• Latest
Api di Selatan, Duka di Langit - 2025 06 15 13 56 06 | Iran | Potret Online

Api di Selatan, Duka di Langit

Juni 15, 2025
9fdb3c1c-1879-4f8c-9aa8-02113678bceb

Warisan Musik Aceh dari Gampong Padang Manggeng

April 21, 2026
Ilustrasi siluet pasangan dengan hati retak melambangkan cemburu, konflik emosional, dan hubungan yang rapuh

Cemburu Membunuh Perempuan

April 21, 2026
Api di Selatan, Duka di Langit - 1001348646_11zon | Iran | Potret Online

Kisah Perempuan – Lubna dari CĂłrdoba

April 21, 2026
Api di Selatan, Duka di Langit - 1001353319_11zon | Iran | Potret Online

Fatimah al-Fihri, Pendiri Universitas Tertua

April 21, 2026
3753a9dd-0c43-46a6-9577-711a7479d4d5

Misogini Genital (Di) Kartini Digital

April 21, 2026
IMG_0878

Perempuan di Titik Klimaks

April 21, 2026
Api di Selatan, Duka di Langit - 1001361361_11zon | Iran | Potret Online

Kisah Perempuan POTRET – Zaynab bint al-Kamal

April 21, 2026
d2a5b58f-c424-41eb-91dc-d0a057017eda

Menguak Kenangan Orkes Mekar Melati Manggeng dan Para Musisi Muda

April 21, 2026
Rabu, April 22, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Api di Selatan, Duka di Langit

Gunawan Trihantoro by Gunawan Trihantoro
Juni 15, 2025
in Iran, Israel, Puisi Essay
Reading Time: 4 mins read
0
Api di Selatan, Duka di Langit - 2025 06 15 13 56 06 | Iran | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS

Oleh Gunawan Trihantoro


Ketua Satupena Kabupaten Blora dan Sekretaris Komunitas Puisi Esai Jawa Tengah

Ketegangan di Timur Tengah terus memuncak setelah Israel dan Iran melancarkan serangan militer baru satu sama lain pada Sabtu (14/6/2025) malam waktu setempat. [1]

Baca Juga
  • Puisi Tak Bisa Menghentikan Perang
  • Sang Syahid Abad 21 Tentang Perang Kebudayaan

Di selatan Iran, tempat gas mengalir dari dada bumi,
ada ladang yang dulu bersenandung tiap pagi.

Namanya South Pars, urat nadi energi,
menyatu dengan laut dan langit,
seperti doa yang terus naik tanpa henti.

Baca Juga
  • Badai di Bawah Pohon Pecan
  • Kapal yang Ditebuk

Tapi pagi itu, suara berubah.
Bukan siulan pipa,
melainkan jerit logam dan gelegar yang memecah.

Rudal-rudal tak punya nama,
tapi kita tahu dari mana datangnya.

Baca Juga
  • Eskalasi dan Keseimbangan: Menimbang Ulang Kekuatan, Pembalasan, dan Perdamaian di Timur Tengah
  • Siapa yang Tega Membunuh 180 Anak-Anak Sekolah

Langit bukan lagi pelindung,
tapi cermin dari dendam yang bersarang dalam hitung-hitungan geopolitik.

“Ini bukan hanya tentang ladang gas,” kata seorang teknisi,
“ini tentang siapa yang boleh bernapas dan siapa yang dicekik.”

-000-

Anak itu bertanya kepada ibunya:
“Bu, kenapa langit marah?”

Ibunya hanya bisa memeluk,
sambil menatap layar ponsel yang menampilkan kobaran di fase empat belas.

Gas meledak, bukan untuk memasak,
tapi untuk mencipta sunyi yang memanjang ke malam.

“Langit sedang sakit,” katanya lirih,
“karena manusia lupa caranya bicara tanpa senjata.”

-000-

Gas, yang mestinya simbol kemakmuran,
kini jadi sumbu peperangan.

Ladang-ladang itu bukan sekadar tempat kerja,
tapi medan tempat kekuasaan bersaing dalam senyap.

Mereka tak saling tembak di parlemen,
tapi saling hantam lewat mesin.

Mesin yang digerakkan bukan oleh cinta,
melainkan rasa takut kehilangan pengaruh di mata dunia.

Israel melempar pesan lewat api,
Iran menjawab dengan siaga dan diam.

Sementara rakyat di antaranya
hanya bisa menyalakan lilin
di rumah yang setengah terbakar dan setengah bertanya.

-000-

Di fase empat belas itu,
produksi gas dihentikan,
seperti cinta yang tak sempat tumbuh,
seperti dialog yang diputus sebelum disambut.

Ada doa-doa yang tak jadi sampai ke langit
karena ditelan ledakan dan kebisingan.

Ada harapan yang gagal jadi kenyataan
karena pemimpin terlalu sibuk membuat strategi pertahanan.

“Energi adalah jantung dunia,” kata ilmuwan.

Tapi siapa sangka jantung itu bisa ditembak
dan tetap kita anggap biasa?

-000-

Angin membawa kabar ke kota-kota di selatan:
“Jangan panik, tapi waspada.”

Namun, bagaimana tidak panik
jika suara ledakan lebih cepat dari suara kebijakan?

Dari Bushehr hingga Shiraz,
orang-orang mengumpulkan malam
dalam kantong tidur yang dirajut kecemasan.

Di sebuah masjid, imam membaca ayat perlindungan,
tapi di layar yang sama,
dunia melihat bendera dibakar,
dan perjanjian damai dilipat tanpa dibaca.

-000-

Aku tak bisa menulis ini tanpa bergetar.

Karena puisi ini bukan tentang metafora.

Ia adalah ledakan yang tiba-tiba terasa di dada.

Ia adalah napas gas yang berubah jadi racun,
bukan karena substansinya,
tapi karena ambisi manusia.

Kita hidup di dunia di mana pipa gas bisa lebih kuat dari konstitusi,
dan suara rudal bisa lebih keras dari suara rakyat.

Tapi aku tetap ingin percaya,
bahwa satu kata “cukup” bisa menghentikan semuanya.

-000-

Di akhir ini,
aku tidak menulis tentang siapa yang menang.

Karena tak ada kemenangan dalam reruntuhan.

Tak ada pemenang dari ledakan yang membakar napas bumi sendiri.

Yang ada hanya anak-anak yang bertanya,
ibu-ibu yang mengungsi,
dan ladang gas yang sekarang jadi ladang luka.

Kita bisa memilih, melanjutkan perang atas nama pengaruh,
atau mengakhiri luka atas nama kehidupan.

Karena langit, laut, dan bumi
tak butuh rudal untuk terus berputar, mereka hanya butuh manusia yang lebih mencintai
daripada menghitung strategi perang.

Rumah Kayu Cepu, 15 Juni 2025


Catatan:
[1] Puisi esai ini terinspirasi dari berita “Israel vs Iran Memanas: Ladang Gas Terbesar Diserang Hujan Rudal”, CNBC Indonesia, 15 Juni 2025.
https://www.cnbcindonesia.com/news/20250615054906-4-641088/israel-vs-iran-memanas-ladang-gas-terbesar-diserang-hujan-rudal

Share234SendTweet146Share
Gunawan Trihantoro

Gunawan Trihantoro

Gunawan Trihantoro adalah seorang penulis kelahiran Purwodadi tahun 1974. Ia merupakan alumni Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) yang mulai aktif menulis sejak masa kuliahnya. Karya-karyanya telah terbit di berbagai media cetak dan online. Gunawan aktif dalam berbagai komunitas kepenulisan, termasuk Satupena, Kreator Era AI, dan Komunitas Puisi Esai Jawa Tengah. Selain itu, ia juga berkontribusi sebagai penulis buku-buku naskah umum keagamaan dan moderasi beragama di Kementerian Agama RI selama periode 2022–2024. Hingga kini, Gunawan telah menghasilkan puluhan buku, baik sebagai penulis tunggal maupun penulis bersama, yang memperkuat reputasinya sebagai salah satu penulis produktif di bidangnya.

Next Post
Api di Selatan, Duka di Langit - 2025 06 15 14 47 24 | Iran | Potret Online

Kopdes Merah Putih Perusak Kemandirian Bangsa

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com