Dengarkan Artikel
Semburat jingga dari cakrawala senja membayang menyapih di permukaan sungai. Duduk bersila di sebuah kursi dari potongan bambu; Kinong meremang memandangi arus kali yang bertambah pasang itu.
Bunyi lantunan pengajian radio menggema melalui langgar. Kinong ingat manakala masih umur 6 tahun, almarhumah sang ibu sering membawanya untuk bersiap salat magrib jika situasi begini. Tidak sekarang, ketiadaan ibunya yang meninggal karena tenggelam di sungai itu menyisakan deretan kasih yang terputus. Sementara rekam kenangan hanya kerap berujung pada hangatnya air mata. Kinong mengusapnya.
Derap kaki mendekat. Kinong merasakan itu, matanya lalu beralih ke samping di area jalan semen cor dengan luas hanya setengah meter. Bapak pulang, pikirnya penuh harap.
“Bukan seperti yang kau tunggu, Nong.”
Suara Junay, terpaut 3 tahun. Dia sekarang SMA kelas XI. Junay lewat dengan dua rekannya.
“Tiap magrib kau melamun begitu di tepian sungai. Ibumu sekarang damai. Tak usah lebai berlarut begitu.”
Mendadak uap panas mengasap dari tubuh Kinong. Wajahnya yang semula sendu kini gelap merah dengan aura kusumat yang meradang.
“Ibuku tenggelam tanpa pertolongan dari warga sini. Gaya antisimpatik pakai di dalam kota sana, bukan di kampung ini!”
Junay yang kaget dengan sentakan itu lalu menepis dan balik menghardik.
“Nong! Damkar dan Tim Sar saja nggak pernah berani menjamah arus sungai itu. Orang gila mana yang mau terjun ke air deras dengan pusaran begitu, hah! Lagian memang ibumu saja yang gak bisa dibilangi. Aku jadi saksi saat itu. Warga sini sudah beritahu kalau sungai itu tak stabil bahkan kerap berombak. Belum lagi sungai itu berpenunggu! Ibumu saja yang masih nekat mulung!”
“Sekian tahun aku dan bapakku nyebur di sana! Dasar kalian saja yang nggak punya hati!”
“Itu karena kalian nggak waras, Nong!” ejek yang lain. Tawa mencuat menjadi buli dari masa lalu sampai ke pekerjaan.
“Setidaknya Bapakku bukan pengemis atau penodong seperti sekian dari warga sini!”
Beberapa warga usia dewasa tertarik dan membuka pintu karena mendengar suara nyaring dari Kinong.
“Kalau anak tidak diajar tata krama memang begitu!”
“Iya. Kebanyakan makan duit bangkai!”
“Mengapa juga masih tinggal di sini! Heran? Sampai sekarang RT nggak ngusir dia dan bapaknya.”
Ledekan dan cemoohan kompak mengisi keseharian Kinong dan Bapaknya. Jika sudah begitu, Kinong hanya melipat tangan, merendam kepala dalam sela dua lututnya yang ditekuk.
📚 Artikel Terkait
“Hentikan! Hentikan!” sergah Pak Prehatin yang baru datang.
“Nah. Makin jelas bukan? Anakmu nggak tau diadap! Itulah kalau keluarga ngeyel dan terus meras orang! Sial terus seumaran!” timpal seorang tetangga.
Pak Prehatin tak menggubris. Ia hanya mendekati Kinong, menariknya untuk bangun.
“Lelaki jangan cengeng. Panjang perjalananmu! Sekarang ayo masuk.”
Dengan diteriaki “Huuuuuu!!!” Ayah dan anak tersebut melangkah kaki ke dalam rumah.
Di dalam rumah yang mayoritas berbahan kayu itu sang ayah duduk bersila. Sambil menaruh satu bungkus bakso pada sebuah mangkok, mata Pak Prehatin sekejap memperhatikan lantai di tengah ruangan yang bisa dibuka tanpa paku. Di bawahnya air pasang dan tampak kisaran setengah lengan saja. Perlu perbaikan, pikirnya.
“Kalau hari-hari kamu isi dengan kesedihan tanpa mau mencari kedamaian itu rugi, Nong. Hidup memang begitu. Ledekan dan makian itu yang buat kita kuat. Nih makan, bapak beri banyak cabe biar kamu semangat.”
Kinong yang semula muram mendadak antusias karena tergiur aroma kuah bakso. Ia pun meraih satu sendok dan mencicipi kaldunya. Terasa langsung menjalar dan menghangatkan setiap otot dalam tubuhnya.
“Bagaimana kali ini, Pak?”
Pak Prehatin beralih duduk dan memilih menyandar dinding lalu menyalakan rokok. Asap putih kebiruan mengudara lalu pecah diterpa angin dari jendela yang terbuka.
“Cukup untuk tabunganmu. Sekolah yang pintar dan tinggi. Bapak akan dukung kamu. Jangan turuni nasib Bapak.”
Kinong mengunyah bakso suapan pertamanya. Telinga dan pikirannya tampak fokus menyimak petuah itu. Usai mengunyah dan menelan, Kinong menukas “Junay bilang bahwa sungai itu berpenunggu. Hanya orang tak waras yang berenang di sana. Orang sini selalu menganggap kita meras orang susah. Sebuah pekerjaan yang memalukan sekaligus mengerikan.”
“Nong. Pada masanya kamu pasti akan paham bahwa kengerian sebenarnya itu bukan dari setan atau jin. Yang paling menakutkan itu manusia yang tak pernah peduli dengan sesamanya, Nong!”
“Maksudnya, Pak?”
“Orang bilang kita meras. Padahal jika mau mereka menggunakan otaknya untuk menyingkirkan sentimen, mereka akan ketemu sendiri jawabannya. Manusia seperti apa yang sering berpasrah tanpa berusaha. Ada anggota keluarga yang tenggelam, bukan bahu membahu menolong malah nunggu sampai jasadnya busuk dan ke pinggir. Itu melebihi setan, Nong”.
“Mayat perempuan tadi?”
“Bapak ibunya sibuk kerja. Sementara putrinya malah terjerat obat hingga sakau lalu menceburkan diri.”
“Seperti musibah ibu?”
Pak Prehatin mengulum luka. Pikirannya melayang manakala saat sang istri tenggelam dan hanyut, dirinya hanya seorang diri mencebur ke sungai. Mencari berjam sampai berhari-hari.
Hal yang paling menyebalkan ialah bahwa manusia pada zaman ini telah mengalami degradasi simpati. Alasan ketakutan kematian dan tuntutan membuat manusia itu hanya terbengong sambil sigap memvideo lalu diviralkan. Tak jarang cara itu digunakan demi mencari nasi.
“Jadilah tega untuk orang tak berperasaan dan jadilah dermawan untuk orang yang berakhlak. Orang yang melantangkan hujatan itu seharusnya malu. Tapi karena dia bukan orang maka itu menjadi hal yang harus kita maklumi. Ingat, Nong. Pantang gonggongan dari mulut mereka untuk masuk dalam deretan agenda hidup kita.”
Kinong menyelesaikan makan malamnya dan tanpa diduga dari arah bendungan .
“Dooooorrrrr!!!!!!!! Byuuuuuurrrrrrrrrr!!!”
“Apa Nong!!!?” sergah Pak Prehatin kaget. Telinga sang ayah tajam mendengar seolah bunyi petasan dan diikuti suara sebuah beban berat jatuh. Pak Prehatin mengintip dari jendela disusul Kinong yang memeluk karena ketakutan.
Siluet 4 orang tampak berdiri di atas bendungan. Sorot lampu senter berpendar ke segala arah mengindikasikan suatu hal busuk yang tengah disembunyikan. Pak Prehatin terus amati; rumah-rumah tetangga bisu tanpa rasa ingin tahu. Begitulah manakala gaya kota salah tempat. Kembali fokus. Dari pengalaman yang ia lakoni, batinnya menebak dengan yakin bahwa beban yang jatuh itu adalah manusia.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





