Dengarkan Artikel
Oleh Rifqa Salma
Mahasiswa jurusan perbankan Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, UIN Ar-Raniry, Banda Aceh
Di tengah kesibukan orang -orang beraktivas di Lapangan Blang Padang, sesosok pengemis berusia sekitar 50 tahun menarik perhatian penulis. Ya, penulis seperti banyak orang lain, ingin tahu tentang sosok perempuan tua itu. Bukan hanya penulis, tetapi juga menarik perhatian banyak orang. Dengan langkah pelan dan lelah, ia berjalan di antara pengunjung yang menikmati suasana lapangan. Di tangannya, ia membawa sebuah kotak yang dibalut dengan plastik merah, yang tampak sudah usang dan penuh cerita.
Kehadirannya di lapangan ini bukan hanya sekadar untuk meminta, tetapi juga mengisahkan perjalanan hidup yang penuh liku. Setiap hari, ibu pengemis ini muncul di tempat yang sama. Dengan wajah yang dipenuhi kerutan dan mata yang tampak lelah. Ia berjalan dari satu pengunjung ke pengunjung lainnya, meminta sedikit sumbangan. Suaranya lembut dan penuh harap, meskipun sering kali hanya disambut dengan tatapan kosong atau sekadar anggukan. Ia tidak pernah mengeluh, meskipun cuaca panas atau hujan menguyur, ia tetap bertahandi lapangan, berharap ada yang mau membantunya.
Kotak yang dibawanya bukan sekadar wadah untuk uang. Bagi ibu ini, kotak tersebut adalah simbol harapan. Ia seringkali terlihat memegang kotak itu dengan penuh kasih, seolah-olah menjaga sesuatu yang sangat berharga di dalamnya.
Mungkin, di dalam kotak itu tersimpan kenangan hidupnya, atau mungkin harapan untuk masa depan yang lebih baik. Setiap kali ia membuka kotak itu, seolah-olah ia sedang membuka lembaran baru dalam hidupnya, meskipun isinya hanya beberapa lembar uang receh.
Kehidupan ibu pengemis ini tidaklah mudah. Ia menghadapi berbagai tantangan setiap harinya. Tidak hanya harus berjuang untuk mendapatkan uang, tetapi juga harus menghadapi stigma masyarakat yang sering kali memandang rendah para pengemis. Masyarakat sering kali tidak memahami latar belakang mereka, dan hanya melihat dari sisi negatif. Namun, ibu ini tetap tegar dan berusaha untuk tidak membiarkanpandangan orang lain mempengaruhi semangatnya.
Di balik senyum tipisnya, tersimpan cerita yang mungkin tidak pernah terungkap. Mungkin ia memiliki keluarga yang jauh, atau mungkin ia pernah memiliki kehidupan yang lebih baik sebelum terjebak dalam situasi ini. Setiap kali ia meminta, ada harapan dalam dirinya untuk bisa mengubah nasib. Ia berdoa agar suatu hari nanti, ada kesempatan yang datang menghampirinya, yang bisa mengubah hidupnya menjadi lebih baik.
📚 Artikel Terkait
Lapangan Blang Padang bukan hanya sekadar tempat bagi ibu pengemis ini untuk meminta. Tempat ini juga menjadi saksi bisu dari berbagai interaksi yang terjadi. Beberapa pengunjung kadang-kadang memberikan sumbangan, sementara yang lain memilih untuk tidak peduli. Namun, bagi ibu ini, setiap sen yang diterimanya adalah anugerah. Ia mengumpulkan uang tersebut untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, seperti makanan dan tempat berteduh.
Masyarakat yang melintas di lapangan sering kali terjebak dalam rutinitas sehari-hari mereka. Mereka mungkin tidak menyadari bahwa di sekitar mereka terdapat cerita-cerita kehidupan yang penuh makna. Kehadiran ibu pengemis ini seharusnya menjadi pengingat bagi kita semua untuk lebihpeka terhadap lingkungan sekitar. Dalam kesibukan kita, kita sering kali lupa untuk melihat mereka yang membutuhkan bantuan.
Ibu pengemis ini, dengan segala keterbatasannya, mengajarkan kita tentang ketahanan dan harapan. Meskipun hidupnya tidak mudah, ia tetap berjuang untuk bertahan. Iaadalah contoh nyata bahwa di balik setiap wajah, terdapatcerita yang mungkin tidak kita ketahui. Dengan memberikan sedikit perhatian dan bantuan, kita bisa membuat perbedaan dalam hidupnya.
Kehadiran ibu pengemis di Blang Padang juga menggugah kesadaran kita akan pentingnya solidaritas sosial. Dalam masyarakat yang sering kali terpecah oleh berbagai perbedaan, kita perlu mengingat bahwa kita semua adalah bagian dari satu komunitas. Dengan saling membantu dan mendukung, kita bisa menciptakan lingkungan yang lebih baik bagi semua.
Melihat sosok ibu pengemis ini, kita diingatkan untuk tidak hanya melihat dari luar, tetapi juga untuk memahami apa yang terjadi di dalam hati dan pikiran mereka. Mungkin kita tidak bisa mengubah hidup mereka secara drastis, tetapi dengan tindakan kecil, kita bisa memberikan sedikit cahaya dalam kegelapan yang mereka alami. Setiap sumbangan, sekecil apapun, adalah langkah menuju perubahan.
Akhir kata, ibu pengemis di Blang Padang adalah gambaran dari kehidupan yang penuh liku. Meskipun ia menghadapi banyak kesulitan, ia tetap berjuang dengan semangat yang tak kunjung padam. Kehadirannya seharusnya membuat kita merenung dan berusaha untuk lebih peka terhadap mereka yang terpinggirkan.
29 September 2024
Banda Aceh, Lapangan Blang Padang
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






