Dengarkan Artikel
Seteguk Air
Di era transparan yang kita kenal era society 5.0, berbuka puasa terkadang identik dengan sajian mewah dan beragam kuliner. Meja makan dipenuhi aneka hidangan, mulai dari berbagai kolak, gorengan, hingga makanan kekinian yang Instagramable. Tradisi open table atau berbuka bersama menjadi ajang silaturahmi sekaligus pameran kuliner.
Namun, di balik kemeriahan itu, ada realitas lain yang terlihat kontras. Jutaan orang di berbagai belahan dunia, bahkan di lingkungan terdekat kita, mungkin hanya mampu berbuka dengan seteguk air dan sepotong kurma if anything at all.
Fenomena ini mencerminkan jurang ketimpangan sosial yang masih nyata, sekaligus mengingatkan bahwa esensi berbuka, bukan pada kelimpahan, melainkan pada kesadaran akan nikmat yang telah diberikan. Situasi ini berfungsi untuk menerangi kedalaman bermakna ketidaksetaraan sosial yang bertahan, sementara secara bersamaan menggarisbawahi bahwa esensi sejati dari berbuka puasa tidak terletak pada kelebihan, tetapi dalam pengakuan akan berkat-berkat yang telah diberikan.
Media sosial turut memperkuat fenomena ini. Postingan tentang menu berbuka yang estetik sering kali mendominasi, sementara narasi tentang kesederhanaan atau empati terhadap mereka yang kekurangan jarang mendapat sorotan. Hal ini menunjukkan bagaimana Ramadhan, yang sejatinya adalah bulan refleksi dan pengendalian diri, kadang terdistorsi menjadi panggung konsumsi dan eksistensi.
📚 Artikel Terkait
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





