• Latest
Saya Ingin Bekerja

Dia Hanya Ingin Saya Mengemis

Desember 3, 2024
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
ae400032-4021-4ade-8568-70d981b74d63

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Dia Hanya Ingin Saya Mengemis

Teti Omairahby Teti Omairah
Desember 3, 2024
Reading Time: 3 mins read
Tags: #Kemiskinan#pengemis
Saya Ingin Bekerja
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh TETI OMAIRAH 

Mahasiswa  Jurusan Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, Universitas Islam Negeri Ar-raniry Banda Aceh

Di balik hiruk pikuk kota Banda Aceh, tersembunyi banyak kisah pilu yang tak terungkap. Sebagai kisah pilu, tentu  bukan tentang keindahan alam atau keramahan penduduknya, melainkan tentang derita manusia yang terlupakan, terjebak dalam jerat kemiskinan dan kesulitan hidup. Siapakah mereka?

Satu di antara banyak kisah, adalah kisah di balik kehidupan para pengemis yang selama ini semakin ramai melanglang buana di setiap sudut kota Banda Aceh tercinta. Para pengemis bergerak dari satu tempat ke tempat lain, dan juga ada banyak yang hanya duduk menunggu belas kasihan orang – orang yang lalu lalang. Mereka menggelandang dengan wajah-wajah yang tampak penuh kepedihan. Wajah-wajah yang mengundang rasa empati kita. Walau sebenarnya tidak semua pengemis itu mengalami cacat tubuh, atau karena sudah tua renta, tetapi banyak di antara mereka yang masih muda dan segar bugar. Namun, mungkin jiwa mereka yang tak berdaya untuk berusaha keluar dari jurang kemiskinan. Sehingga, kehadiran mereka  menjadi cerminan nyata dari permasalahan sosial yang menghantui kota ini.

Mungkin para pembaca sering merasa jengah atau paling kurang dalam benak berkata, lelaki atau perempuan itu tidak selayaknya mengemis. Masih muda dan masih sangat kuat, tetapi mengapa harus mengemis?

Itu pulalah yang penulis saksikan. Ya, bayangkanlah seorang wanita muda, berusia 27 tahun, dengan tubuh yang masih tegap dan raut wajah yang masih segar. Ia berdiri di pinggir jalan, tangannya terulur meminta belas kasih. Ia adalah salah satu dari sekian banyak pengemis yang menghuni kota ini. Ketika ditanya mengapa ia mengemis, jawaban yang kita dapat adalah kata “terpaksa mengemis “ untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, membayar kosan, dan menabung untuk membuat kuburan anak keduanya yang telah pergi untuk selamanya.

Jadi, ternyata di balik usia yang masih muda dan tubuh yang masih begitu tegar, ada cerita pilu yang sebaiknya kita simak. Sebagai orang yang memiliki rasa empati yang tinggi, kita akan ikut hanyut dalam kisah hidupnya. Di usianya yang masih muda, bukan hanya ia saja yang harus turun mengemis.  Ia pernah membawa anak keduanya untuk mengemis bersamanya, karena penghasilan yang diperoleh lebih besar. Namun, takdir berkata lain, anak keduanya pergi meninggalkannya. Sejak saat itu, penghasilannya menurun drastis, dan ia harus menanggung beban duka yang tak terkira.

“Saya ingin bekerja, tapi suami saya tidak mengizinkan,” katanya dengan suara lirih. “Dia hanya mengizinkan saya mengemis.”

Wow! Mengenaskan. Itulah sebab ia melakukan aktivitas itu, sebagaimana ceritanya saat diajak bincang-bincang. Dengan demikian, Ia  adalah korban dari sistem yang tidak adil, di level keluarga, juga korban dari sistem yang tidak memberikan kesempatan baginya  untuk meraih kehidupan yang layak.

Kita, sebagai warga kota Banda Aceh, harus lebih peka dan bijak dalam menyikapi kehadiran mereka di ibu kota provinsi Aceh. Kita memang harus membuka mata dan hati kita terhadap realitas ini. Di satu sisi merka menjadi beban masyarakat kota, namun di sisi lain, secara sosial harus pula menyadari bahwa mereka bukanlah beban, melainkan tanggungjawab sosial sebagai manusia yang membutuhkan uluran tangan. Sebagai warga kota yang cerdas, kita harus bisa memberi jalan keluar kepada mereka. Sehingga dengan jalan keluar yang memberdayakan, bisa membantu kuta berjuang bersama untuk menciptakan kota yang lebih adil, yang memberikan kesempatan bagi semua orang untuk meraih kehidupan yang layak.

Oleh sebab itu, kita juga perlu ​meningkatkan kesadaran masyarakat tentang kemiskinan di Banda Aceh adalah masalah penting yang harus diselesaikan.  Selain itu, kita juga  perlu membuka mata dan hati kita terhadap mereka yang terlupakan, dan membangun empati melalui edukasi dan kampanye.

Dengan cara ini akan dapat mendorong hadir ya tindakan nyata untuk membantu.Selain itu, mendukung program-program pemberdayaan adalah kunci untuk meningkatkan kualitas hidup mereka. Misalnya program  pelatihan keterampilan, bantuan modal usaha, atau akses terhadap pendidikan dan kesehatan. Dengan memberikan kesempatan untuk mandiri, kita dapat membantu mereka keluar dari lingkaran kemiskinan.

Baca Juga

BENGKEL OPINI RAKyat

Maret 25, 2025
Paradoks Indonesia Dalam Pandangan Prabowo Subianto

Paradoks Indonesia Dalam Pandangan Prabowo Subianto

Maret 22, 2025
Merajut Toleransi di Tengah Keberagaman

Merajut Toleransi di Tengah Keberagaman

Maret 16, 2025

​Tentu saja, kerjasama antara pemerintah dan swasta juga sangat penting untuk membuka peluang usaha yang sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan mereka yang membutuhkan. Dengan memberikan akses pekerjaan yang layak, kita dapat membantu mereka meraih kehidupan yang lebih baik. Selain itu, kita perlu mendorong kebijakan yang adil dan merata, yang memberikan kesempatan yang sama bagi semua orang, tanpa memandang latar belakang sosial ekonomi.

 

ADVERTISEMENT

 

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 344x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 306x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 255x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 251x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 196x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
PERTARUNGAN DEMI SURGA

PERTARUNGAN DEMI SURGA

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com