Dengarkan Artikel
Oleh: Siti Hajar
Saya ingin bercerita tentang masa kecil yang saya ingat. Bagaimana orang tua kami melibatkan kami, para bocah untuk membantu membereskan rumah, semisal mencuci piring, membantu memasak, mencabut rumput di pekarangan rumah, membantu mengangkat tanah untuk menimbun pelebaran dapur rumah.
Pekerjaan yang paling sering adalah memikul kayu bakar dari kebun kakek ke rumah kami, yang berjarak tidak sampai satu kilometer. Atau mengutip biji melinjo yang jatuh berserakan di bawah pohonnya. Sesekali jika kami beruntung kami bisa makan durian. Tidak jarang buah yang jatuh ada sisi yang kosong karena keduluan tupai.
Kami tahu pekerjaan ini tidak ringan. Namun, ada kegembiraan tersendiri dalam setiap tugas yang diberikan. Begitu berangkat menuju kebun kakek untuk mengambil kayu bakar, kami berlomba siapa yang paling kuat membawa kayu terbanyak.
Saat mencabut rumput atau mengangkat tanah untuk menimbun dapur, kami pun tidak sekadar bekerja. Ada tawa, ada teriakan-teriakan kecil saat kami bekerja. Tentu saling menyemangati agar pekerjaan cepat selesai. Ibu hanya menggelengkan kepala sambil sesekali tersenyum, melihat kami menikmati proses bekerja sambil bermain.
Namun, bagian yang paling kami nantikan tentu saja adalah jeda makan siang. Ibu sudah menyiapkan hidangan sederhana yang terasa seperti jamuan istimewa. Bubur kacang hijau yang harum, kolak ubi yang manis, pisang goreng yang renyah, serta godok-godok yang hangat. Jika sedang beruntung ada timun kerok yang dingin, ada juga lughok, adonan pisang dan tepung ketan dikukus lembut dan mengenyangkan.
📚 Artikel Terkait
Kami duduk melingkar di atas tikar, menikmati setiap gigitan dengan rasa syukur. Tangan-tangan kecil kami yang sebelumnya berlumuran tanah kini menggenggam sendok dengan penuh semangat. Tidak ada yang lebih nikmat daripada makanan buatan ibu setelah seharian bekerja bersama.
Setelah makan siang dan beristirahat sejenak, kami kembali melanjutkan pekerjaan yang tersisa. Matahari sudah mulai condong ke barat, dan udara menjadi sedikit lebih sejuk. Kami kembali ke kebun untuk mengambil sisa kayu bakar yang belum sempat diangkut. Kadang-kadang orang tua kami bercerita tentang masa mudanya, bagaimana ia juga dulu melakukan pekerjaan serupa.
Saat ini, ketika mengingat kembali masa-masa itu, saya menyadari bahwa kebahagiaan sejati tidak selalu datang dari hal-hal besar. Ia sering kali hadir dalam bentuk sederhana: kerja sama, canda tawa, dan makanan hangat yang dibagi bersama. Orang tua kami tidak hanya mengajarkan nilai kerja keras, tetapi juga bagaimana menemukan kebahagiaan dalam kesederhanaan. Sebuah pelajaran yang, tanpa sadar, menjadi bekal berharga sepanjang hidup kami.
Bagi saya, kenangan ini lebih dari sekadar cerita masa kecil. Ini adalah bukti bahwa kesederhanaan bisa melahirkan kebahagiaan yang mendalam. Dan saya ingin terus berbagi cerita ini, karena mungkin di luar sana, ada anak-anak yang juga tengah belajar menemukan kebahagiaan dalam kebersamaan yang sederhana.
Ketika pekerjaan akhirnya selesai, ada perasaan bangga yang menyelimuti kami. Kami tidak hanya membantu orang tua, tetapi juga merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar. Keringat yang menetes bukanlah beban, melainkan tanda bahwa kami telah berkontribusi dalam menjaga rumah kami tetap hangat dan nyaman. Malam itu, setelah semua lelah, kami tidur dengan senyum di wajah, menantikan petualangan kerja bersama lainnya di minggu-minggu berikutnya.
Generasi penerus kami tidak lagi mengalami hal yang sama. Memasak kini menggunakan kompor gas, dan kayu bakar tak lagi menjadi kebutuhan utama. Hanya saat kenduri besar, ketika bahan bakar yang dibutuhkan lebih banyak, kayu bakar kembali digunakan.
Zaman terus bergerak. Tidak ada yang abadi, semuanya berubah. Aku berubah, kamu berubah, mereka pun berubah. Demikianlah kehidupan berjalan. []
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






