POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Saya Kira Banyak Marah, Ternyata Semua Setuju

Rosadi JamaniOleh Rosadi Jamani
February 27, 2025

Ilustrasi

🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Rosadi Jamani

Saya heran. Tulisan saya berjudul “Budaya Korupsi Indonesia Didaftarkan ke UNESCO” saya kira bakal bikin netizen ngamuk. Saya kira mereka bakal menjerit. “Masa sih budaya kita korupsi?” Saya kira para ahli budaya atau menteri budaya akan marah, membantah narasi yang saya buat.

Tapi tidak.

Tak ada yang protes. Tak ada yang bilang saya keterlaluan. Tak ada yang minta saya cabut tulisan itu. Justru mereka setuju. Mendukung. Diam-diam mengangguk di balik layar.
Ini tanda bahwa mereka tak bisa menyangkal. Tanda bahwa, di dunia nyata, korupsi memang sudah jadi budaya.

Lalu saya menulis lagi, “Tinggal Selangkah Lagi, Korupsi Menjadi Kearifan Lokal.” Saya pikir kali ini bakal ada yang berontak. Setidaknya ada satu-dua pejabat yang tersinggung, atau akademisi yang buru-buru menulis bantahan di jurnal. Tapi lagi-lagi… tak ada. Tak ada yang membantah, tak ada yang melawan diksi saya.

Ternyata, semua orang diam bukan karena setuju. Tapi karena mereka tahu, saya tidak salah. “Yang salah itu, orang dalam Lapas, Bang,” celetuk Matasam.

Kalau memang korupsi sudah seperti kearifan lokal, maka harus ada pedoman yang lebih jelas. Kita tak bisa membiarkan orang-orang korupsi dengan cara yang asal-asalan. Harus ada metode. Harus ada seni. Harus ada langkah-langkah yang elegan, agar seorang koruptor tidak sekadar mencuri, tetapi juga tidak tersentuh hukum.

Maka, inilah panduan elegan sekaligus absurd menjadi koruptor yang tak tersentuh hukum.

Pertama, mulailah dari Skala Kecil. Jangan langsung menyikat miliaran. Nanti kaget, nanti panik. Mulailah dari uang perjalanan dinas fiktif, proyek pengadaan seragam, atau markup anggaran pengadaan bolpoin hingga setara harga iPhone terbaru. Masyarakat tidak peduli kalau “hanya” korupsi kecil-kecilan.

📚 Artikel Terkait

Wajah Negeriku

5 Cara Melindungi Anak dari Predator Seksual

INNALILLAH MENJADI ALHAMDULILAH

Rasuna Said: Singa Podium yang Mengguncang Zaman

Kedua, bangun jaringan, bukan sekadar jabatan. Jabatan itu penting, tapi jaringan lebih penting. Ente harus punya teman di kepolisian, kejaksaan, pengadilan, media, dan tentu saja, dunia perpolitikan. Jika bisa, jadikan menantu sebagai hakim, anak sebagai anggota DPR, dan istri sebagai komisaris BUMN. Ini bukan nepotisme. Ini investasi perlindungan hukum.

Ketiga, citra amal dan religius adalah kunci. Dirikan yayasan sosial, buat program santunan, bagi-bagi sembako. Pastikan kamera selalu ada saat ente beramal. Setiap sumbangan harus ada plakat nama ente. Lalu, jangan lupa selipkan frasa sakral di setiap pidato, “Saya hanya ingin mengabdi pada negeri.”

Keempat, jangan korupsi sendirian. Selalu ajak banyak pihak, dari staf hingga atasan. Ini bukan sekadar berbagi rezeki, tetapi juga membangun sistem pertahanan. Jika suatu hari ada yang tertangkap, ente bisa berkata, “Saya hanya menjalankan perintah.” Atau, kalau lebih nekat, “Kenapa cuma saya yang ditangkap?”

Kelima, manfaatkan media dan influencer. Saat tersandung kasus, panggil buzzer dan influencer. Bangun narasi bahwa ente korban fitnah, korban politik, atau korban kezaliman sistem. Kalau bisa, rekayasa video ente sedang menangis sambil berkata, “Saya difitnah!” Jangan lupa tambahkan backsound lagu sedih biar lebih dramatis.

Keenam, sakit adalah alibi terbaik. Jika akhirnya tertangkap, pura-puralah sakit. Minimal pakai kursi roda dan masker saat masuk persidangan. Kalau perlu, tambahkan infus sebagai properti. Jika memungkinkan, minta izin berobat ke luar negeri. Kalau tidak, setidaknya minta ruangan tahanan dengan fasilitas VIP.

Ketujuh, jangan khawatir soal hukuman. Ada diskon. Dengan tim pengacara dan koneksi yang tepat, hukuman ente bisa lebih ringan dari maling sendal. Vonis 10 tahun? Bisa jadi 2 tahun. Penjara? Bisa berubah jadi tahanan rumah. Kalau masuk penjara pun, pastikan ente dapat sel khusus dengan AC dan kasur empuk.

Kedelapan, siapkan exit plan yang manis. Jika situasi semakin sulit, ada dua jalan, pura-pura tobat atau menghilang. Pura-pura tobat berarti kembali ke masyarakat sebagai motivator, penceramah, atau pembicara di seminar “Pemberantasan Korupsi.” Jika tidak, kaburlah ke negara tanpa perjanjian ekstradisi, beli vila di tepi pantai, dan nikmati hidup.

Begitulah bila korupsi sah jadi budaya dan local wisdom resmi. Korupsi di negeri ini bukan lagi sekadar kejahatan. Ia telah menjadi seni. Seni merampok uang rakyat dengan keanggunan. Ada teknik, ada prosedur, ada strategi. Bahkan ada alumni sukses yang bisa dijadikan panutan.

Kalau ada yang tersinggung, ya mohon maaf. Ini cuma satire d saat muak lihat tarian koruptor. Atau, jangan-jangan ente merasa tersindir?

Catatan: Tips korupsi itu jangan dipakai ya, cukup bacaan nemankan ngopi saja.

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Rosadi Jamani

Rosadi Jamani

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Kontribusi Umat Islam Terhadap Peradaban Dunia

Menelusuri Jejak Ulama Nusantara rentang waktu 1800-1850 Masehi

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00