Dengarkan Artikel
Sebagai seorang lelaki tua yang tak memiliki apa-apa lagi, Momo benar-benar terpuruk. Ia ibarat kayu lapuk yang menunggu saat-saat tumbang di tanah becek.
"Chen Lie Moy, maafkan Abang’’. Itulah ucapan sesal yang meluncur lemah dari mulutnya yang ompong keriput.
Rasa perih akibat diare kembali menggerogoti lambungnya. Kali ini sakitnya bukan main. Ia meringis dan menghentikan gesekan biolanya. Akibat rasa sakit yang tak tertahankan itu, sekujur tubuh Pak Momo mengeluarkan keringat dingin.
‘’Ya Allah..,’’ begitu ia merintih. Ucapan religi dari mulut Pak Momo benar-benar surprise.
Sebab, di sepanjang hayatnya, baru kali ini ia mengucapkan lafal Allah. Kemudian diam.
Bu Siti yang sudah tiga hari tak melihat bayangan Pak Momo, bertanya kepada tetangganya. Warga di lingkungan itu rata-rata bekerja sebagai pemulung dan penarik becak. Karena sibuk mencari nafkah, seolah warga di situ tidak saling mempedulikan.
‘’Sudah seminggu ini saya tidak melihat dia, Bu,’’ ujar Pak Mamat sembari memilih kantong-kantong plastik bekas yang akan ia jual ke pasar tradisional.
📚 Artikel Terkait
‘’Coba ibu panggil. Barangkali ia sedang tidur. Bukankah kamarnya bersebelahan dengan tempat tinggal Bu Siti?’’.
‘’Ya. Saya sudah memanggil dia berkali-kali, tapi tak ada jawaban. Bahkan, pintunya terkunci dari dalam’’.
Mendengar itu Pak Mamat memandang tajam ke wajah Bu Siti. ‘’Lho, ada apa Mat? Kok kau memandangi aku seperti itu?’’.
‘’Itu dia masalahnya, Bu’’.
Wajah Pak Mamat terlihat serius. Lalu ia bangkit dari duduknya. Kantong-kantong plastik bekas yang ia susun rapi tadi, ditinggalnya begitu saja. Ia segera bergegas ke tempat tinggal Pak Momo. Dengan perasaan penuh tanda tanya, Bu Siti mengikutinya dari belakang.
Sesampainya, Pak Mamat memanggil orang tua itu. Tapi tak ada jawaban. Bekali-kali ia panggil, tapi tetap tak ada jawaban. Ia segera mendobrak pintu kamar Pak Momo. Masya Allah! Pak Mamat dan Bu Siti kaget setengah mati. Mereka segera menutup hidungnya.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





