• Latest

Gerimis

Februari 15, 2025
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
ae400032-4021-4ade-8568-70d981b74d63

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Gerimis

“Rintik hujan kecil yang membawaku kembali mengingatmu”

Reza Fahleviby Reza Fahlevi
Februari 16, 2025
Reading Time: 6 mins read
589
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

“Selamat, ya, Ai.” kataku dengan sikap datar. Tapi kuyakini sebenarnya ada sedikit senyuman kecil yang timbul dari bibirku.

“Makasih.” balas wanita itu seadanya.

Aku sempat melirik kedua mata Aisyah sesaat ia memberiku undangan pernikahan ini. Barangkali, dia paham terhadap perasaanku yang sedikit sedih tapi harus terpaksa kututupi dan menggantikannya dengan senyum bahagia agar terlihat baik-baik saja. Ya, rasa sedih seketika menyelimuti dinginnya batinku. Akhirnya, wanita yang sudah kukagumi sejak lama ini menikah — sayangnya bukan denganku.

Baca Juga

WhatsApp Image 2026-03-27 at 8.47.12 AM

Puisi-Puisi Nusantara Novita Sari Yahya

Maret 27, 2026
Kenangan yang terlupakan di cermin

Kehilangan Cinta Secara Karena Egois

Maret 27, 2026
Filosofi Cinta ala Sapardi Yang Tak Pernah Usai

Filosofi Cinta ala Sapardi Yang Tak Pernah Usai

Maret 25, 2026

“Mulai dari sekarang, aku ga akan pernah berhenti berdoa untuk kamu. Semoga kamu bisa cepat nyusul juga dan dapat cewek yang lebih baik dari aku.” ujar Aisyah.

Mendengar ucapan itu langsung membuatku tersenyum lebar. “Aku doain juga semoga dengan pernikahan ini, kamu bakal terus bahagia — lebih bahagia dari yang pernah kita bagi sama sama dulu.”

Kedua mata Aisyah seketika berkaca-kaca, tapi dia tetap mengumbar senyuman, lebih cerah dari sebelumnya. Dari kata-katanya tadi, sepertinya aku memyadari sesuatu, ternyata Aisyah sudah sejak dulu peka bahwa aku memendam rasa terhadapnya. Dan, mungkin pun dia pernah sempat menanti waktu saat-saat aku mengungkapkan perasaan suka ini. Namun sayangnya, aku tak pernah datang sampai di detik terakhir hingga pada akhirnya Aisyah memilih menerima cinta dari orang lain.

“Sampai di pertemuan kita selanjutnya… kamu bakal tetap jadi kawan terbaik aku. Takdir kita ternyata memang hanya sebatas hubungan pertemanan, tapi keliatannya gak buruk-buruk amat, kan?” ujar Aisyah. Dia mengatakan itu bersama senyuman dan juga rintikan air mata yang sudah membasahi pipinya.

Melihat Aisyah yang tersenyum sambil menangis membuat mataku ikut berkaca-kaca. “Ya. Sebatas kawan udah cukup berkesan, kok.” jawabku yang berlagak sok kuat.

Aisyah kemudian mengusap air matanya. “Janji ya kamu jangan sampe putus asa. Kamu harus janji untuk dapetin cewek sampe nanti kalian nikah. Dengan begitu, kebahagiaan aku jadi lengkap karna sahabat aku akhirnya bisa berada di situasi yang sama. Jangan menyerah, ya Akhyar. Pokoknya kamu harus nikah juga supaya rasa bahagia kita tetap sama dan ga berubah sama sekali.” kata wanita ini. Dia terlihat cukup bersungguh-sungguh saat mengatakannya.

Sementara itu, aku tak mampu menjawab apa-apa. Diriku hanya bisa diam sambil mengangguk pasrah di balik senyuman palsu yang tetap kupancarkan di hadapan Aisyah agar aku tetap terlihat kuat meskipun sebenarnya hatiku remuk.

Sial sekali.

Seandainya dulu aku mengungkapkan cinta ini pada Aisyah, mungkin kami sudah menikah dan bahagia bersama — tidak hanya sebatas teman tapi sebagai pasangan yang saling mencintai.

Seandainya aku tak pernah memendam perasaanku terhadapnya, aku yakin pasti diriku takkan menyesal seperti yang sedang kurasakan saat ini. Dan, melihat Aisyah yang menangis sambil tersenyum, semua itu malah membuatku
semakin terluka parah.

Karena, dialah seharusnya orang yang kucintai  — dan seharusnya akulah orang yang dia cintai.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 344x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 306x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 255x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 251x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 196x dibaca (7 hari)
ADVERTISEMENT
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post

Perempuan Sebagai Inspirator

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com