• Latest

Bon Kontan Alat Tukar Warga di Langsa di Zaman Awal Kemerdekaan

Agustus 9, 2018
9fdb3c1c-1879-4f8c-9aa8-02113678bceb

Warisan Musik Aceh dari Gampong Padang Manggeng

April 21, 2026
Ilustrasi siluet pasangan dengan hati retak melambangkan cemburu, konflik emosional, dan hubungan yang rapuh

Cemburu Membunuh Perempuan

April 21, 2026
Bon Kontan  Alat Tukar Warga di Langsa di Zaman Awal Kemerdekaan - 1001348646_11zon | Aceh | Potret Online

Kisah Perempuan – Lubna dari Córdoba

April 21, 2026
Bon Kontan  Alat Tukar Warga di Langsa di Zaman Awal Kemerdekaan - 1001353319_11zon | Aceh | Potret Online

Fatimah al-Fihri, Pendiri Universitas Tertua

April 21, 2026
3753a9dd-0c43-46a6-9577-711a7479d4d5

Misogini Genital (Di) Kartini Digital

April 21, 2026
IMG_0878

Perempuan di Titik Klimaks

April 21, 2026
Bon Kontan  Alat Tukar Warga di Langsa di Zaman Awal Kemerdekaan - 1001361361_11zon | Aceh | Potret Online

Kisah Perempuan POTRET – Zaynab bint al-Kamal

April 21, 2026
d2a5b58f-c424-41eb-91dc-d0a057017eda

Menguak Kenangan Orkes Mekar Melati Manggeng dan Para Musisi Muda

April 21, 2026
Selasa, April 21, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Bon Kontan Alat Tukar Warga di Langsa di Zaman Awal Kemerdekaan

Redaksi by Redaksi
Agustus 9, 2018
in Aceh, Langsa, PKA 7, Sejarah
Reading Time: 4 mins read
0
585
SHARES
3.2k
VIEWS
BANDA ACEH – Kota Langsa merupakan salah satu daerah yang menjadi saksi bisu atas kolonialisme Belanda di tanah Serambi Mekkah. Letak geografis Kota Langsa yang sangat strategis, serta berbatasan langsung dengan Selat Malaka membuat Belanda menjadikan kota ini sebagai basis pemerintahan khususnya di Aceh.
Namun karena perjuangan yang hebat akhirnya Belanda bisa dikalahkan. Karena sudah diproklamirkannya kemerdekaan Indonesia, masyarakatpun menghapus uang Belanda sebagai alat tukar yang biasa digunakan dan sambil menunggu dikeluarkannya uang Republic Indonesia, penguasa saat itu menerbitkan bon kontan bernilai Rp 100 dan Rp 250 sebagai alat tukar.
Bon kontan dicetak pada 2 Januari 1949. Uang revolusi ini dicetak di Bale Juang Langsa, yang saat itu menjadi pusat perkumpulan para pejuang kemerdekaan, gedung tersebut kini menjadi gedung Museum Kota Langsa.
Bon kontan berlaku untuk seluruh daerah gubernur militer, yaitu daerah Aceh, Langkat, dan Karo, dan akan ditukar dengan uang Republik Indonesia dalam waktu sesingkat singkatnya, hal tersebut berdasarkan nota Plt Gubernur Militer daerah Aceh, Langkat dan Karo.
Bon kontan merupakan bukti sejarah, betapa besarnya peran Langsa pada masa itu dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan RI. Heroik kemerdekaan yang sangat berasa tampak jelas dalam perjuangan ekonomi masyarakat Kota Langsa. Hal tersebut dapat terlihat dengan jelas dengan terteranya kalimat : Sekali Merdeka, Tetap Merdeka pada uang tersebut.
Gedung Balee Juang merupakan bangunan peninggalan Belanda yang didirikan sekitar tahun 1920. Kini setelah Indonesia merdeka, gedung ini menjadi salah satu tempat tempat sejarah di Kota Langsa. Memiliki gaya arsitektur yang menarik khas Eropa, menjadikan daya tarik tersendiri bagi para wisatawan. Tak hanya itu, kisah sejarah yang melatar belakangi gedung ini juga menarik untuk disimak.
Sebelum dikenal sebagai Gedung Balee Juang, bangunan ini dinamai oleh Belanda Het Kantoorgebouw Der Atjehsche Handel-Maatschappij Te Langsar. Kala itu, gedung ini juga sempat digunakan sebagai kantor percetakan uang yang dikenal dengan Bon Kontan bernilai Rp. 100.
Sejarah menarik ini dapat disimak ketika berkunjung ke anjungan Kota Langsa di arena Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) ke-7.
Selain sejarah kemerdekaan Indonesia, anjungan Kota Langsa juga memamerkan aneka barang peninggalan sejarah dan benda langka lainnya.
Koordinator Anjungan Kota Langsa Sumiyati mengatakan, benda-benda bersejarah ini merupakan koleksi Museum Kota Langsa, tapi sebagiannya juga merupakan milik seorang kolektor benda bersejarah yang berasal dari Kota Langsa yakni Tgk Nur Iman.
“Diantaranya ada koleksi Al-quran tulisan tangan yang usianya sudah ratusan tahun lalu, kemudian benda-benda semasa kerajaan Aceh, dan juga ada dipamerkan fosil tulang ikan lumba-lumba yang ditemukan tahun 2013 yang lalu,” jelas Sumiyati, Kamis (9/8/2017).
Anjungan Kota Langsa juga memamerkan peti dan lemari berukir yang usianya sudah lebih dari 300 tahun lalu. 
Kepala Bidang Sejarah dan Nilai Budaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh, Irmayani mengatakan, PKA-7 tahun 2018 banyak tampilan berbeda dengan tahun –tahun sebelumnya. Untuk 2018 ini, banyak keunikan yang ditampilkan. Ini semua untuk mengingatkan kembali akan sejarah-sejarah masa lalu di Aceh.
“Silakan kunjungi anjungan-anjungan setiap kabupaten/kota, pasti ada banyak keunikan dan sejarah masa lampau,” ungkap Irmayani.
Share234SendTweet146Share
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Next Post

Meriam Portugis di Anjungan Aceh Timur

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com