• Latest
Saya Kira Banyak Marah, Ternyata Semua Setuju - IMG 20250227 WA0009 | Essay | Potret Online

Saya Kira Banyak Marah, Ternyata Semua Setuju

Februari 27, 2025
feb80617-be76-419c-9e6f-22ef823bed1a

Trump Akan Tarik Pasukan, Tanda Amerika Kalah Perang Lawan Iran

April 1, 2026
Takwa

Membumikan Nilai Takwa Pascaramadan

April 1, 2026
Romantisme Secangkir Kopi

Romantisme Secangkir Kopi 

April 1, 2026
di ujung Magrib

Di Ujung Magrib

Maret 31, 2026
85645e8f-e49d-463f-8fa4-730280ce2b71

Pentingnya Sastra dalam Sistem Pendidikan Rusia sebagai Landasan Pembentukan Karakter dan Pola Pikir

Maret 31, 2026
Saya Kira Banyak Marah, Ternyata Semua Setuju - 0e417695 171f 4238 b08b 77387e695a57 | Essay | Potret Online

Dari Geopolitik ke Dapur Rakyat: Krisis Global dan Rapuhnya Ekonomi Indonesia

Maret 31, 2026
ba05a86a-c490-46bf-9ae8-c75ef1da62eb

Nasrallah dan Jugendliteratur

Maret 31, 2026
cd371ba6-715d-447b-b94a-30123cf2d952

Pendidikan Hadapi Ancaman Nyata

Maret 31, 2026
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Esai
  • PODCAST
Rabu, April 1, 2026
  • Login
  • Register
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
Saya Kira Banyak Marah, Ternyata Semua Setuju - IMG 20250227 WA0009 | Essay | Potret Online

Saya Kira Banyak Marah, Ternyata Semua Setuju

Rosadi Jamani by Rosadi Jamani
Februari 27, 2025
in Essay, Indonesiana, Korupsi
Reading Time: 3 mins read
0
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Rosadi Jamani

Saya heran. Tulisan saya berjudul “Budaya Korupsi Indonesia Didaftarkan ke UNESCO” saya kira bakal bikin netizen ngamuk. Saya kira mereka bakal menjerit. “Masa sih budaya kita korupsi?” Saya kira para ahli budaya atau menteri budaya akan marah, membantah narasi yang saya buat.

Tapi tidak.

Tak ada yang protes. Tak ada yang bilang saya keterlaluan. Tak ada yang minta saya cabut tulisan itu. Justru mereka setuju. Mendukung. Diam-diam mengangguk di balik layar.
Ini tanda bahwa mereka tak bisa menyangkal. Tanda bahwa, di dunia nyata, korupsi memang sudah jadi budaya.

Lalu saya menulis lagi, “Tinggal Selangkah Lagi, Korupsi Menjadi Kearifan Lokal.” Saya pikir kali ini bakal ada yang berontak. Setidaknya ada satu-dua pejabat yang tersinggung, atau akademisi yang buru-buru menulis bantahan di jurnal. Tapi lagi-lagi… tak ada. Tak ada yang membantah, tak ada yang melawan diksi saya.

Ternyata, semua orang diam bukan karena setuju. Tapi karena mereka tahu, saya tidak salah. “Yang salah itu, orang dalam Lapas, Bang,” celetuk Matasam.

Baca Juga

Ilustrasi artikel

Gara-gara Tahanan Rumah Gus Yaqut, Akhirnya KPK Minta Maaf

Maret 27, 2026
Saya Kira Banyak Marah, Ternyata Semua Setuju - IMG_0406 | Essay | Potret Online

Cerita di Balik OTT: Mengapa Korupsi Kepala Daerah Terus Terjadi?

Maret 20, 2026
Saya Kira Banyak Marah, Ternyata Semua Setuju - 887e0460 14ab 48e6 b6a8 4829c28fbf58 | Essay | Potret Online

Ketika Risiko Bisnis BUMN Dipidanakan

Maret 7, 2026

Kalau memang korupsi sudah seperti kearifan lokal, maka harus ada pedoman yang lebih jelas. Kita tak bisa membiarkan orang-orang korupsi dengan cara yang asal-asalan. Harus ada metode. Harus ada seni. Harus ada langkah-langkah yang elegan, agar seorang koruptor tidak sekadar mencuri, tetapi juga tidak tersentuh hukum.

Maka, inilah panduan elegan sekaligus absurd menjadi koruptor yang tak tersentuh hukum.

Pertama, mulailah dari Skala Kecil. Jangan langsung menyikat miliaran. Nanti kaget, nanti panik. Mulailah dari uang perjalanan dinas fiktif, proyek pengadaan seragam, atau markup anggaran pengadaan bolpoin hingga setara harga iPhone terbaru. Masyarakat tidak peduli kalau “hanya” korupsi kecil-kecilan.

Kedua, bangun jaringan, bukan sekadar jabatan. Jabatan itu penting, tapi jaringan lebih penting. Ente harus punya teman di kepolisian, kejaksaan, pengadilan, media, dan tentu saja, dunia perpolitikan. Jika bisa, jadikan menantu sebagai hakim, anak sebagai anggota DPR, dan istri sebagai komisaris BUMN. Ini bukan nepotisme. Ini investasi perlindungan hukum.

Ketiga, citra amal dan religius adalah kunci. Dirikan yayasan sosial, buat program santunan, bagi-bagi sembako. Pastikan kamera selalu ada saat ente beramal. Setiap sumbangan harus ada plakat nama ente. Lalu, jangan lupa selipkan frasa sakral di setiap pidato, “Saya hanya ingin mengabdi pada negeri.”

Keempat, jangan korupsi sendirian. Selalu ajak banyak pihak, dari staf hingga atasan. Ini bukan sekadar berbagi rezeki, tetapi juga membangun sistem pertahanan. Jika suatu hari ada yang tertangkap, ente bisa berkata, “Saya hanya menjalankan perintah.” Atau, kalau lebih nekat, “Kenapa cuma saya yang ditangkap?”

Kelima, manfaatkan media dan influencer. Saat tersandung kasus, panggil buzzer dan influencer. Bangun narasi bahwa ente korban fitnah, korban politik, atau korban kezaliman sistem. Kalau bisa, rekayasa video ente sedang menangis sambil berkata, “Saya difitnah!” Jangan lupa tambahkan backsound lagu sedih biar lebih dramatis.

Keenam, sakit adalah alibi terbaik. Jika akhirnya tertangkap, pura-puralah sakit. Minimal pakai kursi roda dan masker saat masuk persidangan. Kalau perlu, tambahkan infus sebagai properti. Jika memungkinkan, minta izin berobat ke luar negeri. Kalau tidak, setidaknya minta ruangan tahanan dengan fasilitas VIP.

Ketujuh, jangan khawatir soal hukuman. Ada diskon. Dengan tim pengacara dan koneksi yang tepat, hukuman ente bisa lebih ringan dari maling sendal. Vonis 10 tahun? Bisa jadi 2 tahun. Penjara? Bisa berubah jadi tahanan rumah. Kalau masuk penjara pun, pastikan ente dapat sel khusus dengan AC dan kasur empuk.

Kedelapan, siapkan exit plan yang manis. Jika situasi semakin sulit, ada dua jalan, pura-pura tobat atau menghilang. Pura-pura tobat berarti kembali ke masyarakat sebagai motivator, penceramah, atau pembicara di seminar “Pemberantasan Korupsi.” Jika tidak, kaburlah ke negara tanpa perjanjian ekstradisi, beli vila di tepi pantai, dan nikmati hidup.

Begitulah bila korupsi sah jadi budaya dan local wisdom resmi. Korupsi di negeri ini bukan lagi sekadar kejahatan. Ia telah menjadi seni. Seni merampok uang rakyat dengan keanggunan. Ada teknik, ada prosedur, ada strategi. Bahkan ada alumni sukses yang bisa dijadikan panutan.

Kalau ada yang tersinggung, ya mohon maaf. Ini cuma satire d saat muak lihat tarian koruptor. Atau, jangan-jangan ente merasa tersindir?

ADVERTISEMENT

Catatan: Tips korupsi itu jangan dipakai ya, cukup bacaan nemankan ngopi saja.

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 344x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 342x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 312x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 263x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 204x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare234Tweet147
Rosadi Jamani

Rosadi Jamani

Ketua Satupena Kalbar

Baca Juga

feb80617-be76-419c-9e6f-22ef823bed1a
#Amerika

Trump Akan Tarik Pasukan, Tanda Amerika Kalah Perang Lawan Iran

April 1, 2026
Takwa
Artikel

Membumikan Nilai Takwa Pascaramadan

April 1, 2026
Romantisme Secangkir Kopi
Esai

Romantisme Secangkir Kopi 

April 1, 2026
di ujung Magrib
#Cerpen

Di Ujung Magrib

Maret 31, 2026
Next Post
Saya Kira Banyak Marah, Ternyata Semua Setuju - e76c585c b71b 4151 b1cc 946d87a33a66 1 | Essay | Potret Online

Menelusuri Jejak Ulama Nusantara rentang waktu 1800-1850 Masehi

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Privacy Policy (Kebijakan Privasi)
  • Terms of Service (Syarat dan Ketentuan)
  • Penulis
  • Al-Qur’an

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com