POTRET Online POTRET
  • Home
  • Artikel
  • Potret Budaya ⌄
    • Puisi
    • Cerpen
    • Esai
  • Pendidikan
  • Video
  • Esai
  • Opini
  • Aceh
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Cerpen
  • Perempuan
  • Podcast
  • ✍ Kirim Tulisan
Home Puisi Essay

Takjil di Jalanan Sunyi

Refleksi Spiritual dan Sosial di Bulan Ramadhan (6)

Gunawan Trihantoro by Gunawan Trihantoro
Maret 7, 2025
in Puisi Essay
0
Takjil di Jalanan Sunyi - dc4ec531 cb4c 4fed aa6d 800af8673d74 | Puisi Essay | Potret Online

Ilustrasi

Oleh Gunawan Trihantoro
Sekretaris Komunitas Puisi Esai Jawa Tengah

Di sudut kota yang sepi,
seorang lelaki berjalan perlahan,
membawa kantong plastik berisi harapan,
di dalamnya, ada kurma, ada air, ada cinta.

Ia bukan orang kaya, bukan pula pejabat,
namun tangannya selalu memberi,
menyisihkan rezeki dari dagangan kecilnya,
untuk mereka yang tak sempat pulang.

Takjil di Jalanan Sunyi - 2025 07 31 20 50 09 | Puisi Essay | Potret Online
Baca Juga
# Tadarus Puisi
Esai dan Sajak Alkhair Aljohore@
31 Jul 2025

Di perempatan lampu merah,
seorang pengemudi ojek menatap jam,
tahu bahwa azan akan segera berkumandang,
tapi ia masih harus mengejar penumpang.

Lelaki itu mendekat, mengulurkan sebungkus nasi,
“Berbukalah, Bang,” katanya lembut,
senyum tersungging dari balik helm,
sebuah terima kasih tanpa kata.

Takjil di Jalanan Sunyi - 023811d8 1811 451a be46 774ad8cee8ff | Puisi Essay | Potret Online
Baca Juga
puasa
Sujud Terakhir di Sepertiga Malam
05 Mar 2025

Di depan toko yang mulai tutup,
seorang ibu dengan anak kecil duduk,
tak ada makanan di tangannya,
hanya doa yang mereka genggam erat.

Lelaki itu menunduk,
menyodorkan sebotol susu dan roti,
“Makanlah, Nak, selamat berbuka,”
mata sang ibu berkaca-kaca, suaranya hilang dalam haru.

Takjil di Jalanan Sunyi - 2025 08 10 18 30 10 | Puisi Essay | Potret Online
Baca Juga
Puisi Essay
Merayakan Kemerdekaan Daripada yang Mana Daripada Siapa Nyang Merdeka
10 Agu 2025

Setiap hari, ia berjalan di jalanan sunyi,
mencari wajah-wajah yang menahan lapar,
membagi sedikit dari yang ia punya,
karena baginya, bahagia itu sederhana.

Dan ketika langit mulai gelap,
ia pulang dengan langkah ringan,
bukan karena lelah, bukan karena lapar,
tapi karena hatinya penuh dengan berkah.


Rumah Kayu Cepu, 6 Maret 2025.

Next Post
Takjil di Jalanan Sunyi - 4e97609a 592b 4d55 8694 826e1832a4a5 | Puisi Essay | Potret Online

Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

POTRET Online POTRETOnline
Kontributor Tentang Kami Redaksi 1000 Sepeda

© 2026 POTRET Online. Seluruh hak cipta dilindungi.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah