Dengarkan Artikel
Ramadhan bukan hanya soal menahan lapar dan haus, tetapi juga melatih kepekaan sosial dan jiwa yang penuh syukur. Namun, realitas sosial menunjukkan tantangan. Ketika berbuka menjadi ajang “perlombaan” hidangan, esensi kesederhanaan itu memudar.
Budaya konsumtif yang didorong oleh iklan dan tren media sosial sering kali mengalihkan fokus dari makna sejati puasa.
Padahal, jika kita kembali pada sunnah, Rasulullah SAW berbuka dengan cara paling sederhana, kurma dan air sebagai teladan bahwa kebahagiaan bukan terletak pada banyaknya makanan, tetapi pada ketenangan hati yang bersyukur.
Simpul
📚 Artikel Terkait
Ramadhan adalah cermin bagi kita untuk melihat kembali makna hidup melalui lensa kesederhanaan. Berbuka dengan seteguk air mengajarkan bahwa nikmat terbesar bukan pada kemewahan, melainkan pada kesadaran akan anugerah kecil yang sering terlupa.
Di tengah fenomena sosial yang cenderung konsumtif, momen ini menjadi panggilan untuk kembali pada esensi bersyukur, berempati, dan kepekaan terhadap sekitar. Mari jadikan Ramadhan bukan hanya sebagai ritual tahunan, tetapi sebagai perjalanan jiwa yang membawa kita lebih dekat pada nilai-nilai kemanusiaan dan keimanan. Seteguk air bukan sekadar pelepas dahaga, tetapi juga pengingat bahwa dalam kesederhanaan, kita menemukan kebesaran makna hidup.
Biodata:
Muh. Sulaiman Rifai Aprianus Mukin. Lahir di Ende, 27 April 1970, merupakan ASN pada Kantor Kementerian Agama Kabupaten Lembata, Provinsi NTT, saat ini sebagai Pengawas Sekolah Tingkat Menengah. Menyelesaikan studi S1 Fakultas Tarbiyah pada Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Muhammadiyah Kupang Tahun 1995, menyelesaikan studi S2 Magister Pendikan Agama Islam di Univesitas Muhammadiyah Malang Tahun 2025. Selain memperoleh gelar akademik, penulis pun memperoleh gelar non akademik Certified Planning and Inventory Management (CPIM). Penulis saat ini sedang merintis taman baca Savana Iqra (IQ), selain itu bergabung dalam “Komunitas Penulis Lembata” juga sebagai “Penakar Literasi” Menulis beberapa artikel pengabdian masyarakat dalam buku antologi “Menuju Indonesia Emas 2045” di tahun 2023, buku “Revitalisasi Ilmu Sejarah dan Budaya dalam Dunia Pendidikan” dan buku “Aspek Pembelajaran Kewarganegaraan, Hukum dan Politik” di tahun 2024 dan beberapa buku antologi Cerpen dan Puisi di tahun 2021 sd sekarang. Penulis juga menulis opini/headline di beberapa media online, penulis dapat ditemui di akun Facebook @RifaiAprian, IG @Rifai_mukin
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





