• Latest
Demokrasi Sebagai Topeng - IMG_9414 | # Kebijakan Trump | Potret Online

Demokrasi Sebagai Topeng

Januari 15, 2026
de2293cc-7c03-4d26-8a68-a4db3f4d65b4

Sinergi Fiskal Syariah: Navigasi Zakat Perdagangan di Era Mata Uang Modern

April 21, 2026
4fb2b103-7d0d-484c-ba9b-02ec8de8ff7a

Perempuan Hebat, Perjuangan Tak Terlihat: Refleksi Hari Kartini dalam Cahaya Islam

April 21, 2026
819dc996-4ffe-43e0-a861-db43521da05d

Dr. Damanhur Yusuf Abbas: The Living Reference tentang Syariat Islam di Kota Lhokseumawe

April 21, 2026
74fe2ae1-328a-4b59-b339-daae1b4ea490

50 Santri Tumbang Keracunan MBG di Demak

April 20, 2026
Demokrasi Sebagai Topeng - 754B442E 63B1 4486 A85F 1FC79850CE02 | # Kebijakan Trump | Potret Online

Memilih Pendidikan, Memilih Masa Depan

April 20, 2026
IMG_0871

Demokrasi yang Takut Penontonnya

April 20, 2026
IMG_0870

Demokrasi, Islam, dan Keindonesiaan: Etika yang Terlupa dalam Ruang Kekuasaan

April 20, 2026
Untitled design

Anak Pertama: Benarkah Selalu Lebih Mandiri dan Dewasa?

April 20, 2026
Selasa, April 21, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Demokrasi Sebagai Topeng

Redaksi by Redaksi
Januari 15, 2026
in # Kebijakan Trump, #Ekonomi, Amerika, Politik
Reading Time: 4 mins read
0
Demokrasi Sebagai Topeng - IMG_9414 | # Kebijakan Trump | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS


Venezuela Dan Nafsu Imperium  Atas Sumber Daya  (MembacaVenezuela dalam Bayang-Bayang Kolonialisme Gaya Baru)

Oleh: Dr (Cand) Muhammad Abrar, M.E

Dunia modern gemar menyebut dirinya telah memasuki era pascakolonial. Penjajahan dianggap usai, ketika bendera asing diturunkan dan pemerintahan lokal berdiri di istana-istana nasional. Namun sejarah tidak pernah sesederhana itu. Kolonialisme tidak mati; ia berevolusi. Ia menanggalkan wajah kasar kekerasan fisik dan menggantinya dengan mekanisme yang lebih halus, lebih canggih, dan jauh lebih sulit dikenali. 

Venezuela adalah salah satu panggung tempattransformasi itu dipertontonkan secara telanjang. Dalam wawancara dengan Sky News, Alfred de Zayas mantan Pelapor Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa menyampaikan kritik yang mengguncang narasi arus utama. Ia menegaskan bahwa sikap keras Amerika Serikat terhadap Presiden Venezuela Nicolás Maduro tidak berakar pada kepedulian terhadap demokrasi atau kemanusiaan, melainkan pada kepentingan ekonomi strategis yang sangat besar. 

Pernyataan ini bukan tuduhan emosional, melainkan pembacaan realistis atas  sejarah panjang hubungan antara kekuasaan global dan negara-negara kaya sumber daya. Venezuela bukan sekadar negara dengan instabilitas politik. Ia adalah simpul geopolitik dunia. Di bawah tanahnya tersimpan cadangan minyak terbesar di planet ini. Energi yang selama lebih dari satu abad menjadi darah kehidupan kapitalisme global. 

Selain itu, Venezuela juga memiliki emas, koltan, dan litium mineral strategis yang menentukan masa depan teknologi, industri militer, dan transisi energi global. 

Dalam sistem dunia yang masih digerakkan oleh logika akumulasi, kekayaan semacam ini jarang dipandang sebagai hak bangsa, melainkan sebagai “aset global” yang harus dapat diakses oleh kekuatan dominan.

Di sinilah kolonialisme gaya baru bekerja. Tidak lagi melalui pendudukan langsung, tetapi melalui pengondisian struktural. Ketika suatu negara memilih jalur pembangunan yang tidak sejalan dengan kepentingan pasar global atau kekuatan besar, ia segera diposisikan sebagai “masalah internasional”.  Krisis ekonomi dibingkai sebagai kegagalan rezim. Ketegangan politik dipersepsikan sebagai ancaman stabilitas global, dan penderitaan rakyat digunakan sebagai alasan moral untuk campur tangan.

Narasi demokrasi memainkan peran sentral dalam mekanisme ini. Demokrasi, yang seharusnya menjadi nilai emansipatoris, direduksi menjadi alat legitimasi. Ia tidak lagi berbicara tentang kedaulatan rakyat, melainkan tentang kesesuaian suatu rezim dengan kepentingan geopolitik tertentu. 

Ketika sebuah pemerintahan terpilih secara elektoral tetapi tidak patuh pada arsitektur kekuasaan global, legitimasi politiknya dipertanyakan. Sebaliknya, rezim yang represif dapat ditoleransi selama ia menjamin stabilitas investasi dan aliran sumber daya.

De Zayas menyebut bahwa Amerika Serikat tidak memilih jalur kerja sama yang adil atau perdagangan setara dengan Venezuela. Sebaliknya, yang ditempuh adalah strategi delegitimasi dan tekanan sistemik: sanksi ekonomi, isolasi diplomatik, dan perang narasi. Inilah bentuk kolonialisme tanpa pendudukan penaklukan melalui kelaparan ekonomi, bukan invasi militer terbuka.

Sanksi, dalam kerangka ini, bukan instrumen netral. Ia adalah senjata politik. Dampaknya tidak jatuh pada elite kekuasaan semata, melainkan menghantam rakyat biasa: akses terhadap pangan, obat-obatan, energi, dan layanan dasar. 

Ironisnya, penderitaan yang dihasilkan oleh sanksi inilah yang kemudian dijadikan bukti kegagalan rezim, sehingga siklus intervensi terus berulang. Kekerasan struktural ini jarang disebut sebagai pelanggaran hak asasi manusia, karena ia dilakukan atas nama moralitas itu sendiri.

Kasus Venezuela memperlihatkan paradoks besar dunia kontemporer: kemanusiaan sering kali menjadi bahasa legitimasi bagi kebijakan yang justru memperdalam penderitaan manusia. Demokrasi dijadikan topeng etis untuk menutupi kepentingan ekonomi yang tidak pernah netral. Dalam logika imperium, nilai hanya penting sejauh ia berguna.

Pola ini bukan anomali, melainkan bagian dari struktur global. Dari Iran hingga Libya, dari Irak hingga Kongo, sejarah modern dipenuhi contoh bagaimana negara-negara kaya sumber daya mengalami tekanan politik yang dibungkus dengan narasi moral. 

Nama dan konteksnya berubah, tetapi logikanya tetap sama: siapa yang menguasai energi dan mineral, ia menguasai arah dunia. Venezuela, dengan demikian, harus dibaca bukan sebagai kasus deviasi, melainkan sebagai cermin. Ia memantulkan wajah dunia yang belum selesai dengan masa lalunya. 

Dunia yang berbicara tentang kebebasan, tetapi takut pada kedaulatan sejati. Dunia yang memuja demokrasi, tetapi mencurigai pilihan rakyat ketika hasilnya tidak sesuai dengan kepentingan global.

Kolonialisme gaya baru tidak membutuhkan gubernur jenderal atau bendera asing. Ia bekerja melalui lembaga keuangan internasional, rezim sanksi, media global, dan bahasa moral yang terdengar luhur. Ia tidak selalu menghancurkan negara secara langsung, tetapi melemahkannya perlahan hingga negara itu dipaksa tunduk atau runtuh dari dalam.

Pernyataan Alfred de Zayas seharusnya dibaca sebagai peringatan serius. Ia mengajak dunia untuk tidak lagi menelan mentah-mentah narasi kemanusiaan yang dilepaskan dari konteks ekonomi politiknya. Ia menuntut kejujuran: bahwa banyak konflik internasional hari ini bukanlah pertarungan nilai, melainkan pertarungan kepentingan.

Selama kekayaan alam masih dianggap sebagai alasan sahuntuk meniadakan kedaulatan, selama demokrasi masih dijadikan alat selektif, dan selama penderitaan rakyat masih bisa diperdagangkan sebagai legitimasi politik, maka, kolonialisme dalam bentuk apa pun akan terus hidup.

Venezuela hari ini adalah pelajaran pahit bagi dunia selatan global. Bahwa menjadi kaya sumber daya di tengah sistem dunia yang timpang sering kali berarti menjadi sasaran. Bahwa kemerdekaan politik tanpa kemandirian ekonomi adalah ilusi. Dan bahwa demokrasi, ketika berada di bawah bayang-bayang imperium, kerap dipaksa mengenakan topeng yang bukan miliknya.

Share234SendTweet146Share
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Next Post
Demokrasi Sebagai Topeng - 015d1fa7 a1ec 4be9 88ff 085b6c469014 | # Kebijakan Trump | Potret Online

Aceh dan Strategi Perjuangan Baru: Dari Luka Konflik ke Kriris Ekologi

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com