POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Perempuan: Antara Peran, Stigma, dan Realita Kepemimpinan

Siti HajarOleh Siti Hajar
February 21, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh: Siti Hajar

Perempuan. Makhluk yang kerap disebut dalam hadis sebagai sosok yang “lemah akal dan agamanya.” Namun, di sisi lain, Islam juga menetapkan bahwa laki-laki adalah qawwam bagi perempuan, yakni pemimpin, pelindung, dan pengayom. Pertanyaannya, apakah dengan konsep ini perempuan benar-benar dikecilkan perannya? Ataukah justru mereka diposisikan dalam kedudukan yang lebih terhormat?

Perempuan dan Ruang Marginal. Sejak zaman dulu, perempuan selalu dianggap sebagai kaum marginal (patriarki). Dibatasi ruang geraknya, dikurung dalam tugas domestik: dapur, sumur, dan kasur. Seolah-olah eksistensi mereka hanya sebatas melayani kebutuhan keluarga. Pendidikan tinggi? Jabatan publik? Itu bukan ranah mereka, katanya.

Alhasil, perempuan kerap hanya menjadi bayang-bayang dalam pembangunan, meski peran mereka sejatinya tidak kalah penting dibanding laki-laki.

Namun, benarkah Islam membatasi perempuan? Faktanya, dalam Islam, kedudukan manusia di hadapan Allah hanya ditentukan oleh ketakwaan, bukan gender.

Sejarah mencatat, perempuan-perempuan Islam di masa Rasulullah memiliki peran signifikan. Ada Aisyah yang dikenal sebagai pakar hadist, ada Khadijah yang menjadi pengusaha sukses, dan ada Nusaibah yang berperan dalam medan perang. Islam tidak melarang perempuan untuk berkiprah di masyarakat, hanya saja batasannya jelas: menjaga kehormatan dan mengikuti norma syariah.

Pemahaman menempatkan perempuan hanya sebagai pendamping suami. Tugas utamanya adalah mengurus rumah tangga, mendidik anak, dan menjadi jalan bagi suami menuju surga. Namun, apakah benar perempuan hanya berfungsi sebagai pelengkap? Islam mengajarkan bahwa perempuan juga memiliki peran di luar rumah, sebagaimana ditunjukkan oleh istri-istri Nabi yang berkontribusi dalam dakwah dan sosial.

Ada pula pemahaman yang mengatakan bahwa perempuan yang baik adalah yang tidak terlihat di ruang publik. Aktivitas terbaiknya adalah yang tidak melibatkan dirinya di depan umum. Seolah-olah, semakin tertutup dan tersembunyi, semakin tinggi kehormatannya. Padahal, konsep ini sering kali dimaknai secara keliru.

Perempuan bisa aktif di masyarakat tanpa kehilangan identitas dan kehormatannya. Hanya saja jika dirasakan cukup memiliki kemampuan, tidak hanya sekadar mencukupkan quota dan syarat regulasi semata.

Meski perempuan tidak selalu berada di garda terdepan dalam pertempuran, mereka memainkan peran penting dalam sejarah Islam. Dari mendukung logistik pasukan hingga merawat korban perang, kontribusi mereka tidak bisa diremehkan. Contoh nyata adalah peran para sahabat perempuan dalam menyebarkan ilmu dan mendukung pergerakan Islam.

📚 Artikel Terkait

Pidie Jaya Semakin Bergelora Menyiapkan Penulis Andal Sejak Dini

SEPERTI BULAN DAN MATAHARI

SAMUDERA KASIH

BENGKEL OPINI RAKyat

Kini, perempuan Indonesia tidak lagi sekadar menjadi penonton. Mereka masuk ke ranah politik, ekonomi, dan sosial. Ada yang menjadi direktris perusahaan, menteri, bahkan anggota dewan, meski keterwakilan perempuan di parlemen masih di bawah 30 persen (1999-2024) namun sudah mencapai angka 20 persen lebih di pemilu 2024.

Kepemimpinan perempuan tidak lagi dipandang aneh, meski tantangan yang mereka hadapi masih besar.
Di Aceh sendiri, perempuan telah menduduki posisi penting. Saat ini, ada wali kota perempuan, kepala dinas perempuan dan banyak kepala sekolah perempuan yang turut menentukan arah pembangunan di Aceh.

Namun, ada pula kecurigaan bahwa jabatan perempuan di berbagai sektor pemerintahan dan juga swasta lebih bersifat politis, bukan karena kompetensi semata. Benarkah ini? Mari kita cermati.

Sudah menjadi rahasia umum siapa saja yang menjadi kepala sekolah, baik laki-laki maupun perempuan, saat ini kalau bukan karena mereka berasal dari keluarga pejabat, bisa jadi mereka adalah orang yang ditunjuk agar mudah dikendalikan (Nepotisme dan Kolusi).

Kebijakan mereka bukan untuk kepentingan guru dan siswa, apalagi untuk meningkatkan kualitas lulusan, melainkan untuk menyenangkan pejabat di lingkungannya. Tidak jarang, mereka harus membayar sejumlah uang demi posisi kepala sekolah.

Apa yang kemudian terjadi? Dana BOS, PIP, dan dana lainnya kerap diselewengkan untuk menutupi bayaran yang telah diberikan kepada pejabat yang meluluskan keinginan mereka menjadi kepala sekolah.

Banyak yang mencurigai bahwa perempuan yang menjabat posisi penting hanya mengikuti skenario politik. Di Aceh, di berbagai unit kerja pemerintahan tidak lepas dari pusaran korupsi yang berulang kali berujung pada KPK. Kasus demi kasus mencuat, tetapi hukum sering kali berjalan sekadar formalitas. Pejabat divonis, lalu bebas berkeliaran seakan tidak terjadi apa-apa. Drama hukum ini terus berulang, hanya wajah pelakunya yang berganti.

Berbagai harian surat kabar baru-baru ini memberitakan tentang oknum Kacabdin Aceh Selatan melakukan KKN, menyalahgunakan jabatan dan wewenangnya diantaranya https://beritamerdeka.net/ www.krusial.com dan https://habarakyat.co.id/. Sejumlah pihak gerah dengan perilaku pejabat ini.

Jika mau dicari ada banyak kasus seperti ini terjadi di sejumlah kabupaten kota yang ada di Aceh, tidak hanya Dinas pendidikan, tetapi unit kerja lain juga tidak ada yang benar-benar bersih dari korupsi. Hanya saja nasib baik kadang berpihak kepada mereka, selamat dari penyidikan dan pemeriksaan. Entah doa peurabun apa yang dibacanya.

Sebelum pelantikan Gubernur Aceh terpilih Muzakkir Manaf dan Fadlullah menyusun RPJM Aceh, perempuan nyaris tidak terlibat dalam tim penyusunan kebijakan tersebut. Seolah-olah, suara mereka tidak diperlukan dalam menentukan arah pembangunan daerah. Padahal, partisipasi perempuan dalam kebijakan publik sangat penting untuk menciptakan keseimbangan perspektif.

Pertanyaannya, mengapa perempuan selalu memiliki nilai tawar rendah dalam politik? Apakah karena kurangnya pendidikan dan kapabilitas? Atau, apakah ini kembali ke narasi klasik bahwa perempuan lemah akal dan agamanya sehingga tidak pantas menjadi pemimpin publik? Jika benar demikian, bagaimana mungkin banyak negara lain telah memiliki pemimpin perempuan yang sukses?

Siapapun kita-perempuan bersiaplah menjadi pemimpin. Perempuan harus terus menyiapkan diri. Bukan hanya sebagai pendamping laki-laki, tetapi sebagai pemimpin yang layak diperhitungkan. Tidak cukup hanya menunggu kesempatan, tetapi harus aktif dalam membangun kompetensi dan mengambil peran strategis. Fokus di bidang yang ditekuni, jadilah ahli di sana. Jika stigma dan batasan selalu menjadi penghalang, maka perempuan sendiri yang harus meruntuhkannya.

” Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tidak ada yang dapat menolaknya; dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.”

QS. Ar-Ra’d: 11)

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 74x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 74x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 61x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 58x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 53x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share4SendShareScanShare
Siti Hajar

Siti Hajar

Siti Hajar adalah seorang perempuan lahir di Sigli pada 17 Desember. Saat ini tinggal di Banda Aceh dan bekerja sebagai tenaga kependidikan di Fakultas Pertanian USK. Menggemari dunia literasi karena baginya menulis adalah terapi dan cara berbagi pengalaman. Beberapa buku yang sudah cetak, di antaranya kumpulan cerpen, “Kisah Gampong Meurandeh” Novel, Sophia dan Ahmadi, Patok Penghalang Cinta, Beberapa novel anak, di antaranya The Spirit of Zahra, Mencari Medali yang Hilang, Petualangan Hana dan Hani. Ophila si Care Taker. Dan buku Non Fiksi, Empati Dalam Dunia Kerja (Bagaimana Menjadi Bos dan karyawan yang Elegan) Ingin berkomunikasi lebih lanjut bisa menghubungi nomor WhatsApp 085260512648. Email: sthajarkembar@gmail.com

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya

Fenomena Perceraian

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00