• Latest
Sungai Yang Meminta Kedatangan - A wide and long river divided by a dam next to a city center | Jalan-jalan | Potret Online

Sungai Yang Meminta Kedatangan

Februari 20, 2025
IMG_0573

Jejak Darah di Terbangan (Bagian Kedua): Para Tawanan, Hukuman Gantung, dan Pulangnya Sang Ulee Balang

April 1, 2026
feb80617-be76-419c-9e6f-22ef823bed1a

Trump Akan Tarik Pasukan, Tanda Amerika Kalah Perang Lawan Iran

April 1, 2026
Takwa

Membumikan Nilai Takwa Pascaramadan

April 1, 2026
Romantisme Secangkir Kopi

Romantisme Secangkir Kopi 

April 1, 2026
di ujung Magrib

Di Ujung Magrib

Maret 31, 2026
85645e8f-e49d-463f-8fa4-730280ce2b71

Pentingnya Sastra dalam Sistem Pendidikan Rusia sebagai Landasan Pembentukan Karakter dan Pola Pikir

Maret 31, 2026
Sungai Yang Meminta Kedatangan - 0e417695 171f 4238 b08b 77387e695a57 | Jalan-jalan | Potret Online

Dari Geopolitik ke Dapur Rakyat: Krisis Global dan Rapuhnya Ekonomi Indonesia

Maret 31, 2026
ba05a86a-c490-46bf-9ae8-c75ef1da62eb

Nasrallah dan Jugendliteratur

Maret 31, 2026
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Esai
  • PODCAST
Rabu, April 1, 2026
  • Login
  • Register
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
Sungai Yang Meminta Kedatangan - A wide and long river divided by a dam next to a city center | Jalan-jalan | Potret Online

Sungai Yang Meminta Kedatangan

Heri Haliling by Heri Haliling
Februari 20, 2025
in Jalan-jalan
Reading Time: 14 mins read
0
588
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Semburat jingga dari cakrawala senja membayang  menyapih di permukaan sungai. Duduk bersila di sebuah kursi dari potongan bambu; Kinong meremang memandangi arus kali yang bertambah pasang itu.

Bunyi lantunan pengajian radio menggema melalui langgar. Kinong ingat manakala masih umur 6 tahun, almarhumah sang ibu sering membawanya untuk bersiap salat magrib jika situasi begini. Tidak sekarang, ketiadaan ibunya yang meninggal karena tenggelam di sungai itu menyisakan deretan kasih yang terputus. Sementara rekam kenangan hanya kerap berujung pada hangatnya air mata. Kinong mengusapnya.

Derap kaki mendekat. Kinong merasakan itu, matanya lalu beralih ke samping di area jalan semen cor dengan luas hanya setengah meter. Bapak pulang, pikirnya penuh harap.

“Bukan seperti yang kau tunggu, Nong.”

Suara Junay, terpaut 3 tahun. Dia sekarang SMA kelas XI. Junay lewat dengan dua rekannya.

“Tiap magrib kau melamun begitu di tepian sungai.   Ibumu sekarang damai. Tak usah lebai berlarut begitu.”

Mendadak uap panas mengasap dari tubuh Kinong. Wajahnya yang semula sendu kini gelap merah dengan aura kusumat yang meradang.

“Ibuku tenggelam tanpa pertolongan dari warga sini. Gaya antisimpatik pakai di dalam kota sana, bukan di kampung ini!”

Junay yang kaget dengan sentakan itu lalu menepis dan balik menghardik.

“Nong! Damkar dan Tim Sar saja nggak pernah berani menjamah arus sungai itu. Orang gila mana yang mau terjun ke air deras dengan pusaran begitu, hah! Lagian memang ibumu saja yang gak bisa dibilangi. Aku jadi saksi saat itu. Warga sini sudah beritahu kalau sungai itu tak stabil bahkan kerap berombak. Belum lagi sungai itu berpenunggu! Ibumu saja yang masih nekat mulung!”

“Sekian tahun aku dan bapakku nyebur di sana! Dasar kalian saja yang nggak punya hati!”

“Itu karena kalian nggak waras, Nong!” ejek yang lain. Tawa mencuat menjadi buli dari masa lalu sampai ke pekerjaan.

“Setidaknya Bapakku bukan pengemis atau penodong seperti sekian dari warga sini!”

Beberapa warga usia dewasa tertarik dan membuka pintu karena mendengar suara nyaring dari Kinong.

Baca Juga

Sungai Yang Meminta Kedatangan - ee438e74 f736 4756 8ffe 13d438513ec5 | Jalan-jalan | Potret Online

Di Jalan Pulang

Oktober 15, 2025
Sungai Yang Meminta Kedatangan - IMG_2154 1 scaled | Jalan-jalan | Potret Online

Sabang: Daerah Wisata, Jalur Free Port dan Harapan Baru

Agustus 21, 2025

HABA Si PATok

Mei 13, 2025

“Kalau anak tidak diajar tata krama memang begitu!”

“Iya. Kebanyakan makan duit bangkai!”

“Mengapa juga masih tinggal di sini! Heran? Sampai sekarang RT nggak ngusir dia dan bapaknya.”

Ledekan dan cemoohan kompak mengisi keseharian Kinong dan Bapaknya. Jika sudah begitu, Kinong hanya melipat tangan, merendam kepala dalam sela dua lututnya yang ditekuk.

“Hentikan! Hentikan!” sergah Pak Prehatin yang baru datang.

“Nah. Makin jelas bukan? Anakmu nggak tau diadap! Itulah kalau keluarga ngeyel dan terus meras orang! Sial terus seumaran!” timpal seorang tetangga.

Pak Prehatin tak menggubris. Ia hanya mendekati Kinong, menariknya untuk bangun.

“Lelaki jangan cengeng. Panjang perjalananmu! Sekarang ayo masuk.”

Dengan diteriaki “Huuuuuu!!!” Ayah dan anak tersebut melangkah kaki ke dalam rumah.

Di dalam rumah yang mayoritas berbahan kayu itu sang ayah duduk bersila. Sambil menaruh satu bungkus bakso pada sebuah mangkok, mata Pak Prehatin sekejap memperhatikan  lantai di tengah ruangan yang bisa dibuka tanpa paku. Di bawahnya air pasang dan  tampak kisaran setengah lengan saja. Perlu perbaikan, pikirnya.

“Kalau hari-hari kamu isi dengan kesedihan tanpa mau mencari kedamaian itu rugi, Nong. Hidup memang begitu. Ledekan dan makian itu yang buat kita kuat. Nih makan, bapak beri banyak cabe biar kamu semangat.”

Kinong yang semula muram mendadak antusias karena tergiur aroma kuah bakso. Ia pun meraih satu sendok dan mencicipi kaldunya. Terasa langsung menjalar dan menghangatkan setiap otot dalam tubuhnya.

“Bagaimana kali ini, Pak?”

Pak Prehatin beralih duduk dan memilih menyandar dinding lalu menyalakan rokok. Asap putih kebiruan mengudara lalu pecah diterpa angin dari jendela yang terbuka.

“Cukup untuk tabunganmu. Sekolah yang pintar dan tinggi. Bapak akan dukung kamu. Jangan turuni nasib Bapak.”

Kinong mengunyah bakso suapan pertamanya. Telinga dan pikirannya tampak fokus menyimak petuah itu. Usai mengunyah dan menelan, Kinong menukas “Junay bilang bahwa sungai itu berpenunggu. Hanya orang tak waras yang berenang di sana. Orang sini selalu menganggap kita meras orang susah. Sebuah pekerjaan yang memalukan sekaligus mengerikan.”

“Nong. Pada masanya kamu pasti akan paham bahwa kengerian sebenarnya itu bukan dari setan atau jin. Yang paling menakutkan itu manusia yang tak pernah peduli dengan sesamanya, Nong!”

“Maksudnya, Pak?”

“Orang bilang kita meras. Padahal jika mau mereka menggunakan otaknya untuk menyingkirkan sentimen, mereka akan ketemu sendiri jawabannya.  Manusia seperti apa yang sering berpasrah tanpa berusaha. Ada anggota keluarga yang tenggelam, bukan bahu membahu menolong malah nunggu sampai jasadnya busuk dan ke pinggir. Itu melebihi setan, Nong”.

ADVERTISEMENT

“Mayat perempuan tadi?”

“Bapak ibunya sibuk kerja.  Sementara putrinya malah terjerat obat hingga sakau lalu menceburkan diri.”

“Seperti musibah ibu?”

Pak Prehatin mengulum luka. Pikirannya melayang manakala saat sang istri tenggelam dan hanyut, dirinya hanya seorang diri mencebur ke sungai. Mencari berjam sampai berhari-hari.

Hal yang paling menyebalkan ialah bahwa manusia pada zaman ini telah mengalami degradasi simpati. Alasan ketakutan kematian dan tuntutan membuat manusia itu hanya terbengong sambil sigap memvideo lalu diviralkan. Tak jarang cara itu digunakan demi mencari nasi.

“Jadilah tega untuk orang tak berperasaan dan jadilah dermawan untuk orang yang berakhlak. Orang yang melantangkan hujatan itu seharusnya malu. Tapi karena dia bukan orang maka itu menjadi hal yang harus kita maklumi.  Ingat, Nong. Pantang gonggongan dari mulut mereka untuk masuk dalam deretan agenda hidup kita.”

Kinong menyelesaikan makan malamnya dan tanpa diduga dari arah bendungan .

“Dooooorrrrr!!!!!!!! Byuuuuuurrrrrrrrrr!!!”

“Apa Nong!!!?” sergah Pak Prehatin kaget. Telinga sang ayah tajam mendengar seolah bunyi petasan dan diikuti suara sebuah beban berat jatuh. Pak Prehatin mengintip dari jendela disusul Kinong yang memeluk karena ketakutan.

Siluet  4 orang tampak berdiri di atas bendungan. Sorot lampu senter berpendar ke segala arah mengindikasikan suatu hal busuk yang tengah disembunyikan. Pak Prehatin terus amati; rumah-rumah tetangga bisu tanpa rasa ingin tahu. Begitulah manakala gaya kota salah tempat. Kembali fokus.  Dari pengalaman yang ia lakoni, batinnya menebak dengan yakin bahwa beban yang jatuh itu adalah manusia.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 352x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 352x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 317x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 266x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 212x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Page 2 of 5
Prev123...5Next
SummarizeShare235Tweet147
Heri Haliling

Heri Haliling

Heri Haliling merupakan nama pena dari Heri Surahman. Beliau pengajar di SMAN 2 Jorong. Heri Haliling selain mengajar juga aktif menulis baik cerpen atau novel dalam aplikasi GWP atau Kwikku. Beberapa karyanya yang telah terbit antara lain: 1. Novlet Rumah Remah Remang, 2024 (J-Maestro). 2. Novel Perempuan Penjemput Subuh, menjadi juara 2 Sayembara Menulis Novel Guru dan Dosen Tahun 2024 (PT Aksara Pustaka Media). 3. Beberapa cerpennya telah termuat dalam media cetak dan digital seperti Balipolitika, Radar Utara, Radar NTT, Negeri Kertas.com, Kaltim Post, Kompasiana, dan Republika

Baca Juga

IMG_0573
Sejarah

Jejak Darah di Terbangan (Bagian Kedua): Para Tawanan, Hukuman Gantung, dan Pulangnya Sang Ulee Balang

April 1, 2026
feb80617-be76-419c-9e6f-22ef823bed1a
#Amerika

Trump Akan Tarik Pasukan, Tanda Amerika Kalah Perang Lawan Iran

April 1, 2026
Takwa
Artikel

Membumikan Nilai Takwa Pascaramadan

April 1, 2026
Romantisme Secangkir Kopi
Esai

Romantisme Secangkir Kopi 

April 1, 2026
Next Post
Sungai Yang Meminta Kedatangan - IMG 20250220 WA0016 | Jalan-jalan | Potret Online

Manajemen Demokrasi

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Privacy Policy (Kebijakan Privasi)
  • Terms of Service (Syarat dan Ketentuan)
  • Penulis
  • Al-Qur’an

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com