Dengarkan Artikel
Di momen gerimis ini, aku dan Aisyah saling diam. Kami berdua seperti sedang menikmati alunan rintikannya tanpa peduli pakaian kami mulai basah. Terasa seperti mengulang kisah lama di saat kami
pulang sekolah di bawah guyuran hujan kecil sambil berjalan pelan dan mendorong sepeda. Kenangan itu sudah berlalu cukup lama, tapi sekarang aku merasa seperti dibawa kembali ke masa itu.
“Masih ingat waktu kita pulang sekolah hujan-hujanan? Ga bawa jaket, basah-basahan tapi kita ga peduli dan malah terus jalan di tengah hujan.” kata Aisyah. Ia menatapku dengan senyuman tipis di bibirnya. Kurasa, momen gerimis ini juga membawanya seakan-akan kembali berada di masa lalu.
“Aku kira kamu malah udah lupa.”sahutku.
“Aku malah masih ingat betul, lho. Apalagi waktu kamu coba nutupin kepala aku dari hujan, ha ha ha. Waktu itu aku baru sadar… rupanya cowok se-cool kamu bisa buat cewek kayak aku jadi salting, ha ha
ha. So sweet banget, tau gaa…”
Perkataan Aisyah refleks membuatku ikut tertawa. “Walaupun ujung-ujungnya sama aja — aku nutupin kepala kamu tapi tetap aja basah.”
📚 Artikel Terkait
“Yaa mau gimana lagi, ya kan. Tapi, makasih, ya — yang kamu lakuin itu berkesan banget.” balas wanita itu.
Aku menanggapi ucapan Aisyah dengan hanya mengangguk. Aku tahu diriku tak perlu menyahut apa-apa untuk membalas ungkapan terima kasih itu. Cukup hanya dengan mengangguk dan tersenyum, aku yakin dia paham terhadap maksudku.
“Oh ya…” gumam Aisyah. Ia terlihat seperti baru saja menyadari sesuatu. Wanita itu buru-buru merogoh isi dalam tas jinjingnya. “Akhyar, jangan lupa datang, ya.” sambungnya lagi sembari memberi sebuah kertas berlapis plastik bening. Kertas itu tak lain adalah undangan.
Aku menerima undangan tersebut dan melihat tulisan depannya. Dalam sekejap diriku sadar bahwa ini adalah undangan pernikahan Aisyah.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





