Senin, April 20, 2026

Puisi Puisi Heri Isnaini

April 2025

SAJAK BALON GAS

balon yang engkau pegang telah menjadi satu warna
engkau yang membuatnya abadi
gas yang ada di dalamnya berubah warna-warni
:semangat dan harapan

balon itu tidak hanya lima
engkau yang membuatnya beribu
dalam warna dan keindahan
engkau pegang erat di luar pintu itu
anak-anak tidak lagi terkejut dengan letusan balon hijau

engkau telah sembunyikannya di bawah bantal
di antara tetesan air mata

2025

RUANGAN 205

ruangan ini penuh dengan kata-kata
ada engkau, mahasiswa, dan mereka
duduk tersipu berderet-deret di depan
berbicara dengan semangat
aku berpikir “alangkah hijaunya ruangan ini”

kau begitu ceria
berbicara dengan mengulum senyum
tidak terasa hari sudah senja
kau bergegas tinggalkan ruangan ini
membawa sebotol air mineral
teringat jemputan
yang datangnya tiba-tiba

Stiepar, 2024

TEOSOFI CINTA

ketika gerimis membasahi bumi
Tuhan mengajari kita cinta yang murni
ketika angin mengisi ruang atmosfer
Tuhan mengajari kita cinta yang sunyi

ketika kamu memberikan senyum itu
Tuhan mengajari kita cinta yang hakiki

Tuhan, aku mencintaimu.

2021

ISYARAT

kau adalah isyarat yang diberikan tuhan
menjelma burung-burung
membisik angin yang semilir
menerpa dedaunan hijau

kau adalah isyarat yang diberikan tuhan
menjadikannya seorang manusia
utuh seperti sedia:
kala ruh ditiupkan terdengar

“Ingatkah jalan kau kembali?”

2021

JARAK

jarak waktu, ruang, dan sejarah
menebas kebersamaan kita
awan, angin, dan hujan
memisahkan kesatuan kita

ada kehidupan yang tidak abadi
antara kita:

sungguh
di antara kita

hanya menunggu
jemputan yang datang

tiba-tiba

2024

HUJAN SORE ITU

hujan sore itu terlihat cantik
airnya menetes indah di pojok ruang kelas
wangi tanah menyerbak kasturi
ada angin mengabarkan berita
bidadari turun dengan gaun ungu
berjalan di antara pelangi jingga

hujan sore itu sangat indah
:di antara gemericik air
bidadari terpaku: ragu
di pojok ruang yang bisu

2023

HANYA TITIPAN

kau memahami bahwa semua adalah titipan
aku memahami kau juga adalah titipan

suatu pagi kau berjalan melihat kebun yang basah
suara hujan masih teringat betul di kepalamu
ah, kau mengatakan “hujan itu juga sebuah titipan”

aku pun hanya duduk di serambi rumah
melihatmu yang mondar-mandir entah mencari apa
ah, “kau pun titipan juga” pikirku.

akhirnya, aku pun ikut mondar-mandir
di antara pepohonan yang daunnya basah
di kebunmu.

sambil berkata “apakah aku juga titipan?”

2021

Tentang Penulis
Heri Isnaini lahir di Subang, Jawa Barat, pada tanggal 17 Juni. Heri sangat menyukai puisi-puisi Sapardi Djoko Damono. Cerpennya pernah dimuat pada koran Radar Banyuwangi, Radar Kediri, dan Harian Rakyat Sultra. Beberapa media daring di Indonesia seperti Radar Utara, Restorasi News Siber Indonesia, Tebu Ireng Online, Bali Politika, Berita Jabar News, Sip Publishing, Himpun.id juga pernah memuat karya-karyanya. Kegiatan sehari-hari Heri adalah Dosen Sastra IKIP Siliwangi Kota Cimahi. Selain itu, Heri juga banyak beraktivitas sebagai editor dan reviewer di berbagai jurnal ilmiah di dalam dan luar negeri.

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Terbaru

Puisi terbaru untuk dibaca

Populer

Puisi yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Add New Playlist