Dengarkan Artikel
Langkah Julak Ampoy menuju pintu kamar. Tentu saja aku memburu. Ku cengkram tangannya dengan harapan besar.
“Jangan pergi, Julak!! Sungguh saya bisa mati jika begini! Bikin ujian lain saja dan biarkan saya tinggal di rumah Anda.”
Julak Ampoy malah tertawa. Tanpa sepatah katapun dia berlalu dengan melepas genggamanku.
“Julak!!!!??” aku memburu tapi pintu di kunci dari luar. Aku terkurung dalam kamar sekarang.
Sialan!!!! Aku menghardik dan mengumpat. Barang-barang kubanting dengan frustasi. Jendela? Ya..jendela? Aku berniat kabur. Aku bergegas mendekatinya. Tak bisa ku buka!!! Ku tatap kaca, terpalang kayu dari luar. Apa ini? Ide gila apa yang dipikirkan ayah dan Julak Ampoy.
📚 Artikel Terkait
Aku semakin kalut karena ketidakberesan ini. Aku bergerak meraih kursi. Jika tahu begini, sejak awal sudahku pergi. Lagian entah mengapa setan itu muncul malam ini.
Memang aku mulai terbiasa dengan getar mandau tanpa tuannya itu. Tapi tentu tidak dengan sosok mengerikan dan menjijikkan tersebut. Kursi ku angkat, aku bersiap menghantamkannya ke kaca.
Wusss!!!!!!! Seperti dibalut pusaran angin, tubuhku mendadak macet lagi. Sebuah tangan busuk penuh darah sekejap telah menempel pundakku. Aku tentu hendak berteriak, tapi sama bodohnya seperti lalu-lalu.
Dari cermin biasa aku berkaca, tubuh tanpa kepala itu muncul kembali. Dengan badan penuh darah dan beraroma memusingkan, dia berjalan makin memepetku. Tapi tiba-tiba mataku dirangkum tangannya.
Aku muntah berdiri karena baunya sungguh pekat bercampur ulat. Rangkuman tangan itu ia lepas. Mendadak aku bingung. Aku kini tak berada dalam kamar; sekarang aku terpaku di halaman rumah dengan suasana sore. Apakah waktu begitu cepat berlalu?
“Kulukkk!!!!!!!kulukkkk!!!!!! Kuluk!!!!Kulukkkkk!!!!!”
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





