• Latest
Kekuatan Rakyat Menenggelamkan Gaya Hidup Pejabat - 1000908378_11zon | Puisi Essay | Potret Online

Kekuatan Rakyat Menenggelamkan Gaya Hidup Pejabat

September 13, 2025
9fdb3c1c-1879-4f8c-9aa8-02113678bceb

Warisan Musik Aceh dari Gampong Padang Manggeng

April 21, 2026
Ilustrasi siluet pasangan dengan hati retak melambangkan cemburu, konflik emosional, dan hubungan yang rapuh

Cemburu Membunuh Perempuan

April 21, 2026
Kekuatan Rakyat Menenggelamkan Gaya Hidup Pejabat - 1001348646_11zon | Puisi Essay | Potret Online

Kisah Perempuan – Lubna dari Córdoba

April 21, 2026
Kekuatan Rakyat Menenggelamkan Gaya Hidup Pejabat - 1001353319_11zon | Puisi Essay | Potret Online

Fatimah al-Fihri, Pendiri Universitas Tertua

April 21, 2026
3753a9dd-0c43-46a6-9577-711a7479d4d5

Misogini Genital (Di) Kartini Digital

April 21, 2026
IMG_0878

Perempuan di Titik Klimaks

April 21, 2026
Kekuatan Rakyat Menenggelamkan Gaya Hidup Pejabat - 1001361361_11zon | Puisi Essay | Potret Online

Kisah Perempuan POTRET – Zaynab bint al-Kamal

April 21, 2026
d2a5b58f-c424-41eb-91dc-d0a057017eda

Menguak Kenangan Orkes Mekar Melati Manggeng dan Para Musisi Muda

April 21, 2026
Rabu, April 22, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Kekuatan Rakyat Menenggelamkan Gaya Hidup Pejabat

Ririe Aiko by Ririe Aiko
September 13, 2025
in Puisi Essay
Reading Time: 4 mins read
0
Kekuatan Rakyat Menenggelamkan Gaya Hidup Pejabat - 1000908378_11zon | Puisi Essay | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS

*Kekuatan Rakyat Menenggelamkan Gaya Hidup Pejabat*

Oleh : Ririe Aiko 

_(Pada 10 September 2025, Kathmandu, ibu kota Nepal, diguncang kerusuhan. Seorang menteri keuangan digiring massa, ditelanjangi, lalu diceburkan ke sungai yang membelah kota. Adegan itu terekam kamera ponsel dan viral ke seluruh dunia. Simbol negara runtuh dalam hitungan menit.¹)_

Baca Juga
  • Gen-Z dan Masa Depan Puisi Esai
  • Perbatasan yang Merintih

—000—

Di tepi sungai yang keruh,

Baca Juga
  • Jejak Perempuan di Palagan Nusantara (1)
  • Palestina, Gencatan Senjata

rakyat menjelma hakim jalanan.

Teriakan memecah udara,

Baca Juga
  • Jangan Pukuli Anakmu
  • Rasuna Said: Singa Podium yang Mengguncang Zaman

kamera ponsel gemetar merekam—

tubuh pejabat hanyut,

martabat bangsa ikut tenggelam.

Bukan sekadar seorang lelaki

yang dipermalukan di hadapan rakyat,

melainkan simbol kepercayaan

yang lama terkikis janji kosong.

Amarah itu tak lahir seketika,

ia tumbuh dari beras yang mahal,

minyak yang langka,

dan anak muda yang kehilangan pekerjaan.²

—000—

Generasi digital marah,

melihat anak pejabat berfoya-foya,

pamer mobil sport dan jam tangan mewah,

sementara rakyat antre demi sekarung beras.³

Ketimpangan pun menjelma bara.

Namun api benar-benar menyala

saat pintu dunia maya dikunci.

Facebook dibungkam,

YouTube disumbat,

X ditutup rapat.

Suara yang biasa hidup di layar

dipaksa mati.

Tubuh pun akhirnya menjadi teks terakhir,

jalan raya menjelma panggung,

dan sungai,

menjadi tirai terakhir

bagi pertunjukan politik yang telanjang.

—000—

Indonesia, tidakkah kita belajar?

Nepal hanyalah cermin

yang retaknya bisa memantul ke sini.

Bayangkan,

jika suatu hari di Jakarta,

seorang menteri ditarik paksa,

dilempar ke Kali Ciliwung,

direkam ratusan kamera,

disiarkan ke seluruh dunia.

Itu bukan sekadar tragedi,

melainkan aib bangsa.

—000—

Kita masih punya modal kepercayaan:

pers yang hidup,

organisasi sipil yang bergerak,

dan hukum yang kadang

masih berpihak pada rakyat.

Namun benih-benih amarah itu ada.

Dari ketidakadilan ekonomi,

dari pamer kuasa anak pejabat,

dari suara publik yang kadang dibungkam.

Jika dibiarkan tumbuh liar,

kita pun bisa terbakar.

Oleh amarah yang terlalu menumpuk

Tak bisa terbendung lagi.

Biarkan sungai-sungai kita

tetap menjadi tempat anak-anak bermain,

bukan tempat martabat pejabat ditenggelamkan.

Biarkan rakyat percaya

bahwa keadilan masih bisa lahir

tanpa harus menelanjangi negeri sendiri.

—000—

CATATAN:

(1)“https://www.kompasiana.com/dosom/68c15e0f34777c1e4d7ce972/belajar-dari-kekuatan-rakyat-yang-menumbangkan-gaya-hidup-pejabat-nepal

(2https://www.worldbank.org/en/news/opinion/2025/08/20/investing-in-people-nepal-s-best-bet-for-better-jobs-and-economic-growth

(3https://kathmandupost.com/national/2025/09/06/nepo-kid-trend-sparks-anti-corruption-campaign-in-nepal

Share234SendTweet146Share
Ririe Aiko

Ririe Aiko

Ririe Aiko adalah seorang penulis dan pegiat literasi asal Bandung yang dikenal karena konsistensinya dalam menyuarakan isu-isu kemanusiaan melalui karya sastra, khususnya puisi esai. Sejak remaja, ia telah menjadikan dunia menulis sebagai rumahnya. Ia mulai dikenal pada 2006 lewat karya pertamanya Senorita yang memenangkan Lomba Penulisan Naskah TV di Tabloid Gaul dan kemudian diadaptasi menjadi FTV oleh salah satu stasiun televisi nasional. Perjalanan kepenulisan Ririe berakar dari genre horor dan roman, dua dunia yang memberinya ruang untuk menggali sisi gelap dan getir kehidupan. Cerpen-cerpen horornya bahkan sering menjadi trending dan memenangkan penghargaan di berbagai platform, termasuk Arum Kencana yang menjuarai lomba cerpen Elex Novel. Namun di tengah jejak panjang fiksi populernya, Ririe justru menemukan makna baru dalam genre puisi esai—sebuah ruang tempat ia bisa bersuara lebih lantang tentang luka sosial, ketidakadilan, dan harapan yang tertindas. Pada 2024, Ririe menerbitkan buku antologi pertamanya yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama berjudul KKN, sebuah karya kolaboratif yang mempertemukannya dengan pembaca lebih luas. Setahun kemudian, ia menerbitkan buku puisi esai mini bertajuk Sajak dalam Koin Kehidupan (2025), sebagai tonggak awal perjalanannya menapaki genre puisi esai secara lebih mendalam. Tak berhenti di sana, ia menantang dirinya untuk menulis puisi esai setiap hari selama 30 hari di bulan Ramadhan—yang kini tengah dirangkai menjadi buku puisi esai mini bertajuk Airmata Ibu Pertiwi. Ririe juga merupakan Founder Gerakan Literasi Bandung, sebuah inisiatif yang bertujuan menumbuhkan kembali kecintaan anak-anak terhadap buku di era digital. Melalui program berbagi buku, kelas kreatif, dan kegiatan literasi berbasis komunitas, ia membangun jembatan antara dunia literasi dan tantangan teknologi masa kini. Selain menulis, Ririe aktif sebagai kreator video berbasis Artificial Intelligence, menjelajah cara-cara baru dalam menyampaikan pesan melalui medium visual. Baginya, menulis bukan sekadar merangkai kata, melainkan menyalakan cahaya kecil di tengah gelapnya kenyataan—cara untuk berdamai, berjuang, dan tetap bertahan di dunia yang sering kali bisu terhadap suara-suara kecil.

Next Post

🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com