Dengarkan Artikel
Oleh Gunawan Trihantoro
(Sekretaris KEAI Jawa Tengah)
Di ruang sunyi penuh buku bersusun,
Di sana ia berdiri, berkhotbah soal ilmu,
“Ilmu adalah jalan,” katanya penuh ironi,
Namun tangannya menjelma belati.
Mahasiswa duduk dengan percaya,
Mata mereka menyerap kata-kata,
Tapi siapa sangka, di balik senyum ramah,
Ada gelombang niat tersembunyi nan jahat.
-000-
Ia mengundang sepuluh jiwa muda,
“Datanglah, anak-anakku,” katanya.
“Ini bukan sekadar kuliah, ini transformasi,
Ilmu suci, warisan abadi.”
Tapi di ruang sempit yang terkunci,
Bukan ilmu yang mengalir,
Melainkan tangan kotor yang menjarah,
Kepercayaan dihancurkan dalam diam.
📚 Artikel Terkait
-000-
Mereka, satu per satu, menjadi saksi,
Korban janji manis tanpa nurani.
Tangisan mereka tersembunyi di malam,
Siang hari hanya senyum pura-pura.
“Pak, mengapa ini harus terjadi?”
Tanya salah satu dengan hati ragu.
Namun jawabnya dingin seperti batu,
“Ini bagian dari perjalananmu.”
-000-
Hukum akhirnya mengetuk pintu,
Jeruji menanti, membawa keadilan.
Tapi bisakah luka hati sembuh?
Bisakah mimpi yang patah disusun kembali?
Sementara itu, di luar sana,
Langit Mataram tetap biru,
Namun dalam hati sepuluh anak muda,
Hujan turun tanpa reda.
-000-
Ilmu bukan senjata untuk melukai,
Ilmu adalah cahaya yang murni,
Namun di tangan yang salah,
Cahaya menjadi kegelapan yang abadi.
Mari belajar dari kisah ini,
Bahwa otoritas tanpa etika adalah bencana.
Bahwa kepercayaan adalah batu mulia,
Yang hancur oleh tangan-tangan tak bertanggung jawab.
Rumah Kayu Cepu, 1 Januari 2025
Catatan Kaki:
1. Puisi esai ini adalah fiksi, terinspirasi dari kisah nyata pelecehan seksual terhadap 10 korban, mayoritas mahasiswa dan alumni. Baca selengkapnya https://www.detik.com/bali/hukum-dan-kriminal/d-7705015/seks-menyimpang-dosen-di-mataram-lecehkan-10-mahasiswa-modus-transfer-ilmu.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






