POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Dewi Sartika: Lentera Priangan yang Tak Padam

Jejak Perempuan di Palagan Nusantara (6)

Gunawan TrihantoroOleh Gunawan Trihantoro
February 3, 2025
Dewi Sartika: Lentera Priangan yang Tak Padam
🔊

Dengarkan Artikel

 

Oleh Gunawan Trihantoro
(Sekretaris Komunitas Puisi Esai Jawa Tengah)

Seorang perempuan muda menjadi salah satu kontributor untuk suatu komisi tentang perbaikan derajat perempuan pada 1912. Melalui esainya, ia mengkritik kolotnya pandangan kaum feodal Sunda terhadap perempuan. Ia juga menyinggung pentingnya pendidikan bagi perempuan. [1]
***

Di tanah Parahyangan yang sarat harmoni,
Berdiri seorang perempuan melawan arus tradisi.
Ia bukan sekadar nama di lembar sejarah,
Namun jiwa yang menyala dalam gelapnya waktu.

Dewi Sartika, sang putri dari bumi Sunda,
Tumbuh dalam bayang adat yang melilit.
Di balik senyumnya yang teduh,
Ada impian yang melangit,
Untuk kaum perempuan yang terpasung,
Dalam sunyi tanpa pengetahuan.

Ayahnya, Raden Rangga Somanagara,
Seorang priyayi dengan jiwa merdeka.
Namun rintangan datang kala tirani menguasa,
Kehilangan ayah tak memadamkan bara.
Dari ibunya, Raden Ayu Rajapermas,
Ia belajar ketangguhan wanita Priangan,
Yang memeluk kearifan namun melawan kebisuan.

Di rumah pamannya, ia menempa diri,
Bukan sekadar menjadi bunga penghias.
Namun menjadi lentera yang bercahaya,
Menggapai impian bagi mereka yang terlupa.
Ia belajar menulis, membaca, dan bicara,
Dalam bahasa ibu dan bahasa penjajah.
Baginya, ilmu adalah senjata,
Untuk memecah rantai ketidaktahuan.

-000-

Pada 16 Januari 1904,
Di bawah langit Bandung yang megah,
Berdirilah Sakola Istri, harapan bagi kaum hawa.
Bukan sekadar ruang untuk belajar,
Namun tempat bagi perempuan Priangan,
Membuka mata dan hati,
Menggenggam masa depan yang tak hanya jadi bayang.

Dewi Sartika mengajarkan kehidupan,
Bukan hanya dalam wujud aksara,
Namun bagaimana bertahan di tengah badai.
Menganyam keterampilan,
Membentuk karakter dalam etika luhur,
Menolak tunduk pada adat yang kolot.

📚 Artikel Terkait

Idul Adha sebagai Dekonstruksi Kepemilikan dan Pembangunan Loyalitas Transendental

SMAN 1 Ingin Jaya, Aceh Beşar Gelar Pameran dan Apresiasi Seni P5

Transfer Ilmu dalam Gelap

🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

“Perempuan harus berdiri sejajar,”
Ucapnya di tengah hembusan angin malam.
“Karena cahaya tak pernah memilih,
Siapa yang pantas untuk disinari.”

Namun jalan yang ia tempuh tak pernah mudah,
Cercaan datang dari adat yang terluka.
Bagaimana mungkin seorang perempuan,
Menentang garis leluhur yang sakral?

Namun Dewi Sartika tahu,
Cahaya tak bisa dipadamkan oleh bayangan.
Ia berdiri teguh, berani, dan yakin,
Bahwa masa depan harus diperjuangkan,
Meski tangan harus terluka memegang obor.

-000-

Di bawah langit Sunda yang biru,
Ada luka yang menggantung di hati.
Poligami yang diterima adat,
Bagi Dewi Sartika adalah duri.
Bagaimana mungkin cinta menjadi belenggu,
Yang membagi hati tanpa pengertian?

Namun ia tak hanya diam,
Ia lawan melalui kata dan tindakan.
“Perempuan bukan pelengkap kehidupan,”
Katanya pada mereka yang tuli.
“Namun adalah jiwa yang setara,
Dengan hak untuk bermimpi dan memilih.”

Di tengah badai patriarki,
Ia membawa payung keberanian.
Bagi Dewi Sartika,
Perempuan harus mampu berjalan,
Bukan di belakang, namun di sisi,
Menatap dunia dengan mata terbuka.

-000-

Dewi Sartika tak pernah berhenti,
Hingga akhir hayatnya di Tasikmalaya,
Ia adalah lentera yang terus menyala.
Meskipun tubuhnya terkubur dalam tanah,
Namun jiwanya hidup dalam langkah perempuan Priangan,
Yang melangkah ke depan tanpa gentar.

Kini, namanya menjadi cerita,
Dari bibir ke bibir, dari buku ke buku.
Ia adalah simbol bahwa perempuan,
Bisa menjadi penentu perubahan.
***

Rumah Kayu Cepu, 27 Januari 2025

CATATAN:
[1] Puisi esai ini diinspirasi dari kisah Dewi Sartika, pelopor pendidikan bagi perempuan di tanah Sunda, dengan mendirikan Sakola Istri pada 16 Januari 1904.
https://tirto.id/dewi-sartika-pendidik-dari-priangan-melawan-adat-kolot-poligami-cH1v

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 76x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 63x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 58x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 54x dibaca (7 hari)
Kisah Nurwani: Usia Bukan Penghalang untuk Belajar
Kisah Nurwani: Usia Bukan Penghalang untuk Belajar
9 Feb 2026 • 53x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Gunawan Trihantoro

Gunawan Trihantoro

Gunawan Trihantoro adalah seorang penulis kelahiran Purwodadi tahun 1974. Ia merupakan alumni Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) yang mulai aktif menulis sejak masa kuliahnya. Karya-karyanya telah terbit di berbagai media cetak dan online. Gunawan aktif dalam berbagai komunitas kepenulisan, termasuk Satupena, Kreator Era AI, dan Komunitas Puisi Esai Jawa Tengah. Selain itu, ia juga berkontribusi sebagai penulis buku-buku naskah umum keagamaan dan moderasi beragama di Kementerian Agama RI selama periode 2022–2024. Hingga kini, Gunawan telah menghasilkan puluhan buku, baik sebagai penulis tunggal maupun penulis bersama, yang memperkuat reputasinya sebagai salah satu penulis produktif di bidangnya.

Please login to join discussion
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026
POTRET Budaya

Memerangi Sampah, Membangun Gerakan Indonesia ASRI

Oleh Tabrani YunisFebruary 6, 2026
digital

Doom Scrolling: Perilaku Baru di Era Digital

Oleh Tabrani YunisJanuary 31, 2026
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    160 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
197
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
97
Postingan Selanjutnya
Kontribusi Umat Islam Terhadap Peradaban Dunia

Kontribusi Umat Islam Terhadap Peradaban Dunia

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00