• Latest
Dia Hanya Ingin Saya Mengemis - af7d7302 ba15 4859 8544 1005526d360d | Berbagi | Potret Online

Dia Hanya Ingin Saya Mengemis

Desember 3, 2024
48d7d57b-a685-47a6-bf7f-8bf53ffac0d0

Membaca Konsep Dinas Pendidikan Provinsi Aceh Membangun Budaya Literasi  di Aceh

April 19, 2026
332cedb5-e6db-41bf-947d-3c3b781b4b41

Benteng Tauhid dan Sauh Keselamatan: Menjangkar Makrifat di Dermaga Eskatologi.

April 19, 2026
file_00000000e608720b92fed92bd3c55b54

Bahaya Rekayasa Narasi Sesat yang Menimbulkan Permusuhan

April 19, 2026
file_000000007ff0720bbf683bd905ac60ed

Surat Untuk Anak Muda (2)

April 19, 2026
54306927-8436-4237-801f-5fda46d9c8c8

Dari Aceh ke Panggung Dunia: Muslim Amin, Ilmuwan Global Alumni USK

April 19, 2026
3a73ee9a-87d0-4bf2-aa52-0c77db8a9144

Pengaruh Self-Efficacy Terhadap Prestasi Akademik: Tinjauan Psikologi dan Bukti Empiris

April 19, 2026
IMG_0839

Demokrasi Di Ujung Tanduk?

April 19, 2026
d6285489-5291-4630-bb73-f4e571585b61

‎Ghost in the Cell: Bukan Sekadar Horor Fiksi, Melainkan Realitas Pahit Ketidakadilan Sistem

April 19, 2026
Senin, April 20, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Dia Hanya Ingin Saya Mengemis

Teti Omairah by Teti Omairah
Desember 3, 2024
in Berbagi, Bingkai, FEB UIN Ar-Raniry, FEBI
Reading Time: 3 mins read
0
Dia Hanya Ingin Saya Mengemis - af7d7302 ba15 4859 8544 1005526d360d | Berbagi | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS

Oleh TETI OMAIRAH 

Mahasiswa  Jurusan Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, Universitas Islam Negeri Ar-raniry Banda Aceh

Di balik hiruk pikuk kota Banda Aceh, tersembunyi banyak kisah pilu yang tak terungkap. Sebagai kisah pilu, tentu  bukan tentang keindahan alam atau keramahan penduduknya, melainkan tentang derita manusia yang terlupakan, terjebak dalam jerat kemiskinan dan kesulitan hidup. Siapakah mereka?

Satu di antara banyak kisah, adalah kisah di balik kehidupan para pengemis yang selama ini semakin ramai melanglang buana di setiap sudut kota Banda Aceh tercinta. Para pengemis bergerak dari satu tempat ke tempat lain, dan juga ada banyak yang hanya duduk menunggu belas kasihan orang – orang yang lalu lalang. Mereka menggelandang dengan wajah-wajah yang tampak penuh kepedihan. Wajah-wajah yang mengundang rasa empati kita. Walau sebenarnya tidak semua pengemis itu mengalami cacat tubuh, atau karena sudah tua renta, tetapi banyak di antara mereka yang masih muda dan segar bugar. Namun, mungkin jiwa mereka yang tak berdaya untuk berusaha keluar dari jurang kemiskinan. Sehingga, kehadiran mereka  menjadi cerminan nyata dari permasalahan sosial yang menghantui kota ini.

Mungkin para pembaca sering merasa jengah atau paling kurang dalam benak berkata, lelaki atau perempuan itu tidak selayaknya mengemis. Masih muda dan masih sangat kuat, tetapi mengapa harus mengemis?

Itu pulalah yang penulis saksikan. Ya, bayangkanlah seorang wanita muda, berusia 27 tahun, dengan tubuh yang masih tegap dan raut wajah yang masih segar. Ia berdiri di pinggir jalan, tangannya terulur meminta belas kasih. Ia adalah salah satu dari sekian banyak pengemis yang menghuni kota ini. Ketika ditanya mengapa ia mengemis, jawaban yang kita dapat adalah kata “terpaksa mengemis “ untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, membayar kosan, dan menabung untuk membuat kuburan anak keduanya yang telah pergi untuk selamanya.

Jadi, ternyata di balik usia yang masih muda dan tubuh yang masih begitu tegar, ada cerita pilu yang sebaiknya kita simak. Sebagai orang yang memiliki rasa empati yang tinggi, kita akan ikut hanyut dalam kisah hidupnya. Di usianya yang masih muda, bukan hanya ia saja yang harus turun mengemis.  Ia pernah membawa anak keduanya untuk mengemis bersamanya, karena penghasilan yang diperoleh lebih besar. Namun, takdir berkata lain, anak keduanya pergi meninggalkannya. Sejak saat itu, penghasilannya menurun drastis, dan ia harus menanggung beban duka yang tak terkira.

“Saya ingin bekerja, tapi suami saya tidak mengizinkan,” katanya dengan suara lirih. “Dia hanya mengizinkan saya mengemis.”

Wow! Mengenaskan. Itulah sebab ia melakukan aktivitas itu, sebagaimana ceritanya saat diajak bincang-bincang. Dengan demikian, Ia  adalah korban dari sistem yang tidak adil, di level keluarga, juga korban dari sistem yang tidak memberikan kesempatan baginya  untuk meraih kehidupan yang layak.

Kita, sebagai warga kota Banda Aceh, harus lebih peka dan bijak dalam menyikapi kehadiran mereka di ibu kota provinsi Aceh. Kita memang harus membuka mata dan hati kita terhadap realitas ini. Di satu sisi merka menjadi beban masyarakat kota, namun di sisi lain, secara sosial harus pula menyadari bahwa mereka bukanlah beban, melainkan tanggungjawab sosial sebagai manusia yang membutuhkan uluran tangan. Sebagai warga kota yang cerdas, kita harus bisa memberi jalan keluar kepada mereka. Sehingga dengan jalan keluar yang memberdayakan, bisa membantu kuta berjuang bersama untuk menciptakan kota yang lebih adil, yang memberikan kesempatan bagi semua orang untuk meraih kehidupan yang layak.

Oleh sebab itu, kita juga perlu ​meningkatkan kesadaran masyarakat tentang kemiskinan di Banda Aceh adalah masalah penting yang harus diselesaikan.  Selain itu, kita juga  perlu membuka mata dan hati kita terhadap mereka yang terlupakan, dan membangun empati melalui edukasi dan kampanye.

Dengan cara ini akan dapat mendorong hadir ya tindakan nyata untuk membantu.Selain itu, mendukung program-program pemberdayaan adalah kunci untuk meningkatkan kualitas hidup mereka. Misalnya program  pelatihan keterampilan, bantuan modal usaha, atau akses terhadap pendidikan dan kesehatan. Dengan memberikan kesempatan untuk mandiri, kita dapat membantu mereka keluar dari lingkaran kemiskinan.

​Tentu saja, kerjasama antara pemerintah dan swasta juga sangat penting untuk membuka peluang usaha yang sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan mereka yang membutuhkan. Dengan memberikan akses pekerjaan yang layak, kita dapat membantu mereka meraih kehidupan yang lebih baik. Selain itu, kita perlu mendorong kebijakan yang adil dan merata, yang memberikan kesempatan yang sama bagi semua orang, tanpa memandang latar belakang sosial ekonomi.

 

 

Tags: #Kemiskinan#pengemis
Share234SendTweet146Share
Teti Omairah

Teti Omairah

Next Post
Dia Hanya Ingin Saya Mengemis - 8c4014f0 c2f7 495e b9fc 1911b55f7242 | Berbagi | Potret Online

PERTARUNGAN DEMI SURGA

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com