Dengarkan Artikel
Tak jauh dari pemuda gondrong itu berjalan dengan ekspresi bingung sebuah rombongan berjubah gamis putih baru keluar dari masjid yang jaraknya mungkin 500 meteran.
Tampak mata rombongan berjubah itu menelisik dan mencari pada setiap sudut-sudut tempat. Salah satu di antaranya pria setengah baya bertubuh gempal, berpeci putih dengan dahi hitam; tanpa alas merekatkan tapak kaki pada semen di trotoar jalan.
Mendekati pria gondrong itu rombongan berhenti dengan tatapan penuh keyakinan.
“Mas??!” panggil seorang pria tanpa alas itu.
Pria gondrong menengok sambil terkekang asap rokok di wajahnya.
“Bukankah sandal yang kau gunakan itu mirip kepunyaanku yang barusan hilang??”
Pria gondrong melihat sepasang sandal miliknya.
📚 Artikel Terkait
“Maaf, Pak. Mungkin sandal kita sama mereknya?”
“Tidak??? Sandal itu milik saya” jawab pria itu lagi.
“Sungguh, Pak. Ini punya saya?”
Rombongan berjubah itu mulai mengerubung. Dengan wajah beku tajam dia memandangi perawakan dan penampilan si pemuda urakan dalam poin recehan.
“Mas coba balik sandalnya?” pinta pria yang kehilangan sandal.
Pemuda itu menuruti. Setelah dibalik ternyata ada tanda asing yang pemuda itu tak kenal.
“Nah iya, bukan? Ada jarum pada penguncinya. Itu sandal saya??” kata pria tanpa alas kaki.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





