Dengarkan Artikel
Oleh Sindi Hazirah
Kenapa semuanya tampak terburu-buru? Berlomba-lomba siapa yang lebih sukses, siapa yang lebih hebat, siapa yang lebih kuat.
Apa mungkin mereka mulai sadar kalau pada akhirnya semua akan mati?
Aku lelah. Dunia begitu cepat berlalu, waktu tak menetap, detik terus berpacu, dan aku sudah tak kuat melangkah maju.
Tak lagi ada harapan. Semuanya begitu memuakkan akhir-akhir ini. Aku tak punya tujuan, tak punya keinginan, tak punya apapun yang bisa membuatku semangat melanjutkan hidup.
Aku bekerja untuk makan, tidur untuk tenang, lalu kembali bekerja, dan kembali tidur, dan terus terulang.
Tak ada tempat bersandar. Rumah ku telah tiada. Ayah, ibu dan sanak saudara. Aku ditinggalkan sendiri, tertatih-tatih mencari sesuap nasi, dan kembali bekerja dari pagi ke pagi lagi.
Abu-abu mataku memandang dunia. Entah sejak kapan warna-warni itu mulai menghilang, mungkin sejak kedua orang tuaku tiada, atau sejak mimpi ku usai disadarkan realita.
Secangkir kopi menemani diriku malam ini. Dengan pemandangan ribuan lampu kota yang menyala di depan mata. Kendaraan bermotor, roda empat, berlalu-lalang, menuju dan pergi, pulang dan kembali ke tujuannya masing-masing.
Hidup terseok-seok tanpa arah adalah petaka. Aku sudah lama tak merasa bahagia, seperti yang dirasakan segerombolan pemuda pemudi yang sedang asik tertawa di café seberang sana.
Kenapa orang-orang bisa sangat bahagia? Apa yang mereka makan? Apa yang mereka pakai? Udara apa yang mereka gunakan untuk bernapas? Air sejernih apa yang mengguyur badan ketika mereka mandi?
Aku tak pernah tahu resep bahagia.
“How’s your day?”
Mataku kemudian menatap seorang pemuda yang baru saja duduk di kursi depan ku. Memperbaiki posisi kacamata yang tadi jatuh di batang hidungnya. “Cerita aja kalau mau.
“Aku tak menjawab, menghela napas, lalu membuang muka, kembali menatap pemandangan diluar sana.
📚 Artikel Terkait
“Kalau nggak mau juga aku nggak maksa.” Dia membuka bukunya, kali ini entah buku self improvement apalagi yang ia beli. Pemuda yang cukup suka menghabiskan waktu berjam-jam untuk membaca, namun, yang ia baca tak pernah jauh dari tema, pengembangan diri.
“Kata orang, bahagia itu jangan dicari, cukup syukuri aja nikmat yang Tuhan beri.”Aku hanya tersenyum kecil menanggapi. Tak menjawab, hanya tak mau obrolan ini mengalir lebih panjang. Namun, siapa yang bisa menghentikan seorangan Haris untuk member kata motivasi? Tidak ada. Ya, tidak ada.
“Tia, marah aja sama dunia, nangis aja kalau emang mau, jangan diam nerima semuanya. Emosi tercipta untuk disalurkan, bukan untuk dipendam. Nggak akan yang ngehakimi, kita semua pinya porsi derita masing-masing, kan?”
“Inti yang mau kamu sampaikan apa sih?” Kini aku baru menyela. Tidak, aku tidak marah, nada kalimat yang ku lontarkan datar dan terdengar tanpa nyawa. Tak ada emosi di dalamnya, hanya sekedar pertanyaan lewat, yang aku sendiri muak untuk melanjutkan.
“Nihilisme. Kondisi mental kamu harus ditangani, jangan terus-terusan merasa kamu baik-baik saja, Ti.
“Aku hanya menghela napas. Bersandar di kursi café, lalu menatap mata Haris dengan rasa malas. “Iya aku emang udah gila. Tapi tau nggak, yang lebih gilanya lagi?”
Dia menaikkan sebelah alisnya bertanya tanpa suara. Aku terkekeh kecil, menunduk lalu kembali mengunci netranya. “Kamu pikir kamu nyata?”
Matanya melebar, menatap sekeliling, lalu kembali menatap diriku. Lalu tangannya bergerak, meraba tubuhnya dengan gelisah.
“Kamu tak pernah nyata, Haris. Kamu bentuk imajinasi ku, kamu teman yang ku ciptakan untuk meminimalisir rasa kesepian ini. Kamu bahkan tidak pernah ada. Buku yang kamu baca, semuanya telah pernah aku baca, kaca mata yang melindungi mata mu, adalah kacamata yang satu-satunya milik ku yang telah patah dua tahun lalu, kata-kata yang kamu ucapkan adalah kata-kata yang sudah aku simpan untuk menghibur diriku.
Semua tentang kamu, tercipta dari kepingan diriku. Kamu, tidak pernah ada bahkan ketika aku ingin. Haris, nama mu, nama cinta pertama ku yang telah menikah lima tahun yang lalu. Adanya dirimu, adalah dari kegilaanku.”
Sosok Haris menangis tanpa suara. Menatap aku dalam, lebih dari biasanya. Perlahan, tubuhnya menghilang seolah ditelan bumi, menyisakan aku yang kembali menapak di realita kehidupan.
Aku orang gila yang tidak berkeliling.
Jiwaku rapuh, tanpa amal yang utuh.
Aku tak percaya keajaiban, aku hanya berjalan di jalan yang sama tanpa niat menyeberang.
Kesendirian adalah gambaran diriku. Tak tahu arah jalan pulang.
Tak ada cahaya yang menerangi ketika malam.
Suara yang memanggil saat lapar.
Keputusasaan adalah aku. Tiana yang lahir dari kebahagian, tumbuh dengan kasih sayang, lalu ditinggalkan dalam kebimbangan.
Dan aku, adalah gambaran penderitaan.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






