Dengarkan Artikel
“Andreas!!!? Andreas!!? Hei!!? Bangun???!! Sadar!!!!??” suara pria tak asing mengantarku pada realita. Ku buka mataku yang payah itu perlahan. Ternyata Julak Ampoy. Beliau tampak masih menepuk pipiku. Aku mengernyit tanda sedikit sakit. Dari sipit mataku, ku curi wajahnya yang sedikit Tionghoa itu kini tersenyum lega. Ku edarkan pandang; ternyata aku telah dibopong dalam kamar.
“Ada apa ini Julak?” tanyaku dengan badan meriang; sungguh seperti bekas lari ratusan km dan angkat beban berat seharian. Tubuhku kacau sampai ke sendi. Aku lihat jam, pukul 12 malam.
“Aku keluar merokok saat ku perhatikan jendela rumah ini terbuka; aku melihatmu melayang-layang hampir setengah meter. Lalu jatuh” tukas Julak Ampoy.
Aku kaget karena tak mengetahui hal itu. Tapi segera menyimpulkan bahwa mungkin itulah penyebab tubuhku yang pegal tak karuan ini.
“Hantu, Julak? Saya melihatnya” jelasku langsung teringat sosok setan tanpa kepala itu.
Seolah sesuatu yang lumrah, Julak Ampoy tak menunjukkan sesuatu yang ku harapkan.
📚 Artikel Terkait
“Malam ke-3 dia telah tampakkan wujud” katanya mengangguk. Aku tentu penasaran bercampur ketakutan.
“Siapa hantu itu Julak? Bisakah saya tinggal di rumah Anda saja?” pintaku dengan hormat.
Julak Ampoy tersenyum.
“Adikku itu memang keras jika mendidik putranya. Kau sengaja diminta tinggal di rumah ini. Kau harus belajar.”
Aku tak paham dan malahan merasakan sebal. Ku pikir dari ucapan Julak Ampoy bahwa semua ini bagian dari kesengajaan.
“Ayah memang keterlaluan. Saya diminta belajar apa tentang teror ini?”
“Kau putra adat! Dalam tubuhmu mengalir darah kemandirian dan keberanian” kata Julak Ampoy berdiri. Dari gerak kaki, sepertinya dia hendak pergi. “Kau aman di sini. Ini latihan bagus. Pesanku, apapun yang kau terima, jangan sekali-kali kau percaya dengan makhluk itu. Tradisi tetap tradisi! Ikuti dan pertahankan!”
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





