POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Kenangan Masa Kecil di Desa: Tradisi yang Mulai Hilang

RedaksiOleh Redaksi
January 4, 2025
Tips Sederhana Memperlakukan Barang Milik Negara
🔊

Dengarkan Artikel

 

Oleh: Siti Hajar

Tahun 2024 baru saja berlalu. Kini, kita telah memasuki tahun 2025 dengan harapan dan tujuan yang lebih baik. Pergantian tahun ini membawa banyak perubahan di sekitar kita. Tanpa kita sadari, banyak kegiatan masa kecil yang kini tidak lagi bisa dinikmati bersama. Hal ini disebabkan oleh perubahan zaman yang semakin modern.

Kemajuan zaman ini tentu dipengaruhi oleh arus teknologi yang tak terhindarkan. Mau tidak mau, kita harus hidup berdampingan dengan teknologi. Banyak permainan dan kebiasaan masa lalu yang perlahan hilang, tergantikan oleh teknologi serta kebiasaan yang lebih modern.

Anak-anak zaman sekarang mungkin tidak lagi mengenal permainan masa lalu tersebut. Berikut ini beberapa kegiatan masa kecil yang kini sangat jarang atau bahkan sulit kita temukan lagi:

Menyuci Baju dan Mencari Ikan di Sungai

Dulu, mencuci baju di sungai adalah rutinitas harian yang dilakukan oleh ibu-ibu dan anak-anak. Aktivitas ini melibatkan menyikat pakaian di pinggir sungai dengan air jernih yang mengalir deras. Namun, saat ini kebiasaan tersebut sudah jarang terlihat karena sebagian besar ibu-ibu mencuci baju dengan mesin cuci di rumah. Ini merupakan salah satu dampak dari perkembangan teknologi.

Selain mencuci, sungai juga menjadi tempat untuk mencari ikan, terutama bagi bapak-bapak. Di daerah kami, ikan kecil yang hidup di sungai dikenal sebagai ungkot crup. Ikan ini sering diolah menjadi lauk yang lezat. Sayangnya, kebiasaan mencari ikan di sungai kini mulai hilang, mungkin karena kesibukan pekerjaan yang membuat waktu untuk aktivitas ini semakin terbatas.

Mengangkut Kayu Bakar

📚 Artikel Terkait

Generasi Yang Buta Geohistory

TAATLAH PADA ORANGTUA

Meniti Jalan Perbedaan: Pengalaman Kuliah di Negeri Kanguru

Berwakaf Dengan Nominal Kecil. Berwakaf Tidak Harus Menunggu Kaya

Dahulu, untuk memasak di rumah, ibu-ibu menggunakan kayu bakar. Anak-anak sering membantu mencari kayu bakar di kebun atau hutan di belakang rumah. Namun, kebiasaan ini sudah sangat jarang ditemukan karena hampir semua rumah kini menggunakan kompor gas untuk memasak. Dulu ibu-ibu menjelang Ramadhan dan Idul Fitri, mulai menyiapkan kayu bakar yang disusun rapi di samping rumah bagian luar dekat dapur. Semua ini dilakukan agar saat Ramadhan dan Idul Fitri fokus beribadah.

Membeli Minyak Tanah dengan Botol Kaca

Membeli minyak tanah dengan botol kaca adalah aktivitas yang sering dilakukan oleh anak-anak menjelang magrib. Minyak tanah digunakan untuk menyalakan pelita, yang menjadi sumber penerangan utama pada masa itu. Namun, seiring dengan beralihnya masyarakat ke listrik dan alat-alat modern, kebiasaan ini sudah hampir punah. Saya senang mendapatkan misi ini, karena kelebihan dari beli minyak tanah akan diberikan sebagai upah dan itu bisa untuk membeli kerupuk jengek.

Bermain Petak Umpet (Pet-Pet Ko – Bahasa Aceh)

Petak umpet adalah permainan tradisional yang sangat populer di kalangan anak-anak. Permainan ini biasanya dimainkan oleh lebih dari dua anak dan menjadi hiburan utama saat liburan sekolah. Namun, di zaman sekarang, permainan seperti ini sudah jarang terlihat karena anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu dengan gawai (HP) dan permainan digital.

Camilan dari Hasil Kebun

Pada masa kecil, anak-anak sering pergi ke kebun untuk memetik hasil panen, seperti pisang atau ubi, yang kemudian diolah menjadi camilan. Misalnya, kolak pisang, ubi rebus, atau aneka kue tradisional. Hampir setiap hari ada camilan segar di rumah, hasil dari kebun nenek atau pekarangan rumah. Tradisi ini kini mulai memudar karena camilan modern lebih mudah didapatkan di toko.

Keseruan Memungut Biji Melinjo

Daerah kami terkenal dengan emping melinjo. Saat kecil, memungut dan mengumpulkan biji melinjo adalah kegiatan yang menyenangkan. Kami menjual biji melinjo kepada pedagang (toke) yang datang ke kampung. Dari hasil penjualan, kami mendapatkan uang jajan yang membuat kami sangat bahagia.

Kadang, biji melinjo tersebut diolah sendiri menjadi emping oleh ibu. Kami membantu memukul biji melinjo hingga menjadi pipih, lalu menjemurnya. Emping yang dihasilkan biasanya dijual dengan harga lebih tinggi dibandingkan bijinya. Kegiatan ini mengajarkan kami tentang kerja keras dan bagaimana menghargai hasil alam.

Zaman telah berubah, begitu pula kehidupan di desa. Banyak hal sederhana yang dulu membawa kebahagiaan kini tergantikan oleh kemajuan teknologi. Namun, kenangan masa kecil ini tetap abadi di hati saya. Semoga cerita-cerita ini dapat terus dikenang dan diceritakan kepada generasi berikutnya, agar mereka juga memahami betapa indahnya masa lalu.

 

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 84x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 67x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 64x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya
Monolog, “Suara Perempuan dari Lampadang”

Monolog, "Suara Perempuan dari Lampadang"

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00