• Latest

Perempuan: Antara Peran, Stigma, dan Realita Kepemimpinan

Februari 21, 2025
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Perempuan: Antara Peran, Stigma, dan Realita Kepemimpinan

Siti Hajarby Siti Hajar
Februari 21, 2025
Reading Time: 4 mins read
594
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh: Siti Hajar

Perempuan. Makhluk yang kerap disebut dalam hadis sebagai sosok yang “lemah akal dan agamanya.” Namun, di sisi lain, Islam juga menetapkan bahwa laki-laki adalah qawwam bagi perempuan, yakni pemimpin, pelindung, dan pengayom. Pertanyaannya, apakah dengan konsep ini perempuan benar-benar dikecilkan perannya? Ataukah justru mereka diposisikan dalam kedudukan yang lebih terhormat?

Perempuan dan Ruang Marginal. Sejak zaman dulu, perempuan selalu dianggap sebagai kaum marginal (patriarki). Dibatasi ruang geraknya, dikurung dalam tugas domestik: dapur, sumur, dan kasur. Seolah-olah eksistensi mereka hanya sebatas melayani kebutuhan keluarga. Pendidikan tinggi? Jabatan publik? Itu bukan ranah mereka, katanya.

Alhasil, perempuan kerap hanya menjadi bayang-bayang dalam pembangunan, meski peran mereka sejatinya tidak kalah penting dibanding laki-laki.

Namun, benarkah Islam membatasi perempuan? Faktanya, dalam Islam, kedudukan manusia di hadapan Allah hanya ditentukan oleh ketakwaan, bukan gender.

Sejarah mencatat, perempuan-perempuan Islam di masa Rasulullah memiliki peran signifikan. Ada Aisyah yang dikenal sebagai pakar hadist, ada Khadijah yang menjadi pengusaha sukses, dan ada Nusaibah yang berperan dalam medan perang. Islam tidak melarang perempuan untuk berkiprah di masyarakat, hanya saja batasannya jelas: menjaga kehormatan dan mengikuti norma syariah.

Pemahaman menempatkan perempuan hanya sebagai pendamping suami. Tugas utamanya adalah mengurus rumah tangga, mendidik anak, dan menjadi jalan bagi suami menuju surga. Namun, apakah benar perempuan hanya berfungsi sebagai pelengkap? Islam mengajarkan bahwa perempuan juga memiliki peran di luar rumah, sebagaimana ditunjukkan oleh istri-istri Nabi yang berkontribusi dalam dakwah dan sosial.

Ada pula pemahaman yang mengatakan bahwa perempuan yang baik adalah yang tidak terlihat di ruang publik. Aktivitas terbaiknya adalah yang tidak melibatkan dirinya di depan umum. Seolah-olah, semakin tertutup dan tersembunyi, semakin tinggi kehormatannya. Padahal, konsep ini sering kali dimaknai secara keliru.

Perempuan bisa aktif di masyarakat tanpa kehilangan identitas dan kehormatannya. Hanya saja jika dirasakan cukup memiliki kemampuan, tidak hanya sekadar mencukupkan quota dan syarat regulasi semata.

Meski perempuan tidak selalu berada di garda terdepan dalam pertempuran, mereka memainkan peran penting dalam sejarah Islam. Dari mendukung logistik pasukan hingga merawat korban perang, kontribusi mereka tidak bisa diremehkan. Contoh nyata adalah peran para sahabat perempuan dalam menyebarkan ilmu dan mendukung pergerakan Islam.

Kini, perempuan Indonesia tidak lagi sekadar menjadi penonton. Mereka masuk ke ranah politik, ekonomi, dan sosial. Ada yang menjadi direktris perusahaan, menteri, bahkan anggota dewan, meski keterwakilan perempuan di parlemen masih di bawah 30 persen (1999-2024) namun sudah mencapai angka 20 persen lebih di pemilu 2024.

Kepemimpinan perempuan tidak lagi dipandang aneh, meski tantangan yang mereka hadapi masih besar.
Di Aceh sendiri, perempuan telah menduduki posisi penting. Saat ini, ada wali kota perempuan, kepala dinas perempuan dan banyak kepala sekolah perempuan yang turut menentukan arah pembangunan di Aceh.

Namun, ada pula kecurigaan bahwa jabatan perempuan di berbagai sektor pemerintahan dan juga swasta lebih bersifat politis, bukan karena kompetensi semata. Benarkah ini? Mari kita cermati.

Sudah menjadi rahasia umum siapa saja yang menjadi kepala sekolah, baik laki-laki maupun perempuan, saat ini kalau bukan karena mereka berasal dari keluarga pejabat, bisa jadi mereka adalah orang yang ditunjuk agar mudah dikendalikan (Nepotisme dan Kolusi).

Kebijakan mereka bukan untuk kepentingan guru dan siswa, apalagi untuk meningkatkan kualitas lulusan, melainkan untuk menyenangkan pejabat di lingkungannya. Tidak jarang, mereka harus membayar sejumlah uang demi posisi kepala sekolah.

Baca Juga

8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
Transisi energi dan kendaraan listrik di Indonesia

Transisi Energi Kendaraan Listrik

Maret 27, 2026

Kisah Perempuan POTRET – Zaynab bint al-Kamal

Maret 30, 2026

Apa yang kemudian terjadi? Dana BOS, PIP, dan dana lainnya kerap diselewengkan untuk menutupi bayaran yang telah diberikan kepada pejabat yang meluluskan keinginan mereka menjadi kepala sekolah.

Banyak yang mencurigai bahwa perempuan yang menjabat posisi penting hanya mengikuti skenario politik. Di Aceh, di berbagai unit kerja pemerintahan tidak lepas dari pusaran korupsi yang berulang kali berujung pada KPK. Kasus demi kasus mencuat, tetapi hukum sering kali berjalan sekadar formalitas. Pejabat divonis, lalu bebas berkeliaran seakan tidak terjadi apa-apa. Drama hukum ini terus berulang, hanya wajah pelakunya yang berganti.

Berbagai harian surat kabar baru-baru ini memberitakan tentang oknum Kacabdin Aceh Selatan melakukan KKN, menyalahgunakan jabatan dan wewenangnya diantaranya https://beritamerdeka.net/ www.krusial.com dan https://habarakyat.co.id/. Sejumlah pihak gerah dengan perilaku pejabat ini.

Jika mau dicari ada banyak kasus seperti ini terjadi di sejumlah kabupaten kota yang ada di Aceh, tidak hanya Dinas pendidikan, tetapi unit kerja lain juga tidak ada yang benar-benar bersih dari korupsi. Hanya saja nasib baik kadang berpihak kepada mereka, selamat dari penyidikan dan pemeriksaan. Entah doa peurabun apa yang dibacanya.

ADVERTISEMENT

Sebelum pelantikan Gubernur Aceh terpilih Muzakkir Manaf dan Fadlullah menyusun RPJM Aceh, perempuan nyaris tidak terlibat dalam tim penyusunan kebijakan tersebut. Seolah-olah, suara mereka tidak diperlukan dalam menentukan arah pembangunan daerah. Padahal, partisipasi perempuan dalam kebijakan publik sangat penting untuk menciptakan keseimbangan perspektif.

Pertanyaannya, mengapa perempuan selalu memiliki nilai tawar rendah dalam politik? Apakah karena kurangnya pendidikan dan kapabilitas? Atau, apakah ini kembali ke narasi klasik bahwa perempuan lemah akal dan agamanya sehingga tidak pantas menjadi pemimpin publik? Jika benar demikian, bagaimana mungkin banyak negara lain telah memiliki pemimpin perempuan yang sukses?

Siapapun kita-perempuan bersiaplah menjadi pemimpin. Perempuan harus terus menyiapkan diri. Bukan hanya sebagai pendamping laki-laki, tetapi sebagai pemimpin yang layak diperhitungkan. Tidak cukup hanya menunggu kesempatan, tetapi harus aktif dalam membangun kompetensi dan mengambil peran strategis. Fokus di bidang yang ditekuni, jadilah ahli di sana. Jika stigma dan batasan selalu menjadi penghalang, maka perempuan sendiri yang harus meruntuhkannya.

” Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tidak ada yang dapat menolaknya; dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.”

QS. Ar-Ra’d: 11)

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 360x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 318x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 270x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 263x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 200x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post

Fenomena Perceraian

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com