Dengarkan Artikel
Aku menggeleng. Tak heran dengan keadaan di depanku. Puluhan kabar telah kami dengar dari saudaraku di daerah lain. Apakah akan sama? Aku coba tawarkan mediasi kembali sebagai bentuk tata kramaku pada negeri.
“Anda saksikan di sana, Tuan petugas” tunjukku pada satu tempat, “blontang, aneka kembang, dupa, dan sesembahan di dekat makam itu adalah simbol ketaatan kami pada leluhur. Puluhan bahkan ratusan tahun pendahulu kami pun demikian.
Perusahaan datang sebagai perwakilan pemerintah kami sambut dengan baik. Kalian hadir sebagai penengah kami terbuka dan sedia. Untuk kali ini petugas, bersikaplah bijak. Kami tak niatkan harta apalagi tahta. Hanya budaya leluhur yang kami gaung dan perjuangkan.”
Satu petugas yang kurasa adalah pimpinan maju ke tengah.
📚 Artikel Terkait
“Saudaraku, Narang. Kedatangan kami sungguh sebagai jembatan perseteruan ini. Harapan kami adalah merangkul agar kita tetap damai dalam satu kesatuan di bumi pertiwi. Makam itu bisa kita pindahkan.
Itulah yang kami desak kepada petinggi sebagai sebuah jalan keluar selain ganti rugi.”
Dehen Djata meludah mendengarkan itu. Tak beda dengan yang lain. Watak Dehen yang cenderung enggan basa-basi itu sebenarnya aku kurang setuju.
“Memindahkan makam leluhur hanya akan hasilkan bala. Sekarang kalian di sini. Giring mereka pulang, Tuan petugas” serunya.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





