POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Tubuh-Tubuh yang Ditelanjangi di Sekolah

RedaksiOleh Redaksi
February 22, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Mila Muzakkar

(Sejumlah siswi SMA di Cianjur, Jawa Barat, diminta melakukan tes urine untuk cek kehamilan oleh pihak sekolah) (1)


Di kelas yang seharusnya menjadi ladang ilmu,
hari ini, sesuatu mati di sana.
kebebasan, harga diri, dan kepercayaan kami, hancur berserakan di lantai dingin,
diinjak-injak tanpa ampun.

Seragam putih abu-abu ini ternoda,
bukan oleh tinta atau kecerobohan,
tapi oleh tangan-tangan mereka yang disebut pendidik.

Satu-persatu, kami dipanggil,
bukan sebagai murid, bukan sebagai pemimpi,
tapi sebagai angka dalam daftar tersangka, seperti buronan yang siap diperiksa.

Di bawah sengatan matahari,
kami berbaris dalam diam,
saling menggenggam tangan yang gemetar.

Mata kami saling bertanya, “Apa yang telah kami lakukan? Mengapa tubuh ini harus dicurigai?”

Di ambang pintu, seorang guru berdiri,
perempuan paruh baya dengan sorot mata dingin.
Sepatu haknya mengetuk lantai seperti palu hakim, seakan vonis sudah dijatuhkan bahkan sebelum kami tahu apa yang terjadi.

“Satu per satu masuk ke dalam,” katanya datar. “Jangan melawan. Ini demi kebaikan kalian.”

Amel, siswi berambut panjang itu, berdiri paling depan, menggigit bibirnya.
Tangannya gemetar, suaranya pecah, tapi keberaniannya tak runtuh: “Bu, kami mau diapakan? Kenapa hanya siswi perempuan yang dikumpulkan?

Guru itu menghela napas, seolah bosan dengan perlawanan. “Ini bukan hukuman, hanya pemeriksaan.”

Amel peserta pertama,
Sekujur tubuhnya dingin,
pipinya menjadi aliran sungai yang tak terbendung.

Seisi ruangan membeku,
angin pun tak berani berbisik.
Kami dibawa ke ruang kosong, dingin, tak berjiwa.
Dinding-dinding beton berdiri tegak, menjadi saksi bisu.

📚 Artikel Terkait

Gemerlap Danantara

Ilusi “Ekonomi Hijau” pada Kelapa Sawit

Menolak Tegas PROKER Irrasional BEM USK Banda Aceh

HABA Si PATok

Tubuh kami diperiksa, disentuh tanpa izin, seolah kami hanya lembaran kertas yang bisa dibolak-balik sekenanya.

“Angkat bajumu sedikit,” kata seorang guru, dengan suara yang datar, seolah ini hal yang biasa.
Barisan tubuh-tubuh itu bak patung tak bernyawa,
yang tak punya hak, tak punya perasaan, semua dirampas semaunya.

Siska, seorang siswi berjilbab, terbakar hatinya,
pipinya memerah, bak api yang siap membakar hamparan hutan sawit Kalimantan.

Dengan tangan bergetar, ia memberanikan
diri melawan, “Bu, bukankah Ibu yang bilang, sekolah adalah tempat menimba Ilmu? Tempat kami menggantungkan cita-cita setinggi langit? Mengapa masalah kehamilan juga diurus di sekolah?

Amel, juga ikut meradang.
Ia menjadi singa yang siap menerkam mangsa. “Seandainya anak perempuan Ibu juga dites kehamilan, Ibu akan menerima sebagai kewajaran?”, ucapnya tegas.
Gurunya diam, matanya menghindar, bibirnya bergerak tanpa suara.

Kami menelan air mata yang mendidih di dada.
Adegan ini lebih kejam dari mimpi buruk.

Di luar, semilir angin membawa suara-suara kecurigan. “Siapa saja yang sedang diperiksa?” “Siapa yang sudah tidak perawan?”
Suara-suara itu tak ubahnya petir di antara terik matahari.

Kami melangkah keluar dengan kepala tertunduk,
bukan karena bersalah,
tapi karena rasa malu yang mereka paksakan.

Amel menatap jendela, berbisik lirih, “Apakah para penguasa melihat ini? Mereka yang duduk di Senayan, mereka yang menyebut dirinya Menteri Pendidikan?


Malam-malam kami tak lagi sunyi.
Dalam mimpi, kami masih dipanggil, diperiksa, seperti bukan manusia seutuhnya.

Di sudut kamar, Amel berbisik pada bayangannya sendiri, “Mungkinkah esok akan lebih adil pada perempuan?

Di koridor sekolah, kenangan tergantung di dinding.
Tak ada yang berbicara,
tapi semua tahu, ada luka yang tak terlihat, yang selamanya menganga.

Saat mentari terbit,
dengan kepala tegak meski langkah berat, kami membawa luka ini, melangkahkan kaki ke gedung-gedung yang membisu itu.
Sebab katanya, di sanalah kami akan dididik menjadi pintar dan sukses.

Nyatanya, sekolah tak ubahnya penjara yang dihuni barisan polisi moral.
Mereka mengajarkan kami bahwa moral tak apa diinjak-injak di depan keramaian,
bahwa perkara hamil adalah urusan perempuan saja, yang terjadi dengan sendirinya, tanpa laki-laki di sana.

Amel menatap langit.
Di sana, ia melihat Ki Hajar Dewantara menangis.
Amel pun menelan ludahnya,
memegang dadanya yang sesak,
dan ikut mengurai air mata bersama Bapak pendidikan itu.

Depok, 21 Februari 2025

Catatan

Puisi Esai ini dibuat dengan bantuan AI
(1)
https://www.detik.com/jabar/berita/d-7747905/tes-kehamilan-siswi-sma-di-cianjur-dprd-jabar-bakal-panggil-kepala-sekolah.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 73x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 60x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 56x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 52x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya

Masih Menguntungkah Bisnis Warung Kopi di Kutaraja

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00