Dengarkan Artikel
Ya, biasalah, jawabku. Masyarakat kita sering berprinsip, “ Yang penting di rumah bersih, tanpa sampah”. Soal sampah dibuang atau dititipkan di pinggir jalan raya, di trotoar atau bahkan di dekat rumah orang, itu bukan urusan kita. Itu urusannya Dinas Kebersihan. Gila bukan?
Ya, begitulah adanya, kataku pada sang teman. Lalu, karena ia sudah menyinggung soal sampah, ya aku akhirnya harus lebih dahulu membicarakan soal itu kepadanya. Sebab, ketika membawanya ke warung kopi Gerobak yang selama ini menjadi langganan ngopiku, aku mau atau tidak, aku yang juga sangat concern dengan masalah sampah dan kebersihan lingkungan ikut tertarik membahas hal itu kepadanya.
“ Sebagai putera Aceh yang menjadi warga kota Banda Aceh, aku sangat menikmati tinggal atau menetap di kota ini”. Ya kota kecil yang tidak dihantui oleh rasa takut, Misalnya takut dirampok, takut dicopet-atau takut kalau nanti diganggu oleh para pemabuk dan sebagainya. Pokoknya hidup di Banda Aceh secara security dan kemudahan mencari makanan atau lokasi kuliner yang beragam, rasa aman itu sangat tinggi. Anda sebagai pendatang, juga tidak perlu takut di kota ini. Anda bisa berjalan siang atau malam hari, tanpa ada yang menggangu, apalagi mencopet atau merampok. Insya Allah aman. Ya, selama ini begitulah, kataku lagi.
Namun, soal sampah. Ada baiknya kuceritakan seperti apa yang aku ketahui atau amati. Ya, sebagai orang yang peduli dan concern terhadap masalah sampah di kota ini, aku juga sering merasa prihatin, sakit hati dan bahkan geram ketika melihat ada sampah-sampah yang dibuang atau dititipkan di pinggir jalan, di bawah pohon, atau juga di trotoar-trotoar serta di pinggiran parti atau drainase di sepanjang jalan. Sebenarnya ada yang salah terkait tata kelola sampah di kota yang menjadi ini kota Aceh ini, ceritaku pada sang sahabat yang baru pertama kali datang di tanah rencong ini. Walau sebenarnya para petinggi negeri yang ada di wilayah ini sudah banyak study banding atau pelesiran ke luar daerah dan luar negeri, tapi tidak banyak berubah. Apa memang mereka ke sana Belajar atau study banding ya? Tanyaku dengan nada heran.
Ya, seringnya aku melihat perilaku dan cara mengatasi masalah sampah di kota kesayanganku ini membuat aku sering menyelutuk sendiri. Kadang keluar ungkapan “keterlaluan sekali orang atau masyarakat yang membuang atau meletakan bungkusan-bingkusan sampah di atas trotoar atau di sisi jalan hingga berserakan ke badan jalan”. Apalagi sering pula ditemukan ada bungkusan sampah yang dibuang atau dititipkan orang di lorong bawah jembatan yang fungsinya untuk menyeberang jalan itu. Keterlaluan, bukan?
Ya, tentu sangat keterlaluan, dan bahkan dalam bahasa kasarnya sering Dikatakan “tak punya otak” Dasar tidak bermudaya bersih dan segalanya. Aku sangat terganggu dengan bungkusan-bungkusan sampah yang diletakan oleh orang atau sebut sajalah oknum masyarakat( Biar seperti Pemerintah yang suka dengan kata oknum) di kota Banda Aceh yang setiap tahun dapat anugerah piala Adipura. Kadang pula dalam pikiranku muncul nada ejekan yang mengatakan penghargaan bergengsi yang disebut adipura itu dengan plesetan adı pura-pura. Ya, karena piala-atau penghargaan seperti itu sering dianggap oleh masyarakat sebagai anugerah yang tidak sesuai antara kata dan perbuatan. Karena secara kasat mata, kita melihat tata kelola sampahnya berantakan, tapi mendapat anugerah tertinggi dan berturut-turut selama 10 tahun mendapat anugerah. Sementara tata kelola sampah masih sangat kuno, kalau tidak boleh kita sebut kolot.
Hmm, belum selesai pembicaraan kami mengenai sampah, kami tiba d Gerobak Arabica coffee untuk menyeruput kopi. Aku memesan minuman kesukaanku avocado espresso dan temanku memesan segelas kecil espresso. Aku pun seperti biasa memarkirkan mobil di depan POTRET Gallery yang jaraknya hanya sekitar 30 meter itu. Lalu, sambil menunggu disajikan kopi untuk kami, aku melanjutkan perbincangan mengenai sampah yang kami saksikan di sepanjang jalan yang kami lewati.
Kami duduk saling berhadapan. Aku, yang berlagak seperti orang penting dan setiap suara atau ucapan yang didengar, selanjutnya mengatakan bahwa aku sebagai bagian dari warga kota ini setiap hari melihat atau menyaksikan perilaku buruk atau wajah buruk sendiri (warga kota) kala melihat tata cara masyarakat membuang sampah yang menitipkan di tempat yang bukan selayaknya itu, selalu jengkel atau kesal itu muncul setiap kali melihat sistem tata kelola sampah di kota Banda Aceh ini. Tentu wajar saja kalau aku merasa prihatin dan bertanya, mengapa bisa begini.
📚 Artikel Terkait
Selalu saja muncul rasa marah ketika melihat masyarakat yang menitipkan sampah setiap hari di pinggir jalan, seperti di atas trotoar, malah ada di atas median jalan dan juga di bawah jembatan serta di pinggir drainase di beberapa sudut kota Banda Aceh itu. Apalagi ketika dikaitkan dengan daerah yang menyandang status negeri syariat. Malu rasanya, ketika dikaitkan dengan negeri syariat, sebab kalau masyarakat yang bersyariat, pasti selalu menjaga kebersihan kapan saja dan di mana saja.
Bagiku, ada lagi yang sering mengganggu pikiran dan penglihatan. Ketika pagi atau sore hari berjalan kaki atau jogging, mata dan rasa sering terganggu dengan sampah-sampah daun yang menutupi pedastrian track. Sehingga menggangu nikmatnya jalan atau jogging pagi atau sore hari.
Aku sendiri sering bertanya pada diriku, mengapa pedastrian track diperlakukan seperti anak tiri. Apa mungkin ketika dibangun dulu hanya atau sekadar bisa menghabiskan anggaran atau karena ada perhatian terhadap kebutuhan pejalan kaki dan kaum disabilitas? Tentu saya tidak punya jawaban untuk itu, karena saya bukan pejabat yang punya program untuk itu. Yang jelas, kalau sekarang kita lewati pedastrian track itu, kita akan melihat atau menyaksikan pedastrian track yang kotor atau bersampah. Herannya saya, badan jalan ada yang membersihkan atau menyapu, tetapi pedastrian track itu tidak ada yang membersihkannya. Aneh sekali, ya kan?
Entah lah, Padahal, pedastrian track itu sangat bermanfaat bagi masyarakat pejalan kaki. Menjadi track yang aman dan nyaman, apalagi kalau tidak dirampas untuk parkir kendaraan bermotor, seperti sepeda motor dan mobil-mobil, serta digunakan sebagai tempat usaha.Pasti sangat beradab rasanya masyarakat dan pemerintah kita. Namun sayangnya, fasilitas itu menjadi tidak termanfaatkan dengan baik.
Tanpa terasa, segelas avocado espresso sudah ludes diseruput. Begitu pula teman dan tamu yang saya jamu dengan segelas espresso. Ia juga sudah sampai pada titik terakhir. Namun diskusi kami mengenai sampah dan pedastrian track belum selesai. Artinya masih panjang. Sebab belum tuntas aksi investigasi dan identifikasi masalah sampah. Belum lagi ada analisis, mencari apa faktor penyebabnya, baik internal, maupun eksternal serta belum ada justifikasi yang yang mengarah pada upaya memberikan solusi dan strategi mengatasinya.
Apalagi dalam hal sampah kota ini, akü sangat yakin seyakin yakinnya bahwa masyarakat pasti tidak mau disalahkan. Bisa jadi akan marah, kalau mereka kita jadikan sebagai pihak yang disalahkan. Begitu juga dengan pihak pemerintah kota dan Provinsi. Pasti mereka akan melemparkan kesalahan itu pada pihal lain.
Bagi masyarakat, pasti akan mematuhi ujaran pemerintah kota serius dan tugas dalam tata kelola sampah kota tersebut. Misalnya kalau pemerintah menyediakan fasilitas penampun sampah atau container yang bersih dan mencukupi, dengan membuat regulasi penggunaan, serta adanya reward and punishment, aku yakin masyarakat akan tertib membuang sampah. Tentu saja, perlu upaya penglibatan semua masyarakat untuk secara bersama menjaga kebersihan kota. Sebab, kalau fasilitas container itu cukup tersedia, pihak gampong pun bisa menjadi watchdog di kawasan desa mereka. Buat larangan yang lebih edukatif, bukan membuat garis larangan yang sifatnya sangat sementara itu, tetapi secara berkelanjutan membangun kesadaran masyarakat tertib membuang sampah.
Langkah edukasi lewat berbagai cara dan media, serta seriusnya Pemerintah kota menyediakan sarana penampungan sampah terpadu akan berdampak lebih lama dan lebih jauh, akan sangat membantu upaya menjaga kota Banda Aceh yang bersih, asrı, sejuk, aman dan indah dipandang mata. Tentu saja Pemerintah kota Banda Aceh harus konsisten dan tidak hipokritik.
Ternyata jadi panjang ceritanya. Avocado espresso dan segelas kecil espresso sudah habis diseruput, sang tamu ingin sejenak beristirahat, aku pun mengantarkan sang teman atau sahabat ke penginapan agar bisa istirahat sejenak.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





