Belajar Kejujuran di Sekolah?

Belajar Kejujuran di Sekolah? - 6EE80D17 C241 43E5 9200 16150F06B3ED | Artikel | Potret Online
Ilustrasi: Belajar Kejujuran di Sekolah?
WA FB X

Tentu masih banyak factor lain yang berkontribusi terhadap melorotnya integritas sekolah dalam menanamdan membangun sikap jujur terhadap perseta didik di sekolah. Melorotnya kepercayaan atau munculnya rasa ragu terhadap sekolah dalam menanamkan dan membangun sikap jujur, tidak boleh dibiarkan. Perlu ada upaya sekolah, Dinas Pendidikan, baik level Provinsi maupun kabupaten kota, serta orangtua serta masyarakat untuk mengembalikan kepercayaan kepada sekolah dalam menanamkan sikap jujur kepada anak atau peserta didik. Kiranya untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat, sekolah perlu menegakkan integritas, menanamkan nilai kejujuran sejak dini, serta melibatkan orang tua dan masyarakat dalam membangun budaya pendidikan yang berlandaskan moral dan etika. Tentu bukan saja pada tataran budaya menyontek, tetapi lebih dari itu sekolah harus mau dan berani bersikap jujur dalam mengelola sekolah, tidak korup, Sekolah harus dikelola secara transparan, jujur, tidak curang, dan berorientasi pada proses dengan hasıl ideal.

Kita yakin bahwa sesungguhnya, belajar kejujuran di sekolah bukan hanya bisa, karena kejujuran adalah bagian İntegral darı sebuah proses pendidikan di sekolah. Maka,, seharusnya menjadi bagian penting dari pendidikan. Sebagaimana kita ketahui bahwa selama ini dalam setiap Sekolah tidak hanya berperan dalam mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga dalam membentuk karakter siswa agar menjadi individu yang jujur, bertanggung jawab, dan bermoral. 

Oleh sebab itu, sekolah juga harus Merdeka dari tekanan-tekanan pimpinan yang menuntut setoran yang sering sulit dipenuhi oleh pihak sekolah yang bermuara pada mencari sumber pendanaan secara illegal. Kepala sekolah harus berani berkata tidak untuk memanipulasi keadaan, dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai kebenaran. 

Baca Juga

Namun, jika sistem pendidikan masih lebih menekankan hasil akademik daripada proses yang jujur, siswa bisa saja tergoda untuk berbuat curang demi nilai tinggi.

Last, but not least, belumlah terlambat bagi sekolah untuk membangun budaya jujur di sekolah. Tentu tidak boleh ada kata tidak, dan terlambat. Masih sangat bisa dilakukan upaya-uoaya yang integrative membangun budaya kejujuran di sekolah. Tentu ada banyak cara. Pertama sekali adalah dengan memulai dari diri sendiri. Guru harus tetap menjadi teladan bagi peserta didik. Artinya guru berada di garda depan sebagai teladan di sekolah dalam bersikap jujur. Untuk itu diperlukan upaya menciptakan lingkungan yang baik, adil dan berakhlak mulia. 

Dalam melakukan evaluasi akademik, harus melihat proses, bukan hanya hasil akhir. Hal initerkait dengan bagimana kita menghargai kejujuran sebagai panglima dan jalan selamat bagi kita dan peserta didik.

ADVERTISEMENT
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Penulis
Tabrani Yunis

Bio Narasi

Tabrani Yunis, kelahiran Manggeng, Aceh Barat Daya, Aceh berlatarbelakang profesi seorang guru bahasa Inggris, mulai  aktif menulis di media sejak pada medio Juni 1989. Aktif mengisi ruang atau rubrik opini di sejumlah media lokal dan hingga nasional. Menulis artikel, opini, essay dan puisi pilihan hidup yang  kebutuhan hidup sehari-hari.

Telah menulis, lebih 1000 tulisan berupa opini, esası dan puisi yang telah publikasikan di berbagai media.Menerbitkan 2 buku, yang merupakan kumpupan tulisan dalam buku Membumikan Literasi dan buku antologi puisi “ Kulukis Namamu di Awan”

Aktif terlibat dalam  membangun gerakan literasi anak negeri sejak tahun 1990 terutama di kalangan perempuan dan anak.

Bersama mendirikan LP2SM ( Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Sumber daya Manusia) dan di tahun 1993 mendirikan Center for Community Development and Education (CCDE). Lalu, sebagai Direktur CCDE membidani terbitnya Majalah POTRET (2003) dan majalah Anak Cerdas (2013). Kini aktif mengelola Potretonline.com dan majalahanakcerdas.com, sambil mempraktikkan kemampuan entreneurship di POTRET Gallery, Banda Aceh

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.