Dengarkan Artikel
Oleh Nurul Hikmah, S.Pd.I, M.A
Ada banyak tradisi-tradisi lokal dalam masyarakat Aceh yang hampir semua dihubungkan dengan agama. Baik dianggap sebagai tradisi Islam maupun tradisi Hindu yang dipercaya pernah dianut oleh orang-orang yang pernah tinggal di wilayah Aceh terdahulu. Salah satu tradisi tersebut adalah Rabu Abeh (Rabu Terakhir).
Merujuk pada sebuah artikel dari laman baznas.go.id disebutkan dalam tradisi masyarakat Jawa juga terdapat sebuah tradisi yang sama yaitu Rebo Wekasan. Tradisi ini dilakukan pada hari Rabu terakhir bulan Safar untuk tujuan menolak bala.
Disebutkan dalam artikel tersebut bahwa “Rabu terakhir bulan Safar sering dianggap sebagai hari yang penuh dengan bencana atau musibah.
Beberapa kalangan percaya bahwa pada hari ini, Allah menurunkan berbagai macam cobaan atau ujian kepada umat manusia. Oleh karena itu, banyak orang yang merasa perlu melakukan berbagai amalan khusus untuk menolak bala atau menghindari kesulitan yang diyakini turun pada hari tersebut.”
Dalam lanjutan isi artikel tersebut ditulis, “Kepercayaan ini berasal dari cerita-cerita yang berkembang di masyarakat, namun tidak semua kalangan Islam sepakat dengan pandangan ini.
Sebagian ulama dan cendekiawan Muslim berpendapat bahwa keyakinan ini tidak memiliki dasar yang kuat dalam syariat Islam dan lebih merupakan hasil dari kepercayaan lokal yang bercampur dengan budaya.”
Berbeda dengan praktik tradisi Rabu Abeh yang dilakukan oleh masyarakat Banda Aceh dan sekitarnya. Istilah Rabu Abeh lebih sering dipakai untuk menyebutkan pekan terakhir bulan Sya’ban atau minggu terakhir sebelum masuknya bulan Ramadan.
📚 Artikel Terkait
Dalam tradisi Rabu terakhir ini masyarakat berbondong-bondong pergi ke laut untuk mandi dan berendam di laut bersama keluarga. Entah masyarakat mengikuti tradisi Rebo Wekasan atau ikut-ikutan saja melakukan kegiatan rekreasi bersama keluarga pada beberapa pekan terakhir bulan Sya’ban tersebut.
Namun demikian, jika dilihat dari segi kesehatan ternyata terapi air laut sangat bermanfaat bagi tubuh. Dikutip dari laman Alodokter bahwa terapi air laut ini mempunyai banyak manfaat bagi kesehatan.
Berendam dengan air laut dapat membantu proses terapi tulang dan sendi, mengurangi rematik dan pegal-pegal, membantu mengurangi masalah kulit hingga saluran pernapasan. Selain itu, mandi dan berendam dalam air garam juga dapat membantu mengurangi stres dan membuat tidur lebih nyenyak. Oleh karena itu, terapi ini sangat dianjurkan oleh beberapa terapis dan oleh ahli pengobatan alternatif.
Menurut sebuah artikel dari laman medicalnewstoday.com bahwa terapi air laut ini disebut juga dengan thalassotherapy yang berasal dari kata Yunani ‘thalassa’ yang berarti lautan. Thalassotherapy sudah ada sejak abad ke-19, meskipun mandi di laut untuk mendapat manfaat kesehatan sudah dipraktikkan jauh sebelum itu.
Lalu muncul pertanyaan mengapa harus mandi di laut sebelum Ramadan? Ramadan merupakan bulan di mana umat Islam berpuasa dan menahan diri dari berbagai macam hal termasuk menahan diri untuk tidak mengonsumsi sumber pasokan energi sehingga badan yang tidak sering berpuasa akan terkejut dan kekurangan energi.
Kekurangan pasokan vitamin, gizi dan mineral yang dibutuhkan oleh tubuh bisa melemahkan tubuh, diharapkan dengan terapi air laut ini tubuh akan menjadi lebih segar dan siap untuk siklus baru selama sebulan penuh.
Selain itu, penyakit dan keluhan yang dirasakan selama sebelas bulan bisa diterapi dengan menggunakan terapi air laut ini agar badan kembali sehat untuk menyongsong Ramadan penuh berkah.
Oleh karena itu, jika dipraktikkan dengan bijaksana, tradisi-tradisi yang dilakukan Indatu di Tanoh Seramo Mekkah ini tidak melulu praktik syirik atau praktik yang mengikuti tradisi Hinduisme.
Namun, lebih dari itu dapat bermanfaat bagi kesehatan, budaya, dan tatanan sosial masyarakat. Diharapkan tradisi-tradisi yang berkembang dalam masyarakat Aceh dapat membangun silaturahmi yang solid antar warga.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






