Dengarkan Artikel
“Hajar!!!!”
“Sudah kalungi ban. Kita bakar seperti dulu!!”
“Setuju!!!!”
“Ambil pertalite!!! Cepat ambil!!!!!”
“Ya!! Ya!! Ya!!!” Seruan gemuruh terdengar kembali.
“Aku pilih kemerdekaan jalanku!!! Aku terlahir tanpa busana. Pulangpun itu pilihanku mau bagaimana!!! Setidaknya aku sembah Tuhanku dengan tiada kemunafikan seperti kalian” desis Arsakha makin pucat.
H. Insani merangsek maju dan berjongkok. Beliau berusaha menopang Arsakha yang lumayan parah dan kuyup oleh keringat bercampur cairan merah.
“Sudah!!! Panggilkan ambulan!!! Ayo kita bawa ke rumah sakit!!!” teriaknya yang melihat hawa dingin menyelimuti kulit Arsakha.
” Lihat sekaratnya susah begitu. Pasti malaikat maut menjambak rambut gondrongnya dan tarik ulur dengan rohnya” kata seorang gamis lagi sambil tertawa. Yang lain juga tak kalah terbahak. Dia lalu menyelinap ambil bata dan melemparnya tepat ke dada Arsakha.
📚 Artikel Terkait
Arsakha tersentak ke belakang tak tertahan. Dia ambruk dan mengejang sebentar menekan bagian dada yang lebam oleh hantaman. Mulutnya terus keluarkan darah merah kehitaman. Wajah H. Insani panik bukan kepalang. Dia minta tolong, tapi semua warga masih diam menonton.
Mata mereka sungguh angkuh melihat Arsakha merenggang nyawa seolah binatang hina.
Dari masjid lain tampak kumandang Azan Isa memanggil. Semua jemaah di sini dengan posisi memunggungi masjid masih fokus menyaksikan tubuh tak bergerak Arsakha di pelataran. Ekspresi H. Insani yang begitu memilukan. Dia merasa hidup, tapi mati menyaksikan keanarkisan warganya terjadi di rumah sang pencipta.
H. Insani menangis sambil tetap memohon agar Arsakha bangun. Tapi percuma, tubuh itu dingin berselimut malam.
Dari pinggir jalan meluncurlah masuk seorang marbot masjid yang rumahnya hanya berjarak 50 meteran dengan sepeda.
Melihat mayat tergeletak bersimbah darah di halaman masjidnya membuat mata marbot itu membelakak tak percaya.
“Lah!!! Bukankah ini pemuda yang ikut salat Magrib tadi??? masyallah kenapa dia!!?
H. Insani terkejut dan langsung memburu.
“Salat Magrib? Tapi aku tak melihat dia Mang?”
“Dia berada pada shaff belakang paling ujung. Saya tanya mengapa nggak ke depan, katanya barisan depan itu pengemudi sementara dirinya hanya penumpang. Ikut nebeng di mana saja asal sampai itu sudah cukup” jawab marbot itu menirukan.
Sungguh sebuah ekspresi sesal yang mendalam terburai dari wajah H. Insani. Tak terkecuali warga yang lain. H. Insani melihat wajah babak belur Arsakha. Dia seka mata pemuda itu yang sedikit terbuka. Mata H. Insani masih bengkak merebang, ia palingkan wajahnya ke samping. Melalui cahaya lampu putih berembun seperti ruh; H. Insani tanpa sengaja menatap kaki marbot. Bagai tersambar petir, mata H. Insani terperanjat manakala melihat kesamaan sandal yang dipakai marbot tersebut dengan sandal miliknya.
–SELESAI–
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





