Dengarkan Artikel
“Selamat, ya, Ai.” kataku dengan sikap datar. Tapi kuyakini sebenarnya ada sedikit senyuman kecil yang timbul dari bibirku.
“Makasih.” balas wanita itu seadanya.
Aku sempat melirik kedua mata Aisyah sesaat ia memberiku undangan pernikahan ini. Barangkali, dia paham terhadap perasaanku yang sedikit sedih tapi harus terpaksa kututupi dan menggantikannya dengan senyum bahagia agar terlihat baik-baik saja. Ya, rasa sedih seketika menyelimuti dinginnya batinku. Akhirnya, wanita yang sudah kukagumi sejak lama ini menikah — sayangnya bukan denganku.
“Mulai dari sekarang, aku ga akan pernah berhenti berdoa untuk kamu. Semoga kamu bisa cepat nyusul juga dan dapat cewek yang lebih baik dari aku.” ujar Aisyah.
Mendengar ucapan itu langsung membuatku tersenyum lebar. “Aku doain juga semoga dengan pernikahan ini, kamu bakal terus bahagia — lebih bahagia dari yang pernah kita bagi sama sama dulu.”
Kedua mata Aisyah seketika berkaca-kaca, tapi dia tetap mengumbar senyuman, lebih cerah dari sebelumnya. Dari kata-katanya tadi, sepertinya aku memyadari sesuatu, ternyata Aisyah sudah sejak dulu peka bahwa aku memendam rasa terhadapnya. Dan, mungkin pun dia pernah sempat menanti waktu saat-saat aku mengungkapkan perasaan suka ini. Namun sayangnya, aku tak pernah datang sampai di detik terakhir hingga pada akhirnya Aisyah memilih menerima cinta dari orang lain.
“Sampai di pertemuan kita selanjutnya… kamu bakal tetap jadi kawan terbaik aku. Takdir kita ternyata memang hanya sebatas hubungan pertemanan, tapi keliatannya gak buruk-buruk amat, kan?” ujar Aisyah. Dia mengatakan itu bersama senyuman dan juga rintikan air mata yang sudah membasahi pipinya.
📚 Artikel Terkait
Melihat Aisyah yang tersenyum sambil menangis membuat mataku ikut berkaca-kaca. “Ya. Sebatas kawan udah cukup berkesan, kok.” jawabku yang berlagak sok kuat.
Aisyah kemudian mengusap air matanya. “Janji ya kamu jangan sampe putus asa. Kamu harus janji untuk dapetin cewek sampe nanti kalian nikah. Dengan begitu, kebahagiaan aku jadi lengkap karna sahabat aku akhirnya bisa berada di situasi yang sama. Jangan menyerah, ya Akhyar. Pokoknya kamu harus nikah juga supaya rasa bahagia kita tetap sama dan ga berubah sama sekali.” kata wanita ini. Dia terlihat cukup bersungguh-sungguh saat mengatakannya.
Sementara itu, aku tak mampu menjawab apa-apa. Diriku hanya bisa diam sambil mengangguk pasrah di balik senyuman palsu yang tetap kupancarkan di hadapan Aisyah agar aku tetap terlihat kuat meskipun sebenarnya hatiku remuk.
Sial sekali.
Seandainya dulu aku mengungkapkan cinta ini pada Aisyah, mungkin kami sudah menikah dan bahagia bersama — tidak hanya sebatas teman tapi sebagai pasangan yang saling mencintai.
Seandainya aku tak pernah memendam perasaanku terhadapnya, aku yakin pasti diriku takkan menyesal seperti yang sedang kurasakan saat ini. Dan, melihat Aisyah yang menangis sambil tersenyum, semua itu malah membuatku
semakin terluka parah.
Karena, dialah seharusnya orang yang kucintai — dan seharusnya akulah orang yang dia cintai.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





