POTRET Online POTRET
  • Home
  • Artikel
  • Potret Budaya ⌄
    • Puisi
    • Cerpen
    • Esai
  • Pendidikan
  • Video
  • Esai
  • Opini
  • Aceh
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Cerpen
  • Perempuan
  • Podcast
  • ✍ Kirim Tulisan
Home Catatan Perjalanan Jalan-jalan

Sungai Yang Meminta Kedatangan

Heri Haliling by Heri Haliling
Februari 20, 2025
in Jalan-jalan
0
Sungai Yang Meminta Kedatangan - A wide and long river divided by a dam next to a city center | Jalan-jalan | Potret Online

Oleh : Heri  Haliling

Sebuah bendungan  membelah sungai lebar nan panjang di samping pusat kota yang sarat dengan kecongkakan. Di atas bendungan adalah jalan raya yang difungsikan sebagai  penghubung warga  yang akan merangkak ke kota.

Sejatinya, cerita ini bukan tentang hiruk pikuk kekejaman kota yang merajam warga di pinggiran sungai. Mula kisah ini justru lahir di antara kecokelatan air, tumpukan bambu, ranting pohon, plastik chiki-chiki, botol minuman plastik, puluhan popok sampai alat kontrasepsi, serta ‘maaf’ kotoran manusia yang mengambang. Dengan siraman air keruh dari turbin yang terbuka, semua lanskap sampah itu seumpama perhiasan yang berkerumun di leher bawah bendungan.

Sungai Yang Meminta Kedatangan - 810564f1 0ed7 483b 9bd3 86fba5ab0684 | Jalan-jalan | Potret Online
Baca Juga
Jalan-jalan
Duta Puisi Esai Nasional Bertemu Staf Ahli Kemendikdasmen RI di Blora
31 Mar 2025

Adalah Pak Prehatin yang berperawakan kurus dengan kaos oblong putih kumal dan mengenakan topi temuannya yang terlihat berjemur ria di tengah sengat surya yang membakar.

Kedua tangan legamnya erat mendorong tiang bambu yang sebentar-sebentar menghujam melajukan sampan. Bersama putranya yang masih SMP, Kinong kadang menggerutu kala mendampingi sang bapak dalam menerebas meteran sampah yang mengapung di air pasang sekitaran bendungan.

5ab4df67-5b19-4902-abe0-be3b1e319867
Baca Juga
Artikel
Aceh-Sumut-Aceh: Perjalanan Daerah Lintas Daerah, Salah tapi Penuh Hikmah
19 Jul 2026

“Orang lain bekerja ke kota. Kita mulung, gengsi dikit, Pak” celetuknya yang memang berdasar.

“Kau sangka tetangga kita yang ke sana juga nggak mulung? Sama saja, bukan? Lagian Nong,  profesi ini lebih menjanjikan dari mereka yang utamakan gengsi.”

Sungai Yang Meminta Kedatangan - A4919791 646F 4DC5 8305 53F50C31FE8D | Jalan-jalan | Potret Online
Baca Juga
Jalan-jalan
Puisi-Puisi Ayumi
19 Mar 2025

Kinong yang berkulit kurang lebih dengan bapaknya mencoba menutup alis dengan tangan. Kebiasaannya yang enggan bertopi dibayar lunas oleh matahari siang ini.

“Kinong malu, Pak. Di mana-mana selalu jadi bahan ejekan.”

Sampan menyusur pelan. Merasa tempat yang diperkirakan, mata Pak Prehatin mulai menjalar dan merabai setiap celah dalam hamparan sampah. Sekarang semua bau menjadi satu. Mulailah Pak Prehatin dan putranya menarik baju membungkus lubang hidung.

“Yang pantas malu itu orang yang pake jasa Bapak, Nong. Nah itu!!!..” tunjuk Pak Prehatin menemukan apa yang dicari.

Kinong tertarik. Dia yang semula lemas dan posisi duduk sekejab berdiri. Bau mulai kurang manakala sebentar lagi akan tergantikan dengan wangi lembar upahan.

“Siapkan tali agar tak hanyut lagi, Nong.”

Permintaan sang ayah segera dipenuhi. Pak Prehatin mulai mengarak-arik tumpukan bambu dan plastik. Membuat jalan, itu yang sedang dipikirkan.

Kinong di belakang menatap objek temuan itu dengan tak lekang. Puluhan mungkin hal begini telah mereka lewati. Awalnya canggung dan jijik. Selepasnya hanya malu yang belum bisa pergi.  Sementara ketakutan? Akhh..!!Sudah musnah dalam pikiran.

Pak Prehatin menceburkan diri tanpa ragu. Berserak sampah itu menciptakan ruang lingkar akibat bobot yang dijatuhkan lalu segera merapat dan mengurung. Pak Prehatin hampir hanyut karena arus liar. Belum lagi kadang kakinya serasa ditarik sebuah pusaran.

Bertahan dia dengan jejakan kuat dan dorongan lengan seumpama sayap. Dalam posisi mengapung dihimpit aneka kotoran, plastik, dan dedaunan; Pak Prehatin  yang yakin dengan kestabilannya lalu beri aba-aba untuk putranya.

“Ku ikat dulu kayak biasa. Baru kau tarik, Nong.”

“Ya, Pak” tanggap Kinong memperhatikan objek beku yang mengambang dengan rupa wajah menatap langit. Perempuan, masih muda. Usia kisaran 20 tahun; matanya mendelik dengan mulut menganga. Duh Gusti, batin Kinong tak mengerti.

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
Page 1 of 5
12...5Next
Next Post
Sungai Yang Meminta Kedatangan - IMG 20250220 WA0016 | Jalan-jalan | Potret Online

Manajemen Demokrasi

POTRET Online POTRETOnline
Kontributor Tentang Kami Redaksi 1000 Sepeda

© 2026 POTRET Online. Seluruh hak cipta dilindungi.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah