Dengarkan Artikel
Angin sore berhembus lembut, membelai dedaunan dan membuat rerumputan bergoyang perlahan. Di bawah langit yang mulai merona keemasan, Jamila berdiri di hadapan sebuah nisan yang telah lima tahun tak pernah ia lupakan. Dengan hati-hati, ia meletakkan seikat bunga lily putih di atasnya, mengusap permukaan batu yang bertuliskan nama suaminya: Akbar Rahmatullah.
“Assalamualaikum, Akbar…” suaranya lirih, namun penuh kehangatan. Seolah-olah ia tengah berbicara dengan seseorang yang masih bisa menjawab.
Duduk bersimpuh di samping pusara, Jamila menarik napas dalam, membiarkan semua kenangan mengalir dalam benaknya. Lima tahun berlalu sejak kepergian Akbar. Lima tahun yang penuh dengan perjuangan, tangisan, dan tawa yang kembali ia temukan sedikit demi sedikit.
“Aku sudah lulus, Akbar… Aku berhasil menyelesaikan kuliahku seperti yang kau inginkan,” ucapnya dengan senyum tipis. “Tidak mudah, tapi aku tetap bertahan. Aku bekerja di salah satu perusahaan besar sekarang. Aku ingin kau tahu kalau aku baik-baik saja.”
Matanya berkaca-kaca, bukan hanya karena kesedihan, tapi juga kebanggaan. Ia berhasil melanjutkan hidup, seperti yang diminta Akbar dalam surat terakhirnya.
“Arya sudah delapan tahun sekarang. Dia tumbuh menjadi anak yang pintar, mirip sekali denganmu. Ia suka membaca, suka bertanya banyak hal, dan selalu ingin tahu tentang ayahnya. Aku sering menceritakan tentangmu padanya. Tentang bagaimana ayahnya adalah pria yang penuh kasih sayang, yang ingin melihatnya tumbuh bahagia.”
📚 Artikel Terkait
Jamila menghela napas pelan, tangannya mengusap nisan suaminya dengan lembut.
“Kadang aku masih bertanya-tanya… Bagaimana jika kau masih di sini? Bagaimana jika kita masih bisa berbagi mimpi bersama? Tapi aku tahu, Akbar… Kau ingin aku bahagia. Kau ingin aku melangkah ke depan, bukan terperangkap dalam kesedihan.”
Angin kembali berhembus, seolah membisikkan jawaban yang tak terdengar. Hatinya terasa lebih ringan dari sebelumnya. Meskipun kehilangan itu masih ada, ia telah belajar menerima bahwa cinta tidak selalu harus diiringi dengan kehadiran. Cinta sejati tidak akan pernah usang, meskipun waktu terus berjalan.
Dengan hati yang lebih tenang, Jamila berdiri. Ia menatap langit yang mulai berubah warna, senja yang indah seolah menjadi pertanda bahwa keindahan selalu ada, bahkan setelah kehilangan.
“Aku akan terus hidup, Akbar. Aku akan terus menjaga Arya. Aku akan terus mengejar kebahagiaan, seperti yang kau inginkan. Dan aku akan selalu mencintaimu, dalam cara yang tak akan pernah pudar.”
Jamila tersenyum, lalu melangkah pergi. Angin berhembus lembut, membawa serta doa dan kenangan yang akan selalu abadi.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





