay

Mengapa Mencintai Dunia Pendidikan?

Redaksi by Redaksi
Desember 6, 2021
in Essay, Pendidikan
0

Oleh Ahmad Rizali

0c5241d0-e0ec-4e5c-93fd-7bdcc07d81f7
Baca Juga
Artikel
Rumah Pengasuhan Anak dan Pendidikan Keluarga di Tengah Menguatnya Regulasi Daerah
04 Jun 2026

Berdomisili di Depok, Jawa Barat

Itu pertanyaan mas Agus Wahyudi sahabat saya guru senior dari Purwokerto. Gus Wah, sebetulnya awalnya bukan mencintai dan dengan dunia pendidikan ini saya kena kutukan “Witing Tresno Jalaran Soko Kulino”. Keseringan berurusan dan berakhir dengan mencintai, meskipun yang saya cintai belum tentu membalasnya.

Mengapa Mencintai Dunia Pendidikan? - 1EF1F3B9 18F3 4366 BB20 DB7C895652F9 | Essay | Potret Online
Baca Juga
Artikel
HIDUP DI RANTAU
26 Okt 2022

Awalnya dari menduga jawaban dari persoalan yang selalu saya tanyakan. Kok sebuah bangsa bisa maju, ujung ujungnya pendidikan (UUP). Kok banyak persoalan yang muncul berulang dan tak selesai, UUP.  Kok terjadi diskriminasi, UUP. Mengapa lama sekali Indonesia merdeka, UUP dan seterusnya.

82f61e7b-8aef-44b1-8d7a-8716712e9adf
Baca Juga
Pendidikan
Tantangan Pembelajaran Bahasa Indonesia di Era Video Pendek
16 Jun 2026

Ketika punya putra dan duduk di SD, maka saya melihat dengan jelas masalah pendidikan itu. Kreatifitas murid TK dijajah oleh persepsi kebenaran gurunya, kegairah bertanya yang saat belum sekolah selalu saya “jabanin”, menjadi lenyap di sekolah. Anak menjadi patuh dan pendiam seperti anjing terlatih atau kuda liar yang sudah takluk kepada pekatiknya.

Pendidikan dikerdilkan menjadi persekolahan dan murid dipacu untuk menghapalkan materi yang akan diuji, bukan diajak bertualang dengan dunia mencari jawaban mengapa dan bagaimana. 

Dalam bahasa keren, semangat dan potensi Learning, tidak terbentuk tuntas dan hanya menjadi “mesin penyimpan informasi” yang jelas kedodoran ketika terus dijejali. Potensi otak untuk menjadi penerima, pemroses dan pemberi informasi serta solusi, mati. Otak hanya dijadikan gudang penyimpan data.

Semua itu semakin mendekatkan hipotesis saya bahwa ada yang salah dalam dunia pendidikan Indonesia. Apalagi ketika mulai mengenal Freire, Ivan Illich, Mochtar Buchori, Pater Drost, Bahrudin QT dan para “mbeling” pendidikan. Di sisi kanan, Peter Senge, Dostoyeski, Tolstoy, Sartre, Kundera juga ikut mengaduk aduk pikiran saya.t

Semakin menyelam, seperti di lautan, isi perut pendidikan semakin terang benderang. Gurulah salah satu kunci utama. Pendidikan menjadi guru tak diurus sebaik pendidikan menjadi dokter, insinyur dan Lawyer. Menjadi guru adalah pilihan terakhir dalam berkarya.

Dalam dunia Guru, jenjang SD/MI adalah kasta terendah. Pernah ada anggapan bahwa menjadi guru SD/MI itu siapapun bisa dan anggapan “taken for granted” ini diperkuat dengan sikap komplasen semua bangsa kita, tak terkecuali yang terdidik sangat baik dan tidak.

Komplasen bahwa semua baik baik saja. Lulus SD/MI pasti menguasai ilmu dasar dalam matematika numerasi, sains dan (faham) membaca. Faktanya, semua anggapan itu salah besar. Sejak lama saya sudah menduga duga dan menemukan bukti. 

Selain jalaran kulino, cinta saya kepada dunia pendidikan memiliki latar kurang baik, saya merasa kasian kepada dunia pendidikan, kasian meninggalkannya. Semestinya, cintailah apa adanya, Just the Way You Are. 

Jadi, dengan latar belakang bukan dari dunia pendidikan dan pernah diolok olok seperti “Terkun” alias Dokter Dukun, saya mencintai dunia pendidikan ini.

Karena sebetulnya dasar cinta yang tak kokoh, kadangkala menyesal juga menyaksikan kawan kawan yang hidup di dunia “lain” yang dengan ringannya mengeluarkan uang berjuta juta hanya untuk merumput di lapangan golep atau ratusan ribu hanya untuk secangkir kopi.

Masihkah saya mencintai dunia pendidikan yang seringkali lusuh dan compang camping dan semakin bodoh ini ? Jelas masih, “wis kadung cak…” ujar kawanku. “Iyo, masiyo uelek raine, tapi ngangeni….” Di wajahnya masih terlihat cahaya yang sering membawa ketenangan. Really ?


Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
Next Post

“POTRET SINGKAT SEORANG ANAK NEGERI DALAM MERAJUT MIMPI”

POTRET Online POTRETOnline
Kontributor Tentang Kami Redaksi 1000 Sepeda

© 2026 POTRET Online. Seluruh hak cipta dilindungi.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah