POTRET Online POTRET
  • Home
  • Artikel
  • Potret Budaya ⌄
    • Puisi
    • Cerpen
    • Esai
  • Pendidikan
  • Video
  • Esai
  • Opini
  • Aceh
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Cerpen
  • Perempuan
  • Podcast
  • ✍ Kirim Tulisan
Home Iran

Api di Selatan, Duka di Langit

Gunawan Trihantoro by Gunawan Trihantoro
Juni 15, 2025
in Iran, Israel, Puisi Essay
0
Api di Selatan, Duka di Langit - 2025 06 15 13 56 06 | Iran | Potret Online

Oleh Gunawan Trihantoro


Ketua Satupena Kabupaten Blora dan Sekretaris Komunitas Puisi Esai Jawa Tengah

Ketegangan di Timur Tengah terus memuncak setelah Israel dan Iran melancarkan serangan militer baru satu sama lain pada Sabtu (14/6/2025) malam waktu setempat. [1]

Baca Juga
  • Api di Selatan, Duka di Langit - 317e1599 4414 490f 95d3 3175eb298355 | Iran | Potret Online
    #Perang
    Selat Hormuz, Senjata Pamungkas Iran
    22 Mar 2026
  • Api di Selatan, Duka di Langit - e79b9c65 e172 47c9 93d7 cc7abb7a175a | Iran | Potret Online
    #Perang Dagang
    Perang Iran -Israel dan Rapuhnya Pasar Minyak Global
    25 Mar 2026

Di selatan Iran, tempat gas mengalir dari dada bumi,
ada ladang yang dulu bersenandung tiap pagi.

Namanya South Pars, urat nadi energi,
menyatu dengan laut dan langit,
seperti doa yang terus naik tanpa henti.

Baca Juga
  • Api di Selatan, Duka di Langit - 2025 07 02 07 07 56 | Iran | Potret Online
    Artikel
    3 Miracles Sleeping Prince , The Big Apple & Iran
    03 Jul 2025
  • Api di Selatan, Duka di Langit - e0136ac9 9577 4b11 bb4c 19b870293d2f | Iran | Potret Online
    POTRET Budaya
    Puasa, Lapar, dan Makna Sabar
    03 Mar 2025

Tapi pagi itu, suara berubah.
Bukan siulan pipa,
melainkan jerit logam dan gelegar yang memecah.

Rudal-rudal tak punya nama,
tapi kita tahu dari mana datangnya.

Baca Juga
  • Api di Selatan, Duka di Langit - ibn sina_11zon | Iran | Potret Online
    Humaniora
    Ibnu Sina: Sang Cahaya dari Bukhara
    21 Mar 2025
  • Api di Selatan, Duka di Langit - 3D8AA6E4 677F 4808 A8FC 56F083902C82 | Iran | Potret Online
    Puisi Essay
    Mereka Yang Syahid
    01 Des 2022

Langit bukan lagi pelindung,
tapi cermin dari dendam yang bersarang dalam hitung-hitungan geopolitik.

“Ini bukan hanya tentang ladang gas,” kata seorang teknisi,
“ini tentang siapa yang boleh bernapas dan siapa yang dicekik.”

-000-

Anak itu bertanya kepada ibunya:
“Bu, kenapa langit marah?”

Ibunya hanya bisa memeluk,
sambil menatap layar ponsel yang menampilkan kobaran di fase empat belas.

Gas meledak, bukan untuk memasak,
tapi untuk mencipta sunyi yang memanjang ke malam.

“Langit sedang sakit,” katanya lirih,
“karena manusia lupa caranya bicara tanpa senjata.”

-000-

Gas, yang mestinya simbol kemakmuran,
kini jadi sumbu peperangan.

Ladang-ladang itu bukan sekadar tempat kerja,
tapi medan tempat kekuasaan bersaing dalam senyap.

Mereka tak saling tembak di parlemen,
tapi saling hantam lewat mesin.

Mesin yang digerakkan bukan oleh cinta,
melainkan rasa takut kehilangan pengaruh di mata dunia.

Israel melempar pesan lewat api,
Iran menjawab dengan siaga dan diam.

Sementara rakyat di antaranya
hanya bisa menyalakan lilin
di rumah yang setengah terbakar dan setengah bertanya.

-000-

Di fase empat belas itu,
produksi gas dihentikan,
seperti cinta yang tak sempat tumbuh,
seperti dialog yang diputus sebelum disambut.

Ada doa-doa yang tak jadi sampai ke langit
karena ditelan ledakan dan kebisingan.

Ada harapan yang gagal jadi kenyataan
karena pemimpin terlalu sibuk membuat strategi pertahanan.

“Energi adalah jantung dunia,” kata ilmuwan.

Tapi siapa sangka jantung itu bisa ditembak
dan tetap kita anggap biasa?

-000-

Angin membawa kabar ke kota-kota di selatan:
“Jangan panik, tapi waspada.”

Namun, bagaimana tidak panik
jika suara ledakan lebih cepat dari suara kebijakan?

Dari Bushehr hingga Shiraz,
orang-orang mengumpulkan malam
dalam kantong tidur yang dirajut kecemasan.

Di sebuah masjid, imam membaca ayat perlindungan,
tapi di layar yang sama,
dunia melihat bendera dibakar,
dan perjanjian damai dilipat tanpa dibaca.

-000-

Aku tak bisa menulis ini tanpa bergetar.

Karena puisi ini bukan tentang metafora.

Ia adalah ledakan yang tiba-tiba terasa di dada.

Ia adalah napas gas yang berubah jadi racun,
bukan karena substansinya,
tapi karena ambisi manusia.

Kita hidup di dunia di mana pipa gas bisa lebih kuat dari konstitusi,
dan suara rudal bisa lebih keras dari suara rakyat.

Tapi aku tetap ingin percaya,
bahwa satu kata “cukup” bisa menghentikan semuanya.

-000-

Di akhir ini,
aku tidak menulis tentang siapa yang menang.

Karena tak ada kemenangan dalam reruntuhan.

Tak ada pemenang dari ledakan yang membakar napas bumi sendiri.

Yang ada hanya anak-anak yang bertanya,
ibu-ibu yang mengungsi,
dan ladang gas yang sekarang jadi ladang luka.

Kita bisa memilih, melanjutkan perang atas nama pengaruh,
atau mengakhiri luka atas nama kehidupan.

Karena langit, laut, dan bumi
tak butuh rudal untuk terus berputar, mereka hanya butuh manusia yang lebih mencintai
daripada menghitung strategi perang.

Rumah Kayu Cepu, 15 Juni 2025


Catatan:
[1] Puisi esai ini terinspirasi dari berita “Israel vs Iran Memanas: Ladang Gas Terbesar Diserang Hujan Rudal”, CNBC Indonesia, 15 Juni 2025.
https://www.cnbcindonesia.com/news/20250615054906-4-641088/israel-vs-iran-memanas-ladang-gas-terbesar-diserang-hujan-rudal

Previous Post

Ali Hasyimi Tokoh Multitalenta

Next Post

Kopdes Merah Putih Perusak Kemandirian Bangsa

Next Post
Api di Selatan, Duka di Langit - 2025 06 15 14 47 24 | Iran | Potret Online

Kopdes Merah Putih Perusak Kemandirian Bangsa

POTRET Online POTRETOnline
Kontributor Tentang Kami Redaksi 1000 Sepeda

© 2026 POTRET Online. Seluruh hak cipta dilindungi.

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah