POTRET Online POTRET
  • Home
  • Artikel
  • Potret Budaya ⌄
    • Puisi
    • Cerpen
    • Esai
  • Pendidikan
  • Video
  • Esai
  • Opini
  • Aceh
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Cerpen
  • Perempuan
  • Podcast
  • ✍ Kirim Tulisan
Home Puisi Essay

Takjil di Jalanan Sunyi

Refleksi Spiritual dan Sosial di Bulan Ramadhan (6)

Gunawan Trihantoro by Gunawan Trihantoro
Maret 7, 2025
in Puisi Essay
0
Takjil di Jalanan Sunyi - dc4ec531 cb4c 4fed aa6d 800af8673d74 | Puisi Essay | Potret Online

Ilustrasi

Oleh Gunawan Trihantoro
Sekretaris Komunitas Puisi Esai Jawa Tengah

Di sudut kota yang sepi,
seorang lelaki berjalan perlahan,
membawa kantong plastik berisi harapan,
di dalamnya, ada kurma, ada air, ada cinta.

Ia bukan orang kaya, bukan pula pejabat,
namun tangannya selalu memberi,
menyisihkan rezeki dari dagangan kecilnya,
untuk mereka yang tak sempat pulang.

a0874485-5883-4836-9faa-17bcddc8a681
Baca Juga
Puisi
Kepiting Dalam Baskom
29 Mar 2026

Di perempatan lampu merah,
seorang pengemudi ojek menatap jam,
tahu bahwa azan akan segera berkumandang,
tapi ia masih harus mengejar penumpang.

Lelaki itu mendekat, mengulurkan sebungkus nasi,
“Berbukalah, Bang,” katanya lembut,
senyum tersungging dari balik helm,
sebuah terima kasih tanpa kata.

Takjil di Jalanan Sunyi - 2025 05 03 08 45 52 | Puisi Essay | Potret Online
Baca Juga
Puisi Essay
Tertambat Tembang Bidadari
03 Mei 2025

Di depan toko yang mulai tutup,
seorang ibu dengan anak kecil duduk,
tak ada makanan di tangannya,
hanya doa yang mereka genggam erat.

Lelaki itu menunduk,
menyodorkan sebotol susu dan roti,
“Makanlah, Nak, selamat berbuka,”
mata sang ibu berkaca-kaca, suaranya hilang dalam haru.

Takjil di Jalanan Sunyi - f8c78e5b 4af6 41e2 8886 1b15d2417635 | Puisi Essay | Potret Online
Baca Juga
POTRET Budaya
Cut Nyak Meutia: Mutiara yang Tak Pernah Padam
25 Jan 2025

Setiap hari, ia berjalan di jalanan sunyi,
mencari wajah-wajah yang menahan lapar,
membagi sedikit dari yang ia punya,
karena baginya, bahagia itu sederhana.

Dan ketika langit mulai gelap,
ia pulang dengan langkah ringan,
bukan karena lelah, bukan karena lapar,
tapi karena hatinya penuh dengan berkah.


Rumah Kayu Cepu, 6 Maret 2025.

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
Next Post
Takjil di Jalanan Sunyi - 4e97609a 592b 4d55 8694 826e1832a4a5 | Puisi Essay | Potret Online

Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

POTRET Online POTRETOnline
Kontributor Tentang Kami Redaksi 1000 Sepeda

© 2026 POTRET Online. Seluruh hak cipta dilindungi.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah