• Latest
Gerimis - ilustrasi pria dan wanita bertemu di Aceh saat sedang gerimis | Cerpen | Potret Online

Gerimis

Februari 15, 2025
feb80617-be76-419c-9e6f-22ef823bed1a

Trump Akan Tarik Pasukan, Tanda Amerika Kalah Perang Lawan Iran

April 1, 2026
Takwa

Membumikan Nilai Takwa Pascaramadan

April 1, 2026
Romantisme Secangkir Kopi

Romantisme Secangkir Kopi 

April 1, 2026
di ujung Magrib

Di Ujung Magrib

Maret 31, 2026
85645e8f-e49d-463f-8fa4-730280ce2b71

Pentingnya Sastra dalam Sistem Pendidikan Rusia sebagai Landasan Pembentukan Karakter dan Pola Pikir

Maret 31, 2026
Gerimis - 0e417695 171f 4238 b08b 77387e695a57 | Cerpen | Potret Online

Dari Geopolitik ke Dapur Rakyat: Krisis Global dan Rapuhnya Ekonomi Indonesia

Maret 31, 2026
ba05a86a-c490-46bf-9ae8-c75ef1da62eb

Nasrallah dan Jugendliteratur

Maret 31, 2026
cd371ba6-715d-447b-b94a-30123cf2d952

Pendidikan Hadapi Ancaman Nyata

Maret 31, 2026
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Esai
  • PODCAST
Rabu, April 1, 2026
  • Login
  • Register
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
Gerimis - ilustrasi pria dan wanita bertemu di Aceh saat sedang gerimis | Cerpen | Potret Online

Gerimis

“Rintik hujan kecil yang membawaku kembali mengingatmu”

Reza Fahlevi by Reza Fahlevi
Februari 15, 2025
in Cerpen, Sastra
Reading Time: 6 mins read
0
589
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

“Selamat, ya, Ai.” kataku dengan sikap datar. Tapi kuyakini sebenarnya ada sedikit senyuman kecil yang timbul dari bibirku.

“Makasih.” balas wanita itu seadanya.

Aku sempat melirik kedua mata Aisyah sesaat ia memberiku undangan pernikahan ini. Barangkali, dia paham terhadap perasaanku yang sedikit sedih tapi harus terpaksa kututupi dan menggantikannya dengan senyum bahagia agar terlihat baik-baik saja. Ya, rasa sedih seketika menyelimuti dinginnya batinku. Akhirnya, wanita yang sudah kukagumi sejak lama ini menikah — sayangnya bukan denganku.

Baca Juga

di ujung Magrib

Di Ujung Magrib

Maret 31, 2026
85645e8f-e49d-463f-8fa4-730280ce2b71

Pentingnya Sastra dalam Sistem Pendidikan Rusia sebagai Landasan Pembentukan Karakter dan Pola Pikir

Maret 31, 2026
ba05a86a-c490-46bf-9ae8-c75ef1da62eb

Nasrallah dan Jugendliteratur

Maret 31, 2026

“Mulai dari sekarang, aku ga akan pernah berhenti berdoa untuk kamu. Semoga kamu bisa cepat nyusul juga dan dapat cewek yang lebih baik dari aku.” ujar Aisyah.

Mendengar ucapan itu langsung membuatku tersenyum lebar. “Aku doain juga semoga dengan pernikahan ini, kamu bakal terus bahagia — lebih bahagia dari yang pernah kita bagi sama sama dulu.”

Kedua mata Aisyah seketika berkaca-kaca, tapi dia tetap mengumbar senyuman, lebih cerah dari sebelumnya. Dari kata-katanya tadi, sepertinya aku memyadari sesuatu, ternyata Aisyah sudah sejak dulu peka bahwa aku memendam rasa terhadapnya. Dan, mungkin pun dia pernah sempat menanti waktu saat-saat aku mengungkapkan perasaan suka ini. Namun sayangnya, aku tak pernah datang sampai di detik terakhir hingga pada akhirnya Aisyah memilih menerima cinta dari orang lain.

“Sampai di pertemuan kita selanjutnya… kamu bakal tetap jadi kawan terbaik aku. Takdir kita ternyata memang hanya sebatas hubungan pertemanan, tapi keliatannya gak buruk-buruk amat, kan?” ujar Aisyah. Dia mengatakan itu bersama senyuman dan juga rintikan air mata yang sudah membasahi pipinya.

Melihat Aisyah yang tersenyum sambil menangis membuat mataku ikut berkaca-kaca. “Ya. Sebatas kawan udah cukup berkesan, kok.” jawabku yang berlagak sok kuat.

Aisyah kemudian mengusap air matanya. “Janji ya kamu jangan sampe putus asa. Kamu harus janji untuk dapetin cewek sampe nanti kalian nikah. Dengan begitu, kebahagiaan aku jadi lengkap karna sahabat aku akhirnya bisa berada di situasi yang sama. Jangan menyerah, ya Akhyar. Pokoknya kamu harus nikah juga supaya rasa bahagia kita tetap sama dan ga berubah sama sekali.” kata wanita ini. Dia terlihat cukup bersungguh-sungguh saat mengatakannya.

Sementara itu, aku tak mampu menjawab apa-apa. Diriku hanya bisa diam sambil mengangguk pasrah di balik senyuman palsu yang tetap kupancarkan di hadapan Aisyah agar aku tetap terlihat kuat meskipun sebenarnya hatiku remuk.

Sial sekali.

Seandainya dulu aku mengungkapkan cinta ini pada Aisyah, mungkin kami sudah menikah dan bahagia bersama — tidak hanya sebatas teman tapi sebagai pasangan yang saling mencintai.

Seandainya aku tak pernah memendam perasaanku terhadapnya, aku yakin pasti diriku takkan menyesal seperti yang sedang kurasakan saat ini. Dan, melihat Aisyah yang menangis sambil tersenyum, semua itu malah membuatku
semakin terluka parah.

Karena, dialah seharusnya orang yang kucintai  — dan seharusnya akulah orang yang dia cintai.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 344x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 342x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 312x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 263x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 204x dibaca (7 hari)
ADVERTISEMENT
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Page 3 of 3
Prev123
SummarizeShare236Tweet147
Reza Fahlevi

Reza Fahlevi

Lahir di Banda Aceh pada Tanggal 9 september 1996, Reza Fahlevi sudah mulai menyukai dunia kepenulisan sejak masih duduk di bangku SMP. Tulisannya berupa cerita-cerita pendek terdapat di berbagai platform seperti KBM, Fizzo, Blogspot dan sekarang aktif menulis di Medium. Beberapa tulisan Reza dalam bentuk puisi pernah diterbitkan oleh Warta USK. Ia juga pernah memenangkan lomba menulis novel yang diadakan oleh penerbit USK Press serta juga menjadi salah satu penulis dalam dua buku antologi yang berjudul Jembatan Kenangan (Jilid II) dan Kebun Bunga Itu Telah Kering. Selain menulis, Reza turut serta menjadi salah satu tenaga pendidik di sekolah MIN 20 Aceh Besar.

Baca Juga

feb80617-be76-419c-9e6f-22ef823bed1a
#Amerika

Trump Akan Tarik Pasukan, Tanda Amerika Kalah Perang Lawan Iran

April 1, 2026
Takwa
Artikel

Membumikan Nilai Takwa Pascaramadan

April 1, 2026
Romantisme Secangkir Kopi
Esai

Romantisme Secangkir Kopi 

April 1, 2026
di ujung Magrib
#Cerpen

Di Ujung Magrib

Maret 31, 2026
Next Post
Gerimis - IMG 20250216 WA0000 | Cerpen | Potret Online

Perempuan Sebagai Inspirator

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Privacy Policy (Kebijakan Privasi)
  • Terms of Service (Syarat dan Ketentuan)
  • Penulis
  • Al-Qur’an

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com