• Latest

Seribu Senja di Blangpidie

Juli 23, 2021
feb80617-be76-419c-9e6f-22ef823bed1a

Trump Akan Tarik Pasukan, Tanda Amerika Kalah Perang Lawan Iran

April 1, 2026
Takwa

Membumikan Nilai Takwa Pascaramadan

April 1, 2026
Romantisme Secangkir Kopi

Romantisme Secangkir Kopi 

April 1, 2026
di ujung Magrib

Di Ujung Magrib

Maret 31, 2026
85645e8f-e49d-463f-8fa4-730280ce2b71

Pentingnya Sastra dalam Sistem Pendidikan Rusia sebagai Landasan Pembentukan Karakter dan Pola Pikir

Maret 31, 2026
Seribu Senja di Blangpidie - 0e417695 171f 4238 b08b 77387e695a57 | Essay | Potret Online

Dari Geopolitik ke Dapur Rakyat: Krisis Global dan Rapuhnya Ekonomi Indonesia

Maret 31, 2026
ba05a86a-c490-46bf-9ae8-c75ef1da62eb

Nasrallah dan Jugendliteratur

Maret 31, 2026
cd371ba6-715d-447b-b94a-30123cf2d952

Pendidikan Hadapi Ancaman Nyata

Maret 31, 2026
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Esai
  • PODCAST
Rabu, April 1, 2026
  • Login
  • Register
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Seribu Senja di Blangpidie

Redaksi by Redaksi
Juli 23, 2021
in Essay, Kenangan, nostalgia
Reading Time: 4 mins read
0
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

 

Oleh Syamsuarni Setia

Di Banda Aceh

       Foto ini mengingatkan semua peristiwa tanggal 23 Juli 2013 dalam perjalanan ke Bakongan. Berangkat dari Banda Aceh usai shalat subuh, lebih kurang pukul 5.30 wib. Nyetir sendiri dengan melafadkan: “Bismillahirrahmanirrahim”. 

       Kalau tidak salah ingat sekitar pukul 08.00 tiba di Calang untuk ngopi dan sarapan pagi keluarga. Ada sekitar 1 jam di Calang dan pukul 09.00 wib meninggalkan Calang dan tiba di Meulaboh  sekitar pukul 10 WIB atau 1 jam perjalanan dari Calang. Tidak lama di Meulaboh karena tidak ada acara makan minum, kecuali hanya untuk membeli “pisang brat” atau sering disebut di Banda Aceh pisang ambon. Beda dengan di Banda Aceh, di Meulaboh pisang brat bukan barang langka karena banyak dijual. 

      Dari Meulaboh perjalanan agak santai karena rencana menginap di Blangpidie. Lebih kurang pukul 11.30 wib tiba di persimpangan tugu Cot Mane mendekati Kota Blangpidie. Disini saya berhenti sejenak dipersimpangan antara dua jalan lewat Pulau Kayu Susoh atau melalui Guhang untuk tiba di Blangpidie. 

Perasaan ingin lewat Pulau Kayu, walaupun perjalanan agak lama berhubung dengan kilometer yang panjang. Tapi, akhirnya kenangan mengalahkan keinginan, karena waktu saya sekolah SMA di Blangpidie, Guhang punya kenangan tersendiri bagi saya, walaupun kini hanya tinggal kenangan. Maka saya tetapkan hati lewat Guhang dan tiba di Blangpidie pukul 11.30 wib. 

Baca Juga

Seribu Senja di Blangpidie - 3e9b60a1 45e7 42c0 811f 85cdab43f330 | Essay | Potret Online

Konsistensi POTRET Dalam Merawat Literasi Anak Bangsa

Januari 18, 2026
Seribu Senja di Blangpidie - 9154bb9b 6587 4b8f baa1 a1aa4a22f49c | Essay | Potret Online

Mengintip Masjid Sejuta Pemuda di Sukabumi

Januari 2, 2026
Seribu Senja di Blangpidie - b4654f4d dc1c 4611 b1bc 982b3692e7d1 | Essay | Potret Online

Tahun Baru yang Sunyi di Kampung

Januari 2, 2026

      Sudah menjadi konvensi yang tidak tertulis bahwa tiba di Blangpidie harus santap mie kocok. Mie kocok Blangpidie memang ada cita rasa agak lebih bagi selera. Ibaratnya seperti kata Rustam Efendi dalam “Bunda dan Anak” melihatnya saja bisa terpercik liur di bawah lidah, membangkitkan rasa bagi selera. 

       Usai menikmati cita rasa mie kocok putih atau lebih dikenal mie tiau, entah pengaruh apa, saran keluarga membatalkan menginap di Blangpidie mengganti menginap di Tapaktuan. Jelang berangkat menuju Tapaktuan mutar muter sebentar keliling Blangpidie dan Susoh, mungkin khusus bagi saya suasana memori yang terpateri dalam amigdala dan cortex di pikiran (otak) beda dengan orang-orang yang tidak pernah lama tinggal di “Kota Breuh Sigupai” ini (Blangpidie dulu dikenal dengan breuh/beras sigupai). Bagi saya banyak membawa ingatan ke masa lalu sehingga setiap tiba di sini ada saja yang diingat. Kalau ditulis bisa menjadi satu novel dengan judul: “Seribu Senja di Blangpidie” mengadopsi judul novel “1000 Senja di Roma” karya Motinggo Boesye. Coba bayangkan 3 tahun di Blangpidie, sama dengan 1000 hari (lebih dikit/95 hari). Mungkin teman-teman ada membaca novel tersebut, tak terkecuali Bung Wahidin Wahidin dan Tabrani Yunis sebagai pencinta susastra (sastra indah) ada membacanya. 

       Hmm … !, lama mutar muter di daerah breuh sigupai ini dan lebih kurang pukul 13.00 wib saya meninggalkan Blangpidie langsung menuju Kota Tapaktuan. Meskipun masih siang hari, tapi berketetapan hati menginap di Tapaktuan dan kami pilih di Hotel Metro, meskipun ada rumah famili dan teman-teman seperti Irfanullah Nullah. 

       Pagi hari usai sarapan,  terlihat di pekarangan samping hotel ada kura-kura Metro ditunggangi pemilik, muter-muter sambil ketawa ketiwi. Asyik juga melihatnya. Saat itulah saya abadikan even dalam foto tersebut. 

       Oke … , cukup memori ini saya padai dan simpan disini yang secara kebetulan terbersit saat melihat foto ini di album.

      (Dahlia11, Bna 23 Juli 2021)

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 344x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 342x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 312x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 263x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 204x dibaca (7 hari)
ADVERTISEMENT
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare234Tweet147
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Baca Juga

feb80617-be76-419c-9e6f-22ef823bed1a
#Amerika

Trump Akan Tarik Pasukan, Tanda Amerika Kalah Perang Lawan Iran

April 1, 2026
Takwa
Artikel

Membumikan Nilai Takwa Pascaramadan

April 1, 2026
Romantisme Secangkir Kopi
Esai

Romantisme Secangkir Kopi 

April 1, 2026
di ujung Magrib
#Cerpen

Di Ujung Magrib

Maret 31, 2026
Next Post

Maradona, Italia dan Rektor

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Privacy Policy (Kebijakan Privasi)
  • Terms of Service (Syarat dan Ketentuan)
  • Penulis
  • Al-Qur’an

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com